PENGARUH
INFLASI DAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP IMPOR KEDELAI DI JAWA TENGAH (PERIODE
2001-2013)
Aulia
Rachmanti, Riyadi, Suharmanto
Jurusan
Administrasi Bisnis, Politeknik Negeri Semarang
ABSTRACT
Central Java is the
second largest soybean producing provinces after East Java but still have to
import the soybean. The research is intended to analyze (1) the influence of
inflation on soybean imports of Central Java, (2) the influence of rupiah
exchange rate on soybean imports of Central Java, (3) the influence of
inflation and rupiah exchange rate on soybean imports of Central Java. This
research uses multiple linear analysis, F-test for simultaneous testing and
t-test for partial testing. This research uses secondary data taken from
Statistic Bureau of Central Java. The simultaneous results by F-test shows that
inflation and rupiah exchange rate significantly influenced Central Java
Soybean Imports 2001-2013 period. While the result of t-test showed that
inflation is significant on Soybean Imports in Central Java 2001-2013 period but
rupiah exchange rate did not significantly influence on Soybean Imports in
Central Java 2001-2013 period.
Keywords: Soybean Imports, Inflation,
Rupiah Exchange Rate, Policy, and Central Java.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Jawa
Tengah merupakan Provinsi peringkat kedua penghasil kedelai terbesar setelah
Jawa Timur, dan merupakan sentra produksi kedelai di Indonesia
(Sahaya,2014:253). Kedelai (Glycine max (L.) Merill) adalah salah satu
komoditas utama kacang-kacangan yang menjadi andalan nasional karena merupakan
sumber protein nabati penting untuk diversifikasi pangan dalam mendukung
ketahanan pangan nasional (Pudjiatmoko, dalam Istarto dkk 2014:37). Kedelai
mempunyai peran dan sumbangan yang besar bagi penyediaan bahan pangan bergizi
bagi penduduk dunia, sehingga disebut sebagai “Gold from the soil” dan juga sebagai “The World’s Miracle”, karena kandungan proteinnya kaya akan asam
amino (Rukmana dan Yuniarsih, dalam Destasari, 2015:2). Pada penelitian ini
diduga inflasi dan nilai tukar rupiah mempengaruhi impor kedelai di Jawa
Tengah. Islam (2013:300) mengemukakan “Inflation
is an increase in the amount of money and credit in relation to the supply of
good and services.” Inflasi menjadi salah satu indikator makro ekonomi yang
sangat mempengaruhi aktivitas ekonomi. Inflasi yang terlalu tinggi akan
mengganggu kestabilan perekonomian dan akan menurunkan nilai mata uang yang
pada akhirnya menekan daya beli masyarakat. Sebaliknya inflasi yang terlalu
rendah merupakan indikator melemahnya daya beli masyarakat yang akan menekan
laju pertumbuhan ekonomi (Statistik Daerah Provinsi Jawa Tengah 2014). Selain
inflasi, diduga nilai tukar atau kurs turut mempengaruhi impor kedelai di Jawa
Tengah.
Dalam
transaksi perdagangan luar negeri, khususnya transaksi impor, kedua pihak
importir di satu negara dan eksportir di satu negara lainnya tentu sepakat
bahwa pembayaran harga barang dilakukan dengan menggunakan mata uang
internasional, yakni lazimnya mata uang dollar Amerika (Sasono,2013:15). Amalia
(2007:79-80) mendefinisikan “Kurs adalah perbandingan nilai atau harga antara
mata uang suatu negara dengan negara lain.” Kurs atau nilai tukar yang dimaksud
dalam penelitian ini adalah nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dollar AS.
Tujuan
Tujuan
dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.
Menganalisis pengaruh inflasi terhadap impor kedelai di Jawa Tengah.
2.
Menganalisis pengaruh nilai tukar rupiah terhadap impor kedelai di Jawa Tengah.
3.
Menganalisis pengaruh inflasi dan nilai tukar rupiah terhadap impor kedelai di
Jawa Tengah.
