Jumat, 23 Oktober 2015

PENGARUH NILAI EKSPOR DAN NILAI TUKAR MATA UANG RUPIAH (KURS) TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI JAWA TENGAH


PENGARUH NILAI EKSPOR DAN NILAI TUKAR MATA UANG RUPIAH (KURS) TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI JAWA TENGAH

Liris Chrismadana, Sugiyanta, Achmad Zaenuddin
Jurusan Administrasi Bisnis, Politeknik Negeri Semarang

ABSTRACT
The research aims at knowing how influence of exports value and the Indonesian rupiah exchange rate to the economic growth in Central Java. This research uses multiple linear regression analysis with annual data year 1984-2013 and uses secondary data from government institution in Central Java. The data collect used a literature review. Partially, the independent variable of the export value give a significant effect on economic growth in Central Java. Partial regression test (t test) showed that H0 accepted and Ha rejected contained in the export value variable (X1). While the variable currency exchange rates also has a significant impact on economic growth in Central Java. Partial regression test (t test) showed that H0 accepted and Ha rejected contained in the export value variable (X2) but the exchange rate have influence negatif to the economic growth in Central Java. Simultaneously, the two independent variables significantly influence the economic growth in the province of Central Java.For the coefficient of determination value R Square (R2) of 0.634, which means 63.4% economic growth in Central Java Province can be explained by two Independent variables export and currency exchange rate While the remaining 36.6% is explained by other causes.

Keyword : Exchange Rate, Export, Central Java, Economic Growth


PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan adalah merupakan syarat terpenting bagi proses pembangunan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan sebagai proses perubahan kondisi perekonomian suatu negara secara berkesinambungan menuju keadaan yang lebih baik selama periode tertentu. Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan juga sebagai proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional. Pertumbuhan ekonomi atau Pendapatan Daerah suatu kota di tentukan oleh berbagai macam faktor, diantaranya adalah sumber daya manusia, sumber daya alam, faktor ilmu pengetahuan dan teknologi, faktor budaya serta sumber daya modal. Pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari pertumbuhan angka PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) saat ini PDRB dihitung berdasarkan dua pendekatan, yaitu dari sisi sektoral/lapangan usaha dan dari sisi penggunaan. Selanjutnya PDRB juga dihitung berdasarkan harga berlaku dan harga konstan. Total PDRB menunjukkan jumlah seluruh nilai tambah yang dihasilkan oleh penduduk dalam periode tertentu. (berita Resmi Statistik No. 29/TH.V/19/Agustus/2003.
Beberapa indikator ekonomi makro yang mendukung terjadinya perlambatan pertumbuhan adalah nilai tukar rupiah dan laju inflasi. Nilai tukar rupiah terhadap USD dari tahun ketahun semakin tinggi, sehingga berdampak pada tingginya laju inflasi.
Sehubungan dengan hal tersebut maka pada penelitian ini diberi judul “PENGARUH NILAI EKSPOR DAN NILAI TUKAR RUPIAH (KURS) TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI JAWA TENGAH (PERIODE 1984-2013)”

TINJAUAN PUSTAKA
Manfaat Perdangan Internasional
Manfaat perdagangan internasional dapat dilihat dari berberapa prepestif (Ruigrok & Wagner,2003).
Pertama, dari sudut pandang Foreiggn Direct Investmen (FDI), perdagangan internasional memberikan peluang terhadap para pengusaha dalam memanfaatkan market imperfection pada pasar produk, faktor dan finansial. Manfaat lainnya yang dikemukakan pakar bisnis international dan industrial organization economic adalah tercapainya skala dan lingkup ekonomis.
Kedua, dari sisi pandang financial economics, diversifikasi portofolio bisa tercapai, sehingga dapat menguntungkan kinerja risk-return pada perusahaan yang melakukan perdagangan internasional.
Ketiga, menurut teori Multinational Corporation (MNC), perdagangan internasional memberikan keuntungan bagi perusahaan MNC untuk melakukan transfer sumber daya internasional dan melakukan intergrasi terhadap struktur, sistem, dan proses perusahaan dengan kompetensi spesifik yang tidak tersedia bagi perusahaan yang beroprasi secara domestik.
Keempat, berdasarkan teori Resource-Based View, perdagangan internasional mempercepat pembelajaran organisasi dan knowladge development melalui pemanfaatan sumber daya dan kompetensi inti dalam skala global.

Hambatan Perdagangan Internasional
Dalam bisnis global sekarang ini banyak sekali hambatan-hambatan yang terjadi seperti hambatan tarif, non-tarif, kuota dan lain sebagainya. Pada dasarnya ada dua tipe hambatan yaitu hambatan tarif dan non tarif.

Ekspor
Ekspor adalah proses transportasi barang atau komoditas dari suatu negara ke negara lain. (id.m.wikipedia.org/08/04.2015.10.30 ). “Ekspor adalah kegiatan penjualan atau pengiriman barang, jasa, atau modal yang berasal dari daerah pabean keluar dari daerah pabean melalui perjanjian atau tidak, yang dilakukan oleh orang, badan hukum atau negara, sesuai dengan peraturan yang berlaku. ( Ali Purwito dan Indriani, 2015: 7)”
Nilai Tukar Rupiah (Kurs)
Menurut Triyono (2008), kurs (exchange rate) adalah pertukaran antara dua mata uang yang berbeda, yaitu merupakan perbandingan nilai atau harga antara kedua mata uang tersebut.”
(R.Saravanan:2013) : The exchange rate is the rate at which one currency purchases other currency. In other words it is the purchasing power of one currency in terms of another currency. It is also the external value of one currency. The rise in exchange rate against another currency is called as appreciation and the fall is called as depreciation. The appreciation of exchange rate has negative impact on the exports as it erodes the profitability of the exporter. Not only the appreciation but also the fluctuating exchange has impact on the export business decisions.
Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah. (Sadono Sukirno, 2012: 9)
Kerangka Pemikiran Teoritis

Ada 2 (dua) variabel yang akan digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi yaitu ekspor (export), Nilai tukar rupiah (kurs). Kerangka pemikiran teoritis dalam mengukur pertumbuhan ekonomi pada penelitian ini terdapat pada gambar 1

Kerangka Pemikiran Teoritis
Gambar 1


Kerangka pemikiran teoritis pada gambar 1 menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dijelaskan melalui 3 (tiga) variabel yaitu ekspor (export) dan nilai tukar rupiah (kurs).

