ANALISIS
PENGENDALIAN KUALITAS PRODUK
DALAM UPAYA
MENGENDALIKAN TINGKAT KERUSAKAN PRODUK EKSPOR DI PT. ASIA PACIFIC FIBERS, TBK
KALIWUNGU
Muhammad
Faizuddin, Poniman, Jumi
Jurusan Administrasi Bisnis, Politeknik Negeri Semarang
ABSTRACT
This study aims to determine how the
implementation of quality control of products is conducted at PT. Asia Pacific
Fibers, Tbk by using statistical methods, determine the type of failure dominant products and identify the
factors that cause product failure which include small bobbin, over turn yarn
(OTY) and broken filament.
The
data collection method in this research is by direct observation at PT. Asia
Pacific Fibers, Tbk by using techniques such as interview, observation, and
documentation. This observation took place in March 2015. Analysis of
quality control is done by using statistical
methods contained in the Statistical Quality Control (SQC) such as check sheets, histograms,
p charts, pareto
charts and cause-effect
diagram.
Check
sheet and histograms
are used to present the data in order to make it easier to understand the data for further analysis. P Chart analysis results indicate that there are five days
which are still experiencing irregularities. The defect were found on 12th,
19th, 25th, 27th, and 31st of March. Based on Pareto diagram, it is
seen that failure mostly caused by small bobbin with 72.3 %, then OTY 15.1% and
broken filament 12.6%. From the analysis of cause-effect diagram, it is also
seen that the factors
causing the failure of the
products derived from human factors / workers,
machinery production, working methods, materials / raw materials and work
environment.
Keywords:
Quality Control, Statistical Methods,
Statistical Quality Control
PENDAHULUAN
Pada
era sekarang ini persaingan dunia bisnis semakin meningkat, persaingan tidak
hanya terjadi di pasar domestik, persaingan juga terjadi di pasar
internasional. Setiap usaha dalam persaingan yang tinggi dituntut untuk selalu
berkompetisi dengan perusahaan lain di dalam industri yang sejenis. Salah satu
cara untuk memenangkan atau paling tidak dapat bertahan di dalam kompetisi yang
tinggi adalah dengan memberikan perhatian penuh terhadap kualitas produk yang
dihasilkan perusahaan sehingga bisa mengungguli produk yang dihasilkan oleh
pesaing.
Permasalahan
kualitas telah mengarah pada taktik dan strategi perusahaan secara menyeluruh
dalam rangka untuk memiliki daya saing dan bertahan terhadap persaingan global
dengan produk perusahaan lain (La Hatani, 2007). Perusahaan yang mempunyai dan
menerapkan program pengendalian kualitas dengan baik akan mampu bertahan dan
sukses, karena melalui program pengendalian kualitas yang baik dapat secara
efektif meminimalisir pemborosan dan dapat meningkatkan kemampuan bersaing
perusahaan di pasar global. Suatu kualitas yang baik dihasilkan dari proses
yang baik dan memenuhi standar yang telah ditentukan berdasarkan kebutuhan
pasar.
Dengan
memberikan perhatian pada kualitas akan memberikan dampak yang positif kepada
bisnis melalui dua cara yaitu dampak terhadap biaya produksi dan dampak
terhadap pendapatan (Gaspersz, 2002). Dampak terhadap biaya produksi terjadi
melalui proses pembuatan produk yang sesuai dengan standar-standar yang telah
ditentukan sehingga bebas dari tingkat kerusakan. Karena pada produk yang
mengalami kerusakan akan menyerap biaya produksi seperti biaya bahan baku, biaya
tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik. Dampak terhadap peningkatan
pendapatan terjadi melalui peningkatan penjualan atas produk berkualitas yang
berharga kompetitif. Dengan memperhatikan aspek kualitas produk, maka
perusahaan akan memperoleh laba yang optimal dan dapat memenuhi tuntutan
konsumen akan produk yang berkualitas dan harga yang kompetitif.
Namun,
meskipun proses produksi telah dilaksanakan dengan baik, pada kenyataannya
seringkali masih ditemukan ketidaksesuaian antara produk yang dihasilkan dengan
yang diharapkan, dimana kualitas produk yang dihasilkan tidak sesuai dengan
standar, atau dengan kata lain produk yang dihasilkan mengalami kegagalan/
cacat produk. Hal tersebut disebabkan adanya penyimpangan dari berbagai faktor.
Agar supaya produk yang dihasilkan tersebut mempunyai kualitas sesuai dengan
standar yang ditetapkan perusahaan dan sesuai dengan harapan konsumen,
perusahaan harus menerapkan sistem pengendalian kualitas yang tepat, mempunyai
tujuan dan tahapan yang jelas, serta memberikan inovasi dalam melakukan
pencegahan dan penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi perusahaan.