TELAAH PUSTAKA,
KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS
Impor
Larassati
(dalam Christianto,2013:39) menyatakan bahwa “Impor merupakan arus masuk dari
sejumlah barang dan jasa ke dalam pasar sebuah negara baik untuk keperluan
konsumsi ataupun sebagai bahan modal atau sebagai bahan baku produksi dalam
negeri.” Hamdani (dalam Destasari,2015: 3-4) menyatakan “Impor adalah membeli
barang luar negeri ke dalam peredaran Republik Indonesia dan barang yang dibeli
tersebut harus dilaporkan kepada Direktorat jendral Bea dan Cukai Departemen
Keuangan.” Limin dan Linyunun (dalam Wiguna dkk,2014:174) mengemukaan “Impor
adalah memasukan barang atau jasa yang dihasilkan dari luar suatu negara ke
negara tersebut dengan mengikuti ketentuan yang berlaku.” Definisi lain tentang
impor yaitu, kegiatan memasukkan barang ke dalam Daerah Pabean (UU No.07 Tahun
2014).
Krugman
(dalam Richart dan Meydianawati, 2014:614) menjelaskan ada beberapa
faktor-faktor yang mendorong dilakukannya impor antara lain:
a.
Keterbatasan kualitas sumber daya
manusia dan teknologi yang dimiliki untuk mengolah sumber daya alam yang
tersedia agar tercapai efektifitas dan efisiensi yang optimal dalam kegiatan
produksi dalam negeri.
b.
Adanya barang-jasa yang belum atau tidak
dapat diproduksi di dalam negeri.
c.
Adanya jumlah atau kuantitas barang di
dalam negeri yang belum mencukupi.
Inflasi
Parkin
dan Bade (dalam Islam,2013:299-300) mengemukakan “Inflation is an upward movement in the average level of prices. Its
opposite is deflation, a downward movement in the average level of prices. The
boundary between inflation and deflation is price stability.” Menurut
Rahardja dan Manurung (dalam Pertiwi,2011:15) “Inflasi merupakan kenaikan harga
barang-barang yang bersifat umum dan terus-menerus.”
Hubungan Inflasi dengan
Impor
Mengenai
konsep hubungan inflasi dengan impor Sukirno (2011:402) menyatakan “Inflasi
menyebabkan harga-harga di dalam negeri lebih mahal dari harga-harga di luar
negeri oleh sebab itu inflasi berkecenderungan menambah impor.” Yulianti dan
Hedwigs (2013) menyatakan “Inflasi akan menyebabkan menurunnya daya beli
masyarakat terhadap barang-barang produksi dalam negeri, sehingga masyarakat
cenderung mengkonsumsi barang-barang impor dengan harga pasar yang lebih
murah.”
Nilai Tukar
Menurut
Halwani dalam Pertiwi (2011:19-20) “Nilai tukar mata uang merupakan
perbandingan nilai dua mata uang yang berbeda atau dikenal dengan sebutan
kurs.” Sukirno (2011:397) menyatakan sebagai berikut kurs valuta asing atau
kurs mata uang asing menunjukkan harga atau nilai mata uang suatu negara
dinyatakan dalam nilai mata uang negara lain. Dapat juga didefinisikan sebagai
jumlah uang domestik yang dibutuhkan, yaitu banyaknya rupiah yang dibutuhkan
untuk memperoleh satu unit mata uang asing. Ada tiga sistem dasar nilai tukar
bagi negara-negara di dunia saat ini, yaitu sistem mengambang bebas (free floating), mengambang terkendali (managed floating) dan tetap (pegged) (Anindita dan Michael,2008:106).
Hubungan Nilai Tukar
dengan Impor
Pakpahan
(2012:7) mengemukakan bahwa kurs mempunyai hubungan negatif terhadap impor.
Sementara itu Odeh et al., (dalam
jurnal Indrayani dan Swara, 2014:211) menyatakan Depresiasi atau apresiasi
nilai mata uang akan mengakibatkan perubahan pada impor. Jika kurs dollar AS
mengalami depresiasi, nilai mata uang dalam negeri melemah dan berarti nilai
mata uang asing menguat kursnya (harganya) akan menyebabkan impor cenderung
menurun.
Kerangka Pemikiran
Kerangka
pemikiran teoritis digambarkan sebagaimana Gambar 1.