Hipotesis Penelitian
Adapun Hipotesis dalam penelitian ini :
1. Variabel Ekspor (X1)
Ho : Diduga Kegiatan Ekspor berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah periode 1984-2013
Ha : Diduga Kegiatan Ekspor tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah periode 1984-2013

2. Variabel Nilai Tukar Rupiah (X2)
Ho : Diduga Nilai Tukar Rupiah terhadap dollar berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah periode 1894 – 2013
Ha : Diduga Nilai Tukar Rupiah terhadap dollar tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah periode 1984 - 2013

3. Variabel Ekspor dan Nilai Tukar Rupiah
Ho : Diduga Kegiatan Ekspor dan Nilai Tukar Rupiah terhadap dollar berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah periode 1984-2013
Ha : Diduga Kegiatan Ekspor dan Nilai Tukar Rupiah terhadap dollar tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah periode 1984-2013.

METODE PENELITIAN
Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga objek dan benda-benda alam yang lain (Sugiyono, 2012: 90). Populasi dalam penelitian ini adalah jumlah keseluruhan nilai ekspor dan impor di Provinsi Jawa Tengah yang akan dinilai tingkat kesejahteraanya selama kurun waktu 30 (tiga puluh) tahun dari tahun 1984-2013.

Sampel
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berupa data bulanan ekspor dan nilai tukar rupiah (kurs) periode 1984-2013. Sampel ekspor yang diteliti adalah seluruh jumlah kegiatan ekspor yang terjadi di Jawa Tengah dalam periode tahun 1984-2013 (tiga puluh tahun). Sampel nilai tukar rupiah (kurs) yang diteliti adalah berubahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar yang terjadi di Jawa Tengah selama 30 tahun dari tahun 1984 – 2013)

Data Penelitian
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data Kuantitatif yaitu data statistik berbentuk angka baik yang secara langsung dari hasil penelitian maupun hasil pengolahan data kualitatif (Wiyono, 2011: 128). Data kuantitafif dalam penelitian ini adalah jumlah ekspor dan impor yang terjadi selama kurun waktu 30 (tiga puluh) tahun dimulai dari tahun 1984-2013 di Jawa Tengah. Data yang digunakan selain data kuantitafif, penelitian ini menggunakan data sekunder yang berupa data time series dengan periode pengamatan 30 (tiga puluh) tahun. Data yang digunakan antara lain sebagai berikut:
1.        Jumlah ekspor yang terjadi dari tahun 1984-2013 di Provinsi Jawa Tengah.
2.        Perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar (kurs) yang terjadi dari tahun 1984-2013 di Provinsi Jawa Tengah.
3.        PDRB atas dasar harga konstan.

Metode Pengumpulan Data
Metode dalam pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah ini berhubungan dengan masalah yang akan dibahas menggunakan metode dokumentasi yaitu pengumpulan data dilakukan dengan kategori dan klasifikasi data-data yang tertulis berdasarkan dari berbagai macam sumber seperti buku-buku, artikel, dan lain-lain. Jenis Data Menurut Sifatnya
Menurut Suprianto (2001:25) jenis data menurut sifatnya dibagi menjadi :
1.        Data Kuantitatif, merupakan data yang berbentuk angka, seperti keterangan tentang jumlah, rata-rata, presentase dan rasio
2.        Data Kualitatif adalah data yang tidak berbentuk angka.

Jenis Data Menurut Dimensi Waktu
Menurut Kuncoro (2001:24) berdasarkan dimensi waktunya data dibagi menjadi tiga yaitu :
1.        Data Runtut Waktu (time-series)
Data runtut waktu merupakan data yang secara kronologis disusun menurut waktu pada suatu variabel tertentu.
2.        Data Silang Tempat (Cross-section)
Data silang tempat merupakan data yang dikumpulkan pada suatu titik waktu.
3.        Data Polling
Data Polling merupakan kombinasi antara data runtut waktu dan silang tempat.

Jenis Data Menurut Cara Memperolehnya
Menurut Mustafa (2009:92) jenis data menurut cara memperolehnya dibagi menjadi :
1.        Data Primer
Data Primer merupakan data yang diperoleh berdasarkan pengukuran secara langsung oleh peneliti dari sumbernya (sumber penelitiannya).
2.        Data Sekunder
Data Sekunder adalah data yang telah dikumpulkan oleh pihak lain dan telah terdokumentasi, sehingga peneliti tinggal menyalin data tersebut untuk kepentingan penelitiannya. Pada penelitian ini menggunakan pengumpulan data sekunder dengan penelusuran literatur di Perpustakaan Pusat Politeknik Negeri Semarang, perpustakaan Badan Pusat Statistik Jawa Tengah dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah.

Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel
a. Variabel Independen

Yaitu variabel yang mempengaruhi variabel lainnya, kaitannya dengan masalah yang diteliti adalah Ekspor dan Nilai Tukar Mata Uang (Kurs).
b. Variabel Dependen
Yaitu variabel yang dipengaruhi oleh variabel lainnya, kaitan dengan masalah yang diteliti maka yang menjadi variabel terkait adalah Pertumbuhan Ekonomi di Jawa Tengah.

Definisi Operasional Variabel
1. Ekspor adalah kegiatan penjualan atau pengiriman barang, jasa, atau modal yang berasal dari daerah pabean keluar dari daerah pabean melalui perjanjian atau tidak, yang dilakukan oleh orang, badan hukum
atau negara, sesuai dengan peraturan yang berlaku.
2. Nilai Tukar Rupiah (Kurs) adalah sebuah perjanjian yang dikenal sebagai nilai tukar mata uang terhadap pembayaran saat ini atau di kemudian hari, antara dua mata uang masing – masing negara atau wilayah.
3. Pertumbuhan Ekonomi (PDRB) adalah perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah.

Model Regresi / Analisis Data
Untuk menguji variabel bebas (independent variabel) dengan variabel terikat (dependent variabel) penguji menggunakan teknik analisis statistik regresi linier berganda dengan bantuan SPSS 16.0. Pengujian regresi linier berganda ini menggunakan data time series dengan persamaan matematik sebagai berikut :
Y = a + b1X1 + b2X2 + e
Dimana:
Y : Nilai dari Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah
a : Konstanta
b1,b2 : Koefisien regresi parsial
X1 : Nilai Ekspor
X2 : Nilai tukar rupiah (kurs)
e : error
Model ini dibentuk untuk melihat pengaruh secara parsial maupun simultan variabel ekspor dan Nilai tukar Rupiah terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Jawa Tengah.
Model persamaan yang diperoleh dari pengolahan data diharapkan tidak terjadi multikolinieritas, heterokodastisitas dan autokorelasi. Untuk mengetahui ada atau tidaknya gejala-gejala tersebut akan dilakukan terlebih dahulu dengan uji asumsi klasik.

HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Statistik Deskriptif
Menurut Gozali (2006: 19) statistik deskriptif memberikan gambaran atau diskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian, maksimum, minimum, sum, range kurtosis dan skewness (kemencengan distribusi).
Dari hasik pengolahan data menggunakan SPSS 16.0 dapat dilihat pada tabel 8
Berdasarkan tabel 8 diatas, dapat dilihat bahwa nilai pada variabel PDRB memiliki rata-rata sebesar 145.000.000 US $ dengan nilai PDRB tertinggi 827.000.000 US $ yang terjadi pada tahun 2011 dan terendah sebesar 8.232.169 yang terjadi pada tahun 1984 US $. Variabel ekspor memiliki nilai terendah pada tahun 1984 dengan nilai sebesar 7.300.191 US $, sedangkan nilai ekspor tertinggi terjadi pada tahun 2013 dengan ttal nilai sebesar 532.660.000 US $. Dan mempunyai nilai rata-rata sebesar 186.853.170 US $.
Untuk variabel Kurs memiliki nilai terendah pada tahun 1984 sebesar Rp 909,00. Nilai kurs tertinggi terjadi pada tahun 2013 dengan nilai sebesar Rp 12.055,00. Nilai kurs memiliki rata-rata sebesar Rp 6.206,00.

2. Uji Normalitas Data
Uji normalitas ini memiliki tujuan untuk mengetahui normal atau tidaknya data yang diuji. Uji normalitas sangat penting karena merupakan salah satu syarat pengujian parametric test, yaitu data harus berdistribusi normal. Cara menguji uji normalitas dengan menggunakan program pengolahan data (SPSS), nilai signifikan dapat keluar secara otomatis.
Pada uji normalitas kali ini menggunakan uji Zskewness dan Zkurtosis. Data yang diperoleh dari hasil olah SPPS sebagai berikut :

Dengan menggunakan perhitungan Skewness dan Kurtosis maka mendapatkan hasil sebagai berikut :
Zskewness =
Zkurtosis =

3. Uji Multikolonieritas
Dalam model regresi, untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolonieritas dapat dilihat dari nilai tolerance atau variance inflation factor ( VIF). Jika nilai VIF kurang dari 10 dan lebih dari 0.1 maka model regresi bebas multikolonieritas. Dan sebaliknya jika nilai VIF lebih dari 10 maka model regresi mengandung multikolonieritas. Berikut hasil output pengujian multikolonieritas dengan bantuan aplikasi SPSS 16.0
Dari tabel diatas menunjukkan bahwa nilai tolerance semua variabel independent yaitu ekspor dan kurs mempunyai angka lebih besar dari 0.1 dan angka VIF kurang dari 10. Hal ini menunjukkan bahwa semua variabel independent dalam penelitian ini tidak memiliki gejala multikolonieritas dengan variabel lainnya sehingga model regreasi ini layak digunakan.

4. Uji Autokorelasi
Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (periode sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Masalah ini timbul karena residual (kesalahan pengganggu) tidak bebas dari observasi satu ke observasi lainnya. Hal ini biasanya terjadi pada data time series. Karena model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Salah satu cara yang digunakan untuk mendeteksi autokorelasi adalah dengan uji Durbin-Watson. Hasil uji Durbin-watson dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Berdasarkan teori Sunyoto (2011:91), nilai D-W sebesar 1.032 berada diantara -2 dan +2. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam uji ini tidak terdapat atau terjadi autokorelasi dan model regresi, sehingga pengujian ini layak untuk digunakan.

5. Uji Heterokedastisitas
Uji heterokedastisitas memiliki tujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual suatu pengamatan dengan pengamatan yang lain. Jika variance dari suatu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut Homokedastisitas dan jika pengamatan tersebut berbeda maka disebut dengan Heterokedastisitas.
Terlihat pada gambar diatas bahwa titik-titik menyebar secara acak tidak membentuk pola tertentu, serta tersebar baik diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y. Jadi kesimpulan pada uji ini adalah tidak ditemukannya heterokedastisitas, sehingga model regresi ini layak untuk dipakai.