Pengendalian
kualitas yang dilaksanakan dengan baik akan memberikan dampak terhadap kualitas
produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Standar kualitas meliputi bahan baku,
proses produksi dan produk jadi (M.N. Nasution, 2005). Oleh karenanya, kegiatan
pengendalian kualitas tersebut dapat dilakukan mulai dari bahan baku, selama
proses produksi berlangsung sampai pada produk akhir dan disesuaikan dengan
standar yang tetapkan.
PT.
Asia Pacific Fibers, Tbk adalah perusahaan produsen dan pemasar chip polyester,
serat dan benang kawat yang berskala ekspor yang dalam menjalankan kegiatan
bisnisnya telah menerapkan sistem pengendalian kualitas produksi. Perusahaan ini
bahkan telah membuktikan sebagai perusahaan yang menerapkan menajemen mutu yang
baik dan sesuai dengan pedoman standar mutu yang berlaku dengan mendapatkan
sertifikat ISO 9001 : 2008 dari SAI Global pada tahun 2012. Akan tetapi pada
kenyataannya masih terdapat produk yang mengalami kegagalan. Sebagaimana
diketahui bahwa 40% dari total produksi keseluruhan PT. Asia Pacific Fibers,
Tbk adalah ekspor.
Kenyataan
menunjukkan bahwa dari data jumlah produksi yang dihasilkan perusahaan, masih
terdapat produk gagal yang melampaui batas toleransi yang ditetapkan oleh
perusahaan di setiap kegiatan produksi, dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1
Data Jumlah Produksi, Jumlah
Produk Gagal dan Presentase Produk Gagal Benang DTY Ekspor Departemen TX-2 PT.
Asia Pacific Fibers, Tbk bulan Maret 2015
Tanggal Produksi
|
Jumlah Produksi (Bobbin)
|
Jumlah Produk Gagal (Bobbin)
|
Presentase Kegagalan %
|
01/03/2015
|
697
|
34
|
4.88%
|
02/03/2015
|
747
|
33
|
4.42%
|
03/03/2015
|
754
|
33
|
4.38%
|
04/03/2015
|
502
|
32
|
6.37%
|
05/03/2015
|
579
|
41
|
7.08%
|
06/03/2015
|
843
|
59
|
7.00%
|
07/03/2015
|
764
|
45
|
5.89%
|
08/03/2015
|
770
|
56
|
7.27%
|
09/03/2015
|
789
|
49
|
6.21%
|
10/03/2015
|
766
|
36
|
4.70%
|
11/03/2015
|
709
|
67
|
9.45%
|
12/03/2015
|
770
|
32
|
4.16%
|
13/03/2015
|
790
|
61
|
7.72%
|
14/03/2015
|
698
|
40
|
5.73%
|
15/03/2015
|
777
|
61
|
7.85%
|
16/03/2015
|
771
|
66
|
8.56%
|
17/03/2015
|
394
|
35
|
8.88%
|
18/03/2015
|
830
|
57
|
6.87%
|
19/03/2015
|
738
|
97
|
13.14%
|
20/03/2015
|
778
|
68
|
8.74%
|
21/03/2015
|
737
|
70
|
9.50%
|
22/03/2015
|
792
|
70
|
8.84%
|
23/03/2015
|
752
|
46
|
6.12%
|
24/03/2015
|
784
|
52
|
6.63%
|
25/03/2015
|
697
|
27
|
3.87%
|
26/03/2015
|
776
|
41
|
5.28%
|
27/03/2015
|
761
|
89
|
11.70%
|
28/03/2015
|
767
|
43
|
5.61%
|
29/03/2015
|
711
|
63
|
8.86%
|
30/03/2015
|
757
|
39
|
5.15%
|
31/03/2015
|
731
|
27
|
3.69%
|
TOTAL
|
22731
|
1569
|
6.90%
|
Dapat
dilihat bahwa presentase kegagalan produk benang DTY masih cukup besar, karena
melebihi batas toleransi yang ditetapkan perusahaan yaitu sebesar 6% dari
jumlah produksi. Dengan demikian tujuan penelitian ini adalah menganalisis
bagaimana pelaksanaan pengendalian kualitas di Departemen Texturing 2 Produksi
PT. Asia Pacific Fibers, Tbk.dalam upaya menekan tingkat kegagalan produk
benang DTY, menentukan jenis-jenis kegagalan produk yang dominan pada produksi
benang DTY yang diproduksi oleh
Departemen Texturing 2 Produksi PT. Asia Pacific Fibers, dan mengidentifikasi
faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kegagalan pada produk yang diproduksi
oleh Departemen Texturing 2 Produksi PT. Asia Pacific Fibers, Tbk.
TINJAUAN PUSTAKA
Besterfield (1994: 1)
mengemukakan pendapatnya,”Quality is the totality of features and
characteristic of a product or service that bear on it’s ability to satisfy
implied or stated need.” Artinya kualitas/mutu adalah keseluruhan fitur dan
karakteristik produk atau jasa yang mampu memuaskan kebutuhan yang tampak atau
samar.
Assauri (2008: 299) mengemukakan
“Pengawasan mutu merupakan usaha untuk mempertahankan mutu/ kualitas dari
barang yang dihasilkan, agar sesuai dengan spesifikasi produk yang telah
ditetapkan berdasarkan kebijaksanaan pimpinan perusahaan.