Hipotesis Penelitian
Dalam
penelitian ini maka hipotesis yang dapat diuraikan adalah sebagai berikut:
a.
HO1 : Tidak ada pengaruh yang
signifikan antara inflasi terhadap impor kedelai di Jawa Tengah.
b.
Ha1 : Terdapat pengaruh yang signifikan
antara inflasi terhadap impor kedelai di Jawa Tengah.
c.
HO2 : Tidak ada pengaruh yang
signifikan antara nilai tukar rupiah terhadap impor kedelai di Jawa Tengah.
d.
Ha2 : Terdapat pengaruh yang signifikan
antara nilai tukar rupiah terhadap impor kedelai di Jawa Tengah.
e.
Ho3 : Tidak ada pengaruh yang signifkan
antara inflasi dan nilai tukar rupiah terhadap impor kedelai di Jawa Tengah.
f.
Ha3 : Terdapat pengaruh yang signifkan
antara inflasi dan nilai tukar rupiah terhadap impor kedelai di Jawa Tengah.
METODE PENELITIAN
Metode Pengumpulan Data
Metode
yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah melalui studi
pustaka. Menurut Supardi (2005:62) “Studi pustaka adalah kegiatan membaca,
mencermati, mengenali, dan mengurai bahan bacaan (pustaka).” Studi pustaka
dilakukan untuk mengumpulkan data. Data yang dikumpulkan adalah data mengenai
dasar-dasar teori penelitian. Data diperoleh dari buku-buku yang berisi tentang
impor, inflasi, dan kurs. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang
diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah selama kurun waktu
2001-2013 berupa laju inflasi, kurs nilai tukar rupiah dan jumlah impor kedelai
di Jawa Tengah.
Teknik Analisis Data
Pada penelitian
ini menggunakan teknik analisis regresi linier berganda. Analisis regresi
digunakan untuk memprediksikan seberapa jauh perubahan nilai variabel dependen,
bila nilai variabel independen dimanipulasi/dirubah-rubah atau dinaik-turunkan
(Sugiyono,2010: 260). Uji kelayakan
model yang digunakan adalah uji koefisien determinasi (R2), uji F
dan uji t. Serta uji asumsi klasik yang terdiri dari uji normalitas, uji
multikolinearitas, uji autokorelasi, uji heteroskedastisitas, dan uji
linearitas.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Uji Kelayakan Model
a.
Uji Koefisien
Determinasi (R2)
Koefisien determinan dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui
besarnya prosentase (%) pengaruh variabel bebas (inflasi dan nilai tukar
rupiah) terhadap variabel terikat (impor kedelai). Pada penelitian ini
menggunakan nilai Adjusted R2 untuk
mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel
dependen.

Besarnya adjusted R2 adalah 0,358, hal
ini berarti 35.8% impor kedelai di Jawa Tengah dapat dijelaskan oleh kedua
variabel bebas (inflasi dan nilai tukar rupiah). Sedangkan sisanya (100% -
35.8% = 64.2%) dijelaskan oleh variabel-variabel lain di luar model.
b.
Uji F
Uji F merupakan
uji untuk menunjukkan apakah semua variable independen yang dimasukkan dalam
model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen
(Ghozali, 2006:88). Uji f pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
seberapa besar pengaruh variabel independen (inflasi dan nilai tukar rupiah)
terhadap variabel dependen (impor kedelai).

Nilai
signifikansi pada tabel menunjukkan angka 0.044 yang berarti 0.044 < 0.05
sehingga terdapat pengaruh yang signifkan antara inflasi dan
nilai tukar rupiah terhadap impor kedelai di Jawa Tengah. Hasil ini didukung
oleh penelitian yang dilakukan oleh Yulianti dan Hedwigis (2013) yang
menyatakan bahwa secara simultan Produk Domestik Bruto, Inflasi, dan Nilai
Tukar Rupiah terhadap Dollar (Kurs) berpengaruh signifikan terhadap nilai Impor
Beras di Indonesia.
c.
Uji t
Uji t pada dasarnya menunjukkan seberapa
jauh pengaruh variabel inflasi dan nilai tukar rupiah secara individual dalam
menerangkan variasi variabel impor kedelai.