6. Analisis Regresi
Analisis regresi ini digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh antara variabel independen nilai ekspor dan nilai tukar rupiah terhadap variabel dependent pertumbuhan daerah rasional bruto (PDRB) di provinsi Jawa Tengah.
Koefesien determinasi (R2) pada penelitian ini digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel terkait. Nilai koefisien determinasi adalah diantara 0 dan 1. Nilai R2 yang kecil berati kemampuan variabel – variabel independent dalam menjelaskan variasi veriabel dependent terbatas. Besar nya R2 dapat dilihat pada tabel berikut.
Berdasarkan tabel 12 menunjukkan bahwa keeratan hubungan antara variabel adalah kuat, hal ini dapat diketahui dari nilai R yaitu 0,796 yang berada diantara 0.60 < r < 0.80. Sedangkan besarnya adjusted R2 0,634. Hal ini berarti 63.4 % variasi variabel dependent PDRB dapat dijelaskan oleh variasi kedua variabel independent ekspor dan kurs. Sedangkan sisanya (100% - 63.4% = 36.6%) dijelaskan oleh variabel lain diluar model.
Pengujian hipotesis secara simultan dilakukan dengan menggunakan uji statistik F. Pengujian ini dilakukan untuk menunjukkan apakah semua variabel independent yang terdiri atas nilai ekspor Jawa Tengah dan kurs rupiah terhadap dollar yang dimasukan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependent (terikat) yaitu PDRB Jawa Tengah. Hasil pengujian pengaruh variabel independent nilai ekspor Jawa Tengah dan Kurs rupiah terhadap dollar secara simultan dapat dilihat pada tabel 12.
Berdasarkan perhitungan dengan uji F pada tabel 13 diperoleh tingkat signifikansi 0,000 < 0,05 berarti terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan antara variabel nilai ekspor dan kurs terhadap PDRB Jawa Tengah selama tahun 1984-2013. Dan dapat disimpulkan hipotesis
Ho : Diduga Kegiatan Ekspor dan Nilai Tukar Rupiah terhadap dollar berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah periode 1984-2013.
Ha : Diduga Kegiatan Ekspor dan Nilai Tukar Rupiah terhadap dollar tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah periode 1984-2013.
Jadi hipotesis dapat diterima dan layak untuk digunakan.
Pengujian hipotesis secara parsial dilakukan dengan menggunakan uji statistik t melalui SPSS 16.0. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui apakah nilai ekspor dan nilai tukar rupiah terhadap dollar secara individual mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap PDRB Jawa Tengah. Hasil pengujian pengaruh variabel independent ekspor dan nilai tukar rupiah terhadap PDRB Jawa Tengah dapat dilihat pada tabel 14.
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa konstanta mempunyai nilai signifikansi sebesar 0.000 < 0.05. Variabel nilai ekspor secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap PDRB di Jawa Tengah, karena nilai signifikansi nya kurang dari 5%. Dan variabel nilai tukar rupiah juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap PDRB di Jawa Tengah. Sehingga dapat disimpulkan hipotesis ini dapat diterima dan layak untuk digunakan.
Berdasarkan tabel diatas diperoleh persamaan regresi linear berganda sebagai berikut :
KESIMPULAN
1.             Berdasarkan analisis pengaruh nilai ekspor di Jawa Tengah, diketahui bahwa nilai Ekspor terjadi peningkatan setiap tahunnya selama periode 1984-2013. Pada tahun 2013 nilai Ekspor di Provinsi Jawa Tengah mencapai nilai tertinggi yaitu sebesar 532.660.000 US $ dan mengalami kenaikan 0,86 % dari tahun sebelumnya.
3.             Berdasarkan analisis pengaruh nilai tukar mata uang (kurs) rupiah terhadap dollar di Provinsi Jawa Tengah, diketahui bahwa Nilai tukar mata uang selalu mengalami kenaikan yang cukup tinggi hingga mencapai Rp12.055,- per 1 US $. Nilai tukar rupiah pada tahun 2009 sempat mengalami penurunan menjadi Rp 8.991,- per 1 US $ dari tahun sebelumnya yaitu Rp 9.400,- per US $. Namun pada tahun 2010 nilai tukar rupiah mengalami kenaikan menjadi Rp 9.068,- per 1 US $.
4.             Berdasarkan analisis perkembangan pertumbuhan perekonomian di Jawa Tengah, diketahui bahwa pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada periode 1984 – 2013 mengalami kenaikan disetiap tahunnya. Hal ini terjadi karena meningkatnya nilai ekspor. Sehingga hasil ini sama dengan hasil SPSS yang menyatakan bahwa peningkatan nilai eskpor akan merubah pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah. Sedangkan peningkatan nilai tukar mata uang akan membuat perekonomian menurun atau berdampak negatif.
5.             Hasil dari uji hipotesis dapat disimpulkan bahwa pengaruh espor dan nilai tukar mata uang terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah sebagai berikut :
1)        Secara parsial variabel independent yaitu ekspor berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah. Dan variabel nilai tukar mata uang juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah.
2)        Secara simultan atau bersama – sama kedua variabel independent berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Tengah.


DAFTAR PUSTAKA
Kuncoro, Mudrajat.1997.Ekonomi Pembangunan Teori, Masalah, dan Kebijakan.Yogyakarta.Unit Penerbit Percetakan (UPP) AMP YKPN
R.Saravanan.2013. Jurnal. Factors Affecting the Export Performance of textile industry in developing countries ISSN: 2319-2828 Vol. 2. No.4.India : IRACST ....International Journal of Commerce, Business and Management (UCBM)
Ruigrok, W. & H. Wagner (2003), “Internationalization and performance: An organizational learning perspective”, Management International Review, First Quater, Vol. 43, No. 1, pp. 63-68
Sukirno, Sadono. 2013. Makroekonomi Teori Pengantar. Jakarta: PT.Raja Grafindo

ANALISIS PENGARUH PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD), INVESTASI, DAN ANGKATAN KERJA TERHADAP PDRB PROVINSI JAWA TENGAH (PERIODE 1984-2013)


ANALISIS PENGARUH PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD), INVESTASI, DAN ANGKATAN KERJA TERHADAP PDRB PROVINSI JAWA TENGAH (PERIODE 1984-2013)

Rio Dwi Putranto, Putut Haribowo, Nur Rini
Jurusan Administrasi Bisnis, Politeknik Negeri Semarang

ABSTRACT
GDRP (Gross Domestic Regional Product) is the total value added generated by all bussines units of local region or the entire amount of the value of final goods and services at one period. GDRP can describe the economic growth of a local region. The high level of economic growth showed that the local area were progresife at the economic conditions.This research analyzed the impact of locally generated revenue, investment, and labor force to GDRP (Gross Domestic Regional Product) of Central Java. This research used secondary data which were taken from some government institutions in Central Java. This research used multiple regression analysis. The data were analysed with T-test for partial testing and  F-test for simultaneously testing. The result showed that thelocally generated revenue, investment, and labor force simultaneously affected GDRP of Central Java with significant value of  0.00<0.05 and coefficient of determination (Adjusted R2) of 0.702, which means that the locally generated revenue, investment, and labor force contribution amounting to 70.2% and 29.8% was explained by other variables. It was also found that the locally generated revenue had a positive and not significant impact to GDRP of Central Java with coefficient value of 0.744. Iinvestment and labor force variable had positive and significant impact to GDRP of Central Java with the coefficient value of 4.423 and 4.203 respectively.
Keywords: GDRP, locally generated revenue, investment, labor force


PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pembangunan ekonomi dipandang sebagai suatu proses yang mencakup berbagai macam perubahan yang mendasar seperti struktur sosial, sikap dan perilaku masyarakat serta kinerja dari instansi-instansi pemerintah. Pembangunan dirasa sangat penting bagi kelangsungan suatu bangsa dan merupakan suatu tujuan bagi masyarakat itu sendiri, pembangunan tidak lepas dari faktor kemajuan teknologi dan pada akhirnya pembangunan menuntut kita untuk melihat lebih dalam hal hal yang mempengaruhi pembangunan.
Pertumbuhanperekonomiansuatudaerahdapatdilihatpadatingkatpertumbuhanproduk domestic regional bruto(PDRB).Secara garis besar PDRB adalah jumlah dari semua barang dan jasa atau semua nilai tambah yang dihasilkan suatu daerah dalam periode waktu tertentu (1 tahun).
Peningkatan PAD diharapkan dapat menjadi semangat dalam meningkatkan dan menjadi pendorong yang kuat bagi daerah dalam melaksanakan otonomi daerah.
Pengoptimalan pendapatan asli daerah sebaiknya didukung dengan usaha pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik.Sehingga dapat terjadi kesinambungan antara pelayanan dan hasil yang didapat oleh pemerintah daerah.
PAD sebagai sumber utama penghasilan daerah, PAD terbagi menjadi tiga kategori, yaitu pajak daerah, denda dan pungutan serta penghasilan perusahaan daerah
Untuk terus menggerakkan roda pembangunan daerah, pihak pemerintah dituntut untuk bisa bekerja sama dengan pihak-pihak lain termasuk penanam modal dalam negeri dan penanam modal asing.
Menurut Prof. H. Haming dan Prof. Dr. H. Basmalah (2010:5) investasi dapat diartikan, keputusan mengeluarkan sejumlah dana di masa sekarang yang bertujuan untuk membeli sejumlah aktiva riil atau aktiva keuangan dengan harapan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar di masa mendatang. “Pengertian sederhana dari investasi adalah penanaman suatu bentuk dana atau uang dengan harapan dapat memperoleh tambahan atau keuntungan atas uang atau dana tersebut”