1. Inflasi terhadap Impor Kedelai di Jawa Tengah
Nilai signifikansi variabel
inflasi 0.022 dengan α = 5% yang berarti 0.022 < 0.05 karena nilai
signifikansi < α maka, Ho ditolak yang berarti terdapat pengaruh yang
signifikan antara inflasi terhadap impor kedelai di Jawa Tengah. Hasil ini
didukung oleh penelitian yang dilakukan Richart dan Meydianawati (2014) dengan
judul “Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Impor Barang Konsumsi di
Indonesia.” Hasil uji secara parsial pada penelitian tersebut menunjukkan,
variabel inflasi berpengaruh signifikan terhadap impor barang konsumsi di
Indonesia.
2. Nilai Tukar Rupiah terhadap Impor Kedelai di Jawa
Tengah
Nilai signifikansi untuk variabel
nilai tukar rupiah atau kurs adalah 0.086 dengan α = 5% dimana 0.086 > 0.05
karena nilai signifikansi > dari nilai α maka Ho diterima yang berarti tidak
ada pengaruh yang signifikan antara nilai tukar rupiah terhadap impor kedelai
di Jawa Tengah. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Yulianti dan Hedwigis (2013) yang berjudul “The
Influence of Macroeconomics Indicators to Import Rice in Indonesia” dari
penelitian tersebut secara parsial nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika
(kurs) tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai impor beras di Indonesia.
Uji Regresi Linier Berganda

Dari hasil perhitungan, menghasilkan persamaan sebagai berikut:
Y = -234070574.495
- 19100398.641X1 + 57387.165X2
Persamaan
diatas memiliki beberapa pengertian yaitu:
1.
Angka konstanta menunjukkan negatif yang
artinya jika inflasi dan kurs rupiah nol
maka jumlah impor kedelai di Jawa Tengah mengalami penurunan sebesar
234.070.574,495 kg.
2.
Variabel inflasi (X1) mempunyai pengaruh
negatif tetapi signifikan terhadap impor kedelai di Jawa Tengah yang artinya
jika terjadi kenaikan inflasi satu persen maka, impor kedelai akan mengalami
penurunan sebesar 19.100.398,641 kg. Jika inflasi mengalami penurunan sebesar
satu persen maka, impor kedelai akan mengalami kenaikan sebesar 19.100.398,641
kg.
3.
Variabel kurs atau nilai tukar rupiah
(X2) tidak signifikan terhadap impor kedelai di Jawa Tengah yang artinya jika
terjadi kenaikan atau penurunan kurs maka impor kedelai di Jawa Tengah tidak
akan terpengaruh pada perubahan kurs tersebut.
Uji Asumsi Klasik
a. Uji Normalitas
Uji
normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel
pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Uji normalitas yang
digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melihat nilai signifikansi pada
hasil uji Shapiro-Wilk. Dengan kriteria; (1) jika nilai signifikasi
Shapiro-Wilk > 0,05, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas, (2) jika
nilai signifikasi Shapiro-Wilk < 0,05, maka model regresi tidak memenuhi
asumsi normalitas.

Besarnya
nilai signifikansi Shapiro-Wilk adalah 0,973 hal ini berarti model regresi
memenuhi asumsi normalitas karena nilai signifikasi Shapiro-Wilk lebih dari
0,05 (0,973 > 0,05).
b. Uji Multikolinearitas
Uji
Multikolineritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya
korelasi antar variabel bebas (Ghozali,2006:95). Model regresi yang baik
seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. Deteksi ada
tidaknya multikolineritas dapat dilihat dari nilai tolerance dan variance
inflation factor (VIF).

Pada
tabel terlihat bahwa nilai tolerance untuk semua variabel independent ≥ 0.10
dan nilai VIF ≤ 10. Hal ini menunjukkan bahwa inflasi dan kurs sebagai variabel
independen dalam penelitian ini tidak memiliki gejala multikolinieritas.
c. Uji Autokorelasi
Uji
autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan asumsi
klasik autokorelasi, yaitu korelasi yang terjadi antara residual pada satu
pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi (Wiyono,2011:165). Model
regresi yang baik adalah model yang bebas dari autokorelasi
(Ghozali,2006:99-100). Autokorelasi dalam penelitian ini menggunakan uji
statistik Durbin Watson.

Berdasarkan
teori Ghozali (2006:100), nilai D-W sebesar 1.601 berada diantara du dan 4-du
(dl = 0,8612 dan du = 1,5621) dapat disimpulkan bahwa tidak ada autokorelasi.
d. Uji Heteroskedastisitas
Model
regresi yang baik adalah yang homokedastisitas atau tidak terjadi
heteroskedastisitas. Deteksi adanya heteroskedastisitas dengan melihat ada
tidaknya pola tertentu pada grafik regresi (Ghozali,2006:125). Untuk mendeteksi
ada tidaknya heteroskedastisitas dengan melihat grafik scatterplot.
HASIL UJI
HETEROSKEDASTISITAS

Dari
gambar tersebut dapat dilihat bahwa titik-titik menyebar secara acak serta
tersebar baik di atas maupun dibawah angka 0 pada sumbu Y. Hal ini dapat
disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi.
e. Uji Linearitas
Uji
linearitas digunakan untuk melihat apakah spesifikasi model yang digunakan
sudah benar atau tidak. Apakah fungsi yang digunakan dalam suatu studi empiris
sebaiknya berbentuk linear, kuadrat atau kubik. Ada beberapa uji yang dapat
dilakukan. Salah satunya dengan uji Lagrange Multiplier. Uji ini bertujuan
untuk mendapatkan nilai c2 hitung atau (n x R2). Kemudian
membandingkan dengan c2 tabel. Jika c2 hitung > c2 tabel, maka hipotesis
yang menyatakan model linear ditolak (Ghozali,2006:152-155).

Hasil
tampilan output menunjukkan nilai R2 sebesar 0.465 dengan jumlah n =
13, maka besarnya nilai c2 hitung = 13 x 0.465 = 6.045. Nilai ini dibandingkan
dengan c2 tabel dengan df=10 dan tingkat signifikansi 0.05 didapat nilai c2
tabel 18,3. Oleh karena nilai c2 hitung lebih kecil dari c2 tabel maka dapat
disimpulkan bahwa model yang benar adalah model linear.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil analisis yang telah dilakukan tentang pengaruh inflasi dan nilai tukar
rupiah terhadap impor kedelai di Jawa Tengah, maka dapat diperoleh kesimpulan
sebagai berikut :
1.
Terdapat pengaruh yang signifikan antara
inflasi dan nilai tukar rupiah terhadap impor kedelai di Jawa Tengah.
2.
Secara parsial inflasi berpengaruh dan
signifikan terhadap impor kedelai di Jawa Tengah.
3.
Nilai tukar rupiah secara parsial tidak
berpengaruh signifikan terhadap impor kedelai di Jawa Tengah.
Saran
Berdasarkan hasil
analisis yang telah dilakukan tentang pengaruh inflasi dan nilai tukar rupiah
terhadap impor kedelai di Jawa Tengah maka, saran yang dapat diajukan adalah sebagai
berikut :
1.
Berdasarkan hasil penelitian secara
parsial variabel inflasi yang signifikan berpengaruh terhadap impor kedelai
Jawa Tengah maka jika pemerintah ingin menekan volume impor kedelai maka
sebaiknya pemerintah mengutamakan kebijakan yang dapat mengendalikan laju
inflasi agar tidak melambung tinggi.
2.
Disamping itu perlu juga diberikannya
insentif kepada petani kedelai dan penyuluhan tentang teknologi terkini untuk
penanaman kedelai agar menaikkan motivasi petani untuk tetap mau
menanam kedelai. Disamping itu pemerintah perlu menjaga stabilitas harga
kedelai lokal agar tidak tertekan harga kedelai impor.
DAFTAR
PUSTAKA
Amalia, Lia. 2007. Ekonomi Internasional. Edisi
Pertama. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Anindita, Ratya dan Michael R. Reed. 2008. Bisnis
dan Perdagangan Internasional. Yogyakarta: Andi Offset.