Tabel 1
REALISASI INVESTASI JAWA TENGAH
Tahun
Jumlah
(juta rupiah)
2013
Rp988.124
2012
Rp1.677.031
2011
Rp801.057
2010
Rp3.619.242
2009
Rp2.677.248

Pada tahun 2013 realisasi investasi Jawa Tengah sebesar Rp988.124 juta, nilai tersebut mengalami penurunan dibanding tahun 2012 yang mencapai Rp1.667.031 juta dan jika dicermati, kondisi perkembangan realisasi investasi selalu mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Perkembangan realisasi investasi erat kaitannya dengan kondisi perekonomian yang ada, oleh sebab itu sektor investasi juga memiliki peranan penting dalam meningkatkan sektor perekonomian dengan harapan semakin tinggi investasi yang masuk, semakin tinggi pula lapangan pekerjaan yang akan tercipta dan akan menggerakkan roda perekonomian disetiap sektornya.
Sumber daya manusia yang aktif dan kompetitif menjadi ujung tombak dari pembangunan daerah, hal ini dikarenakan sumber daya manusia mengelola dan mengendalikan serta mengembangkan setiap aspek sumber daya alam dan keuangan yang ada.Manusia memegang peranan penting sebagai penggerak dalam roda perekonomian dengan kemampuan yang ditunjang pengetahuan serta teknologi yang canggih dengan demikian dapat menjadikan pembangunan daerah berkelanjutan dan mandiri di setiap daerah di Indonesia. Dalam hal ini peran pemerintah dalam mencetak tenaga kerja yang terampil dan berkualitas dirasa wajib dilakukan karena di era globalisasi ini sudah banyak tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia, hal ini dikhawatirkan akan menimbulkan dampak yang signifikan bagi masyarakat seperti mulai meningkatnya pengangguran yang disebabkan dominasi tenaga kerja asing.Mengingat saat era krisis moneter terdapat banyak sekali pemutusan hubungan kerja oleh sektor industri yang mengakibatkan tingginya tingkat pengangguran di masyarakat dirasa sangat mempengaruhi kesejahteraan masyarakat.Jika tingkat pengangguran tinggi dan harga pokok bahan makanan semakin naik hal ini dirasa sangat memberatkan rakyat.
Pada era globalisasi sekarang ini pemerintah mengeluarkan UU No.25 Tahun 2007 undang-undang penanaman modal pasal 10 ayat 1 yang berisi, perusahaan penanaman modal dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja harus mengutamakan tenaga kerja warga Negara Indonesia. Guna mendukung pelaksanaan undang-undang tersebut pemerintah juga harus menyiapkan SDM yang berkualitas disamping terpenuhinya kuantitas permintaan tenaga kerja. Tenaga kerja yang terampil merupakan potensi sumber daya manusia yang sangat dibutuhkan dalam proses pembangunan ekonomi.
Dalam hal ini pendapatan asli daerah (PAD), Investasi baik PMA dan PMDN serta jumlah angkatan kerja dirasa mampu meningkatkan perekonomian Jawa Tengah sehingga sangat berdampak terhadap nilai dari PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Jawa Tengah.

Tujuan

Adapun tujuan dari penelitianini adalah sebagai berikut:
a.    Menganalisis masing-masing pengaruh pendapatan asli daerah (PAD), Investasi (PMA & PMDN) dan Jumlah Tenaga Kerja  terhadap PDRB Jawa Tengah tahun 1984-2013.
b.    Menganalisis pengaruh variable pendapatan asli daerah (PAD), Investasi (PMA & PMDN) dan Jumlah Tenaga Kerja secara bersama-sama  terhadap PDRB Jawa Tengah tahun 1984-2013.
c.    Mengamati perkembangan perekonomian di era setelah krisis moneter dengan melihat kenaikan nilai PDRB yang di pengaruhi oleh Pendapatan Asli Daerah, Investasi dan Angkatan Kerja.

TELAAH PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS

Produk Domestik Regional Bruto

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga pasar, menurut Badan Pusat Statistik merupakan jumlah nilai tambah bruto yang timbul dari seluruh sektor perekonomian dari suatu wilayah.Secara garis besar PDRB adalah jumlah dari semua barang dan jasa atau semua nilai tambah yang dihasilkan suatu daerah dalam periode waktu tertentu (1 tahun).

Pendapatan Asli Daerah

Menurut Rahman (2005:38), “pendapatan asli daerah (PAD) merupakan pendapatan dari hasil pengelolaan kekayaan daerah dan lain lain pendapatan asli daerah yang sah”. Lain-lain pendapatan asli daerah yang sah menurut Undang-undang No.33 tahun 2004 adalah:
Hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan, jasa giro, pendapatan bunga, keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap asing dan komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh daerah.
Pengoptimalan pendapatan asli daerah sebaiknya didukung dengan usaha pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik.Sehingga dapat terjadi kesinambungan antara pelayanan dan hasil yang didapat oleh pemerintah daerah. Namun dengan Eksploitasi PAD yang berlebihan dan tidak sesuai dengan kondisi yang ada justru akan semakin membebani masyarakat dan akan mengancam kondisi perekonomian secara makro.
PAD sebagai sumber utama penghasilandaerah. PAD terbagi menjadi tiga kategori, yaitu pajak daerah, denda dan pungutan serta penghasilan perusahaan daerah. Ketiga kategori tersebut tercantum dalam UU No. 33 Tahun 2004 pasal 6 ayat 1 dan ayat 2 yang menyatakan bahwa sumber PAD terdiri dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain PAD yang sah. Lain lain PAD yang sah sebagaimana yang dimaksud pada ayat 1 meliputi hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan, jasa giro, pendapatan bunga, keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, dan komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau jasa oleh daerah.
Investasi

Huda dan Nasution (2007:7) “investasi merupakan kata adopsi dari bahasa inggris, yaitu investmen, kata invest sebagai kata dasar dari investment memiliki arti menanam”. Menurut Prof. H. Haming dan Prof. Dr. H. Basmalah (2010:5) investasi dapat diartikan, keputusan mengeluarkan sejumlah dana di masa sekarang yang bertujuan untuk membeli sejumlah aktiva riil atau aktiva keuangan dengan harapan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar di masa mendatang. “Pengertian sederhana dari investasi adalah penanaman suatu bentuk dana atau uang dengan harapan dapat memperoleh tambahan atau keuntungan atas uang atau dana tersebut” (Suhartono dan Fadlilah, 2008:27).

Angkatan Kerja

Tenaga kerjasecaraumum adalah penduduk berusia 15-64 tahun Pengertian tenaga kerja meliputi juga keahlian dan keterampilan yang dimiliki.Menurut Putong (2002:100) faktor-faktor produksi yang dimaksud dalam ilmu ekonomi adalah “manusia (tenaga kerja=TK), modal (uang atau alat seperti mesin=M), SDA(tanah=T), dan skill (teknologi=T)”. jika semua faktor faktor tersebut dapat dioptimalkan maka diharapkan tingkat produksi juga akan meningkat, Dari segi keahlian dan pendidikan, menurut (Sukirno , 2007:9) tenaga kerja dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu :
a.    Tenaga kerja kasar
Tenaga kerja kasar adalah tenaga kerja yang tidak berpendidikan atau rendah tingkat pendidikanya dan tidak memiliki keahlian dalam suatu bidang pekerjaan.
b.   Tenaga kerja terampil
Tenaga kerja terampil adalah tenaga kerja yang memiliki keahlian dari suatu pelatihan atau dari pengalaman kerja seperti montir mobil, tukang kayu dan ahli reparasi elektronik.
c.    Tenaga kerja terdidik
Tenaga kerja terdidik adalah tenaga kerja yang memiliki pendidikan yang cukup tinggi dan ahli dalam bidang tertentu seperti dokter, akuntan, ahli ekonomi dan insinyur,
Beberapa hal yang mempengaruhi produktivitas kerja antara lain, lingkungan kerja yang kondusif, rekan kerja yang saling membangun satu sama lain serta peranan pemimpin dalam membangun motivasi.

Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran teoritis dapat digambarkan pada gambar 1.

Gambar 1
PendapatanAsli Daerah
 


Penanaman Modal Asing
(Y)

Investasi
                            X1     
                                                  
                             X2                
AngkatanKerja

 
                             X3                
                                               X4


Hipotesis penelitian

Berdasarkan kerangka pemikiran teoritis di atas, maka hipotesis penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
Ho1 : Tidak ada pengaruh antara pendapatan asli daerah terhadap nilai PDRB diJawaTengah
Ha1 : Ada pengaruh antara pendapatan asli daerah terhadap nilai PDRB di JawaTengah
Ho2 : Tidak ada pengaruh antara investasi terhadap nilai PDRB di Jawa Tengah.
Ha2 : Ada pengaruh antara investasi terhadap nilai PDRB di Jawa Tengah.
Ho3 : Tidak ada pengaruh antara jumlah tenaga kerja terhadap nilai PDRB diJawa Tengah.
Ha3 : Ada pengaruh antara jumlah tenaga kerja terhadap nilai PDRB di Jawa         Tengah.
Ho4 : Tidak ada pengaruh antara pendapatan asli daerah, investasi dan tenagakerja terhadap PDRB di Jawa Tengah.
Ha4 : Ada pengaruh antara pendapatan asli daerah, investasi dan tenaga kerjaterhadap PDRB di Jawa Tengah.
H4:PDRBberpengaruh positif terhadap penanaman modal asing di Jawa Tengah.

METODE PENELITIAN

Alat Analisis Data

Alat analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Regresi Linier Berganda dengan melakukan uji t, uji f, koefisien determinasi, dan uji asumsi klasik yang terdiri dari uji normalitas, uji heterokedastisitas, uji autokorelasi, dan uji multikolinieritas. Metode analisis ini menggunakan SPSS 16.0.
Metode pengumpulan data diperoleh melalui berbagai sumber yaitu studi pustaka.

Jenis Data

Dalam sebuah penelitian penggunaan jenis data dapat mempengaruhi hasil yang diperoleh. Jenis data menurut Wijaya (2013:19) jenis data menurut cara memperolehnya dibagi menjadi dua macam, data primer dan sekunder. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder time series.
Data Sekunder yaitu data yang diperoleh dari sumber yang menerbitkan dan bersifat siap pakai.Data sekunder mampu memberikan informasi dalam pengambilan keputusan meskipun dapat diolah lebih lanjut. Pada penelitian ini menggunakan pengumpulan data sekunder dengan penelusuran di perpustakaan Badan Pusat Statistik Jawa Tengah.
Data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data pendapatan asli daerah Jawa Tengah, data realisasi investasi, data jumlah angkatan kerja dan data tingkat PDRB (1984-2013).

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Hasil Analisis Regresi Linier Berganda dapat dilihat pada Tabel 2.



Tabel 2
Hasil Koefisien Determinasi (R2)
Model Summaryb
Model
R
R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
Durbin-Watson
1
.856a
.732
.702
102115.739
1.673
a. Predictors: (Constant), AK, INV, PAD
b. Dependent Variable: PDRB



Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel terikat.
Dalam output hasil SPSS tersebut terlihat bahwa variabel bebas (PAD,Investasi dan Angkatan Kerja) dalam model regresi mempengaruhi variabel terikat(PDRB)  sebesar 70,2 % dan sisanya sebesar 29,8% dipengaruhi oleh variabel lain.

Uji Parsial (Uji T)

Uji t digunakan untuk menguji signifikansi pengaruh variabel-variabel independen yaitu nilai pendapatan asli daerah, tingkat investasi dan jumlah angkatan kerja tehadap variabel dependen yaitu nilai PDRB.Hasil uji t tampak pada tabel 3.

Tabel 3
Uji T
Coefficientsa


Model
t
Sig.