Badan Pusat Statistik Jawa Tengah. 2014. Statistik Daerah Provinsi Jawa Tengah. Semarang: Badan Pusat Statistik
Provinsi Jawa Tengah.
Christianto, Edward.
2013. Faktor yang Mempengaruhi Volume Impor Beras di Indonesia. Jurnal
JIBEKA 7(2).
Destasari, Aisyah Norma. 2015. Pengaruh Produksi
Kedelai Dalam Negeri dan Harga Kedelai Dunia Terhadap Volume Impor Kedelai di
Indonesia (Studi Terhadap Volume Impor Kedelai Tahun 1996-2013). Jurnal Administrasi Bisnis, 19(1).
Ghozali, Imam. 2006. Analisis Multivariate SPSS.
Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Indrayani, Ni Kadek Ayu & Swara, I. 2014.
Pengaruh Konsumsi, Produksi, Kurs Dollar AS dan PDB Pertanian Terhadap Impor
Bawang Putih Indonesia. E-Jurnal Ekonomi Pembangunan
Universitas Udayana, 3(5).
Islam, Md. Ariful. “Impact of Inflation on Import:
An Empirical Study”, http://www.sciencepublishinggroup.com/j/ijefm (7
Maret 2015).
Istarto, Ikhwan Joko, Indah Susilowati, & Vitus
Dwi Yunianto. 2014. Jurnal. Revitalisasi Sistem Agribisnis Dalam Rangka
Meningkatkan Produksi Kedelai (Glycine max (L.) Merill) di Kabupaten Grobogan.
Agromedia, 32(2).
Pakpahan, Asima Ronitua Samosir. 2012. Analisis
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Impor Daging Sapi di Indonesia. EDAJ 1(2).
Pertiwi, Putri Cahya. 2011. Tugas Akhir. Analisis
Pengaruh Inflasi, Kurs, dan Produk Domestik Bruto (PDB) Terhadap Nilai Ekspor
Indonesia Periode 2002-2010. Semarang: Politeknik Negeri Semarang.
Richart, Putu Suryandanu Willyan & Luh Gede
Meydianawati. 2014. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap impor barang
konsumsi di Indonesia. E-Jurnal Ekonomi Pembangunan
Universitas Udayana, 3(12).
Sahaya, Hardiansyah Nur. 2014. Pengembangan
Usahatani Kedelai di Kabupaten Grobogan Sebagai Upaya Mewujudkan Ketahanan
Pangan Nasional. Economics Development Analysis Journal, 3(2).
Saputa, I Kadek Eka & Swara, I Wayan Yogi. 2014.
Pengaruh Produksi, Konsumsi, Harga Eceran, Inflasi Dan Kurs Dollar As Terhadap
Impor Gula Indonesia. E-Jurnal Ekonomi Pembangunan
Universitas Udayana, 3(8).
Sasono, Herman Budi. 2013. Manajemen Impor dan
Importasi Indonesia. Yogyakarta: Andi Offset.
Sugiyono. 2010. Statistika Untuk Penelitian.
Bandung: CV ALFABETA.
Sukirno, Sadono. 2011. Makroekonomi Teori Pengantar.
Edisi Ketiga. Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA.
Supardi. 2005. Metodologi Penelitian Ekonomi dan
Bisnis. Cetakan Pertama. Yogyakarta: UII Press.
UU No. 7 Tahun 2014 http://www.hukumonline.com/pusatdata/downloadfile
(8 Juli 2015).
Wiguna,
Wira Satrya, Ida Bagus, dan Anak Agung Suresmiathi D. 2014. Pengaruh Devisa, Kurs Dollar AS, PDB dan
Inflasi Terhadap Impor Mesin Kompressor dari China. E-Jurnal Ekonomi
Pembangunan Universitas Udayana, 3(5).
Wiyono, Gendro. 2011.
Merancang Penelitian Bisnis dengan Alat Analisis SPSS 17.0 & SmartPLS 2.0.
Edisi Pertama. Cetakan Pertama. Yogyakarta: STIM YKPN.
Yulianti, Desyana
& Hedwigis E. R. 2013. Journal. The Influence of Macroeconomics Indicators to Import Rice in Indonesia.
Sustainable Competitive Advantage (SCA), 2(1).