1
(Constant)
-4.262
.000

PAD
.744
.464

INV
4.423
.000

AK
4.203
.000







Sumber : Data sekunder yang diolah dengan SPSS 16.0
Pada tabel diatas terlihat bahwa variabel PAD memiliki thitung sebesar 0.744 dan nilai signifikansi sebesar 0,464 yang nilainya lebih besar dibanding α sebesar 0,05. Hal ini dapat dijelaskan bahwa pendapatan asli daerah memiliki pengaruh positif namun tidak signifikan terhadap nilai PDRB.
Variabel investasi memiliki thitung sebesar 4,423 dan nilai signifikansi 0,000 yang nilainya lebih kecil dari α sebesar 0,05. Hal ini dapat disimpulkan bahwa nilai investasi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap nilai PDRB.Sedangkan variabel angkatan kerja memiliki thitung sebesar 4,203 dan nilai signifikansi 0,000 yang nilainya lebih kecil dari α sebesar 0,05.
Hal ini dapat disimpulkan bahwa variabel angkatan kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap nilai PDRB di Jawa Tengah

Uji Simultan (Uji F)

Uji F dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh secara bersama-sama (simultan) antara variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil dari uji F dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4
Uji Simultan (ujiF)
ANOVAb
Model
Sum of Squares
Df
Mean Square
F
Sig.
1
Regression
7.422E11
3
2.474E11
23.725
.000a
Residual
2.711E11
26
1.043E10


Total
1.013E12
29



a. Predictors: (Constant), AK, INV, PAD
b. Dependent Variable: PDRB
Sumber : Data sekunder yang diolah dengan SPSS 16.0
Apabila dilihat dari kriteria diatas, nilai Fhitung   menunjukkan sebesar 23,725 sedangkan Ftabel  menunjukkan nilai sebesar 2,98 sehingga Fhitung . >.Ftabel atau 23,725 > 2,98 maka Ha diterima yaitu secara bersama-sama ada pengaruh antara pendapatan asli daerah, tingkat investasi dan jumlah angkatan kerja terhadap PDRB di Jawa Tengah.
Kemudian apabila dilihat dari nilai signifikansi terlihat bahwa 0.00 < 0.05 maka Ha diterima sehingga ada pengaruh yang signifikan antara pendapatan asli daerah, tingkat investasi dan jumlah angkatan kerja terhadap PDRB di Jawa Tengah.

Rumus Persamaan Regresi

Persamaan regresi dalam penelitian ini dapat dilihat dari rumus sebagai berikut:
Rumus
Persamaan Regresi
PDRB = -995361.068 + 1.253E-5 X1 + 0.056 X2 + 0.068 X3
Keterangan:
Y  = PDRB
X1= Pendapatanaslidaerah
X2= Investasi
X3= Angkatankerja
Konstanta sebesar -995361,068 mempunyai arti jika tidak ada perubahan dalam variabel PAD, Investasi dan AngkatanKerja maka PDRB akan tetap sebesar -995361,068Miliyar rupiah.
Koefisien nilai PAD sebesar 1.253E-5, yang berarti jika terjadi perubahan nilai pendapatan asli daerah sebesar 1 ribu rupiah hanya akan meningkatkan nilai PDRB sebesar 0,00001253 miliyar. koefisien nilai investasi sebesar 0.056 yang berarti jika terjadi peningkatan nilai investasi 1 juta akan juga meningkatkan nilai PDRB sebesar 0.056 miliyar.Koefisien regresi X3 sebesar 0.068 mempunyai arti bahwa setiap peningkatan jumlah angkatan kerja sebanyak 1 juta orang maka akan meningkatkan nilai PDRB sebesar 0.068 miliyar rupiah.

Uji Asumsi Klasik

Uji Multikolinearitas

Pada uji multikolinieritas ini akan  diuji apakah model regresi ditemukan adanya kolerasi antar variabel bebas (independen). Dalam menentukan keberadaan multikolinieritas dengan cara melihat nilai tolerance dan nilai variance inflation factor (VIF). Hasil uji multikolinieritas dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5
Uji Multikolinearitas
Coefficientsa

Model
Collinearity Statistics
Tolerance
VIF
1
(Constant)


PAD
.388
2.575
INV
.896
1.116
AK
.375
2.666





Pada hasil uji multikolinieritas diketahui bahwa nilai tolerance pada masing-masing variabel lebih besar dari 0,10 dan nilai VIFnya kurang dari 10 sehingga dapat disimpulkan bahwa data tidak terjadi multikolinieritas.

Uji Autokerelasi

Persamaan regresi yang baik adalah tidak memiliki masalah autokorelasi. Jika terjadi autokorelasi maka persamaan tersebut menjadi tidak baik atau tidak layak dipakai prediksi.Hasil uji autokorelasi bisa dilihat pada tabel 6
Tabel 6
Uji Autokorelasi
Model Summaryb
Model
R
R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
Durbin-Watson
1
.856a
.732
.702
102115.739
1.673
a. Predictors: (Constant), AK, INV, PAD
b. Dependent Variable: PDRB


Sumber : Data sekunder yang diolah dengan SPSS 16.0
Salah satu ukuran dalam menentukan ada tidaknya masalah autokorelasi dengan uji Durbin Watson (DW) dengan ketentuan sebagai berikut :
1.   Terjadi autokorelasi positif jika nilai DW di bawah -2 (DW < -2).
2.   Tidak terjadi autokorelasi jika nilai DW antara -2 dan +2 atau -2 ≤ DW ≤ +2
3.   Terjadi autokorelasi negative jika nilai DW di atas +2 atau DW > +2
Pada tabel di atas terlihat bahwa nilai DW sebesar 1.673 atau -2 ≤ 1.673 ≤ +2 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat autokorelasi pada data tersebut.
Uji Heterokedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji terjadinya gangguan yang muncul dalam fungsi regresi yang mempunyai varian yang tidak sama sehingga penafsirannya tidak efisien baik dalam sampel kecil maupun sampel besar.
Homoskedatisitas terjadi jika pada scatterplot titik-titik hasil pengolahan data antara ZPRED dan SRESID  menyebar di bawah ataupun di atas titik origin (angka 0) pada sumbu Y dan tidak mempunyai pola yang teratur.
Heterokedastisitas terjadi jika pada scatterplot titik-titiknya   mempunyai pola yang teratur, baik menyempit, melebar maupun bergelombang-bergelombang.
Hasil uji heterokedatisitas pada penelitian ini dapat dilihat dari gambar 2.
Gambar 2
HASIL UJI ETEROKEDASTISITAS

Dari analisis hasil output SPSS (gambar scatterplot) diatas terlihat bahwa titik-titik menyebar dibawah serta diatas sumbu Y, dan tidak mempunyai pola teratur. Jadi kesimpulannya adalah variabel bebas diatas tidak terjadi heterokedastisitas atau bersifat homokedastisitas.

Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terdapat variabel penggangu atau residual memiliki distribusi normal. Jika asumsi ini dilanggar uji statistik menjadi tidak valid.
Uji t dan uji F menerangkan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Penelitian ini melakukan uji normalitas dengan cara analisis grafik yang digambarkan pada P-P Plot.
Dengan cara grafik histogram adalah dengan membandingkan data riil/nyata dengan garis kurva yang terbentuk, apakah bentuk kurva mendekati normal atau memang normal sama sekali. Jika data riil membentuk garis kurva cenderung tidak simetri terhadap mean (U) maka dapat dikatakan data berdistribusi tidak normal atau sebaliknya.
Gambar grafik histogram dapat dilihat pada gambar 3 yang menunjukkan hasil pengolahan dengan SPSS 16.
Gambar 3
GRAFIK HISTOGRAM UJI NORMALITAS
dapat dilihat bahwa bentuk garis kurva cenderung simetri terhadap mean (U) sehingga dapat dikatakan bahwa data berdistribusi normal.
Cara selanjutnya adalah dengan normal probability plots. Cara ini lebih baik dilakukan/digambarkan dengan grafik histogram karena cara ini membandingkan data riil dengan data distribusi normal (otomatis oleh komputer) secara kumulatif. Suatu data dikatakan berdistribusi normal jika garis data riil mengikuti garis diagonal. Gambar normal probability plot dapat dilihat dari gambar 4.
Gambar 4
NORMAL PROBABILITY PLOT UJI NORMALITAS
Dari gambar 4, terlihat bahwa garis data riil mengikuti garis  sehingga dapat dikatakan bahwa data berdistribusi normal.
Pengujian normalitas selanjutnya adalah dengan menggunakan Kolmogorov karena diperoleh N = 30.
Hasil analisis Kolmogorov terlihat pada Tabel 7.
Tabel 7
HASIL UJI NORMALITAS DENGAN KOLMOGOROV
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test


Unstandardized Residual
N
30
Normal Parametersa
Mean
.0000000
Std. Deviation
9.66897326E4
Most Extreme Differences
Absolute
.170
Positive
.170
Negative
-.131
Kolmogorov-Smirnov Z
.932
Asymp. Sig. (2-tailed)
.350
a. Test distribution is Normal.


Pada hasil ouput SPSS diatas terlihat bahwa nilai signifikan sebesar 0.350 lebih besar dari 0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwa data tersebut memiliki variabel-variabel yang berdistribusi normal.

Pengaruh Pendapatan Asli Daerah Terhadap PDRB

Hasil dari penelitian ini dapat menunjukkan bahwa pendapatan asli daerah (PAD) berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap nilai PDRB di Jawa Tengah.Koefisien nilai PAD sebesar 1.253E-5, yang berarti jika terjadi perubahan nilai pendapatan asli daerah sebesar 1 ribu rupiah hanya akan meningkatkan nilai PDRB sebesar 0.0000125 miliyar. Oleh karena itu secara individu pendapatan asli daerah memiliki pengaruh positif namun tidak signifikan terhadap nilai PDRB Jawa Tengah dengan melihat nilai thitung sebesar 0.744dan nilai signifikansi 0.464 > 0,05.tidak signifikan terhadap PDRB di Jawa Tengah.

Pengaruh Investasi Terhadap PDRB

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat investasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai PDRB di Jawa Tengah dengan t-hitung sebesar 4.423 dan nilai signifikan sebesar 0.000 < 0.05 serta koefisien nilai investasi sebesar 0.056 yang berarti jika terjadi peningkatan nilai investasi 1 juta akan juga meningkatkan nilai PDRB sebesar 0.056 miliyar.

Pengaruh Angkatan Kerja terhadap PDRB
Hasil penelitian ini menunjukkan hasil sebagai berikut, variabel jumlah angkatan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai PDRB di Jawa Tengah.Hal ini ditunjukkan dari hasil pengolahan data dengan SPSS.16 yang menunjukkan nilai t hitung sebesar 4.203 dan nilai signifikansi variabel jumlah angkatan kerja sebesar 0.000 < 0.05 hal ini menjukan pengaruh yang positif dan signifikan dari variabel ini.

Pengaruh PAD, Investasi dan Angkatan Kerja terhadap PDRB

pendapatan asli daerah (PAD) berpengaruh positif namun tidak signifikan, sedangkan variabel invesatsi dan jumlah angkatan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai PDRB di Jawa Tengah.Namun secara bersama-sama seluruh variabel memberikan pengaruh positif terhadap nilai PDRB di Jawa Tengah.
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda, maka dapat disimpulkan bahwa secara simultan atau bersama-sama variable PAD, Investasi dan Angkatan kerja berpengaruh signifikan terhadap PDRB di Jawa Tengah. Secaraparsial, variabel PAD berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap PDRB, Investasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap PDRB. Sedangkan, secara parsial variable angkatan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap PDRB di Jawa Tengah periode tahun 1984-2013.
DAFTAR PUSTAKA

Haming, Murdifin dan Basmalah, Salim.
2010. Studi Kelayakan Investasi Proyek & Bisnis. Jakarta: Bumi Aksara.
Huda, Nurul dan Nasution, Mustafa Edwin.
Investasi Pada Pasar Modal Syariah. Jakarta: Kencana.
Putong, Iskandar. 2002. Pengantar Ekonomi
Mikrodan Makro edisi 2. Jakarta: Ghalia Indonesia
Qudsi, Fadilah dan Suhartono. 2009.
Portofolio Investasidan Bursa Efek, Pendekatan Teori dan Praktek Suplement: Trick dan Praktek Kamus Gaul di Pasar Modal.
Rahman, Herlina. 2005. Pengertian Metode
            Penelitian Menurut Ahli.
            www.globallavebookx.blogspot.com.
            (27-06-2015)
Sukirno, Sadono. 2008. Makroekonomi
Teori Pengantar, edisi ke-3. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sukirno, Sadono. 2007. Mengasah
Kemampuan Ekonomi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
( http//books.google.com)
(16-06-2015)
Undang-undang No.25 Tahun 2007. Undang-
Undang Penanaman Modal. Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada.
( http//books.google.com)
(27-06-2015)
Undang-undang No.33 tahun 2004.Undang-
Undang Pendapatan Asli Daerah.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
( http//books.google.com)
(27-06-2015)
Undang-undang No.13 tahun 2003.Undang-
Undang Ketenagakerjaan. Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada.
( http//books.google.com)
(27-06-2015)
Wijaya, Tony. 2013. Metodologi Penelitian
Ekonomi dan Bisnis.Yogyakarta: Graha Ilmu. Tenaga Kerja https://id.m.wikipedia.org.
(27-06-2015)