Besterfield (1994: 2)
Mengemukakan “Statistical quality control (SQC) is a branch of quality
control. it is the collection, analysis, and interpretation of data for use in
quality control activities.” Artinya: Pengendalian
kualitas statistik (SQC) adalah
cabang dari kontrol kualitas.
Pengendalian Kualitas Statistik (SQC) adalah
pengumpulan, analisis, dan interpretasi
data untuk digunakan dalam kegiatan
pengendalian kualitas.
METODOLOGI PENELITIAN
Dalam penelitian ini menggunakan
2 macam variabel penelitian, yaitu variabel pengendalian kualitas dan variabel
pengukuran secara atribut yang digunakan untuk menentukan tingkat
ketidaksesuaian yang terjadi terhadap produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Pengambilan
sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik quota sampling. Quota sampling adalah suatu teknik
pengambilan sampel dimana sampel akan dipilih secara sengaja
sampai jumlah
tertentu. Adapun sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah jumlah
produksi benang DTY Departemen Texturing 2 PT. Asia Pacific Fibers, Tbk yang
mengalami kegagalan selama bulan Maret 2015. Jumlah sampel dalam penelitian ini
sebesar 1.569 Bobbin.
Jenis data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah data primer yang merupakan data yang diperoleh dari PT.
Asia Pacific Fibers, Tbk yang menjadi tempat penelitian. Data yang diperoleh
berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif yaitu data yang
berupa angka-angka berupa data mengenai jumlah produksi dan data kegagalan
produk. Data kualitatif yaitu data yang berupa informasi tertulis yaitu
informasi mengenai jenis kegagalan, penyebab terjadinya kegagalan, bagan proses
produksi, dan bahan baku yang digunakan.
Sumber data secara keseluruhan
diperoleh dari dalam institusi yang menjadi tempat penelitian. Data yang
bersifat kuantitatif diperoleh dari dokumen/ arsip pada Departemen
Texturing 2 PT. Asia Pscific Fibers, Tbk. Sedangkan data yang bersifat kualitatif
diperoleh dari wawancara dengan manager Departemen Texturing 2 PT. Asia Pacific
Fibers, Tbk dan pengamatan secara langsung di perusahaan.
Untuk dapat menjawab permasalahan
dan tujuan penelitian ini maka digunakan alat bantu statistik yang terdapat
pada Statistical Quality Control (SQC) dan Statistical Process
Control (SPC). Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
a.
Mengumpulkan
data menggunakan check sheet
b.
Membuat
Histogram
c.
Melakukan
uji kecukupan data
d.
Membuat
peta kendali p
e.
Menentukan
prioritas perbaikan (menggunakan diagram pareto)
f.
Mencari
faktor penyebab yang dominan dengan diagram sebab akibat
HASIL DAN PEMBAHASAN
a.
Mengumpulkan
data menggunakan check sheet
Membuat tabel (check
sheet) jumlah produksi dan kegagalan produk berguna untuk
mempermudah proses pengumpulan data serta analisis. Selain itu pula berguna
untuk mengetahui area permasalahan berdasarkan frekuensi dari jenis atau
penyebab dan mengambil keputusan untuk melakukan perbaikan atau tidak, dapat
dilihat pada Tabel 2
Tabel 2 Laporan Produksi dan
Kegagalan Benang DTY Ekspor
Departemen Texturing 2 PT. Asia
Pacific Fibers, Tbk
Tanggal
|
Jumlah Produksi
(Bobbin)
|
Jenis Kegagalan
(Bobbin)
|
Jumlah kegagalan (Bobbin)
|
||
Broken Filament
(BF)
|
OTY (Cross)
|
Small Bobbin
|
|||
01
|
697
|
0
|
8
|
26
|
34
|
02
|
747
|
2
|
1
|
30
|
33
|
03
|
754
|
3
|
5
|
25
|
33
|
04
|
502
|
1
|
4
|
27
|
32
|
05
|
579
|
0
|
8
|
33
|
41
|
06
|
843
|
5
|
8
|
46
|
59
|
07
|
764
|
5
|
3
|
37
|
45
|
08
|
770
|
2
|
10
|
44
|
56
|
09
|
789
|
0
|
4
|
45
|
49
|
10
|
766
|
2
|
3
|
31
|
36
|
11
|
709
|
0
|
8
|
59
|
67
|
12
|
770
|
2
|
4
|
26
|
32
|
13
|
790
|
4
|
11
|
46
|
61
|
14
|
698
|
2
|
9
|
29
|
40
|
15
|
777
|
27
|
2
|
32
|
61
|
16
|
771
|
18
|
16
|
32
|
66
|
17
|
394
|
5
|
2
|
28
|
35
|
18
|
830
|
2
|
7
|
48
|
57
|
19
|
738
|
3
|
12
|
82
|
97
|
20
|
778
|
18
|
9
|
41
|
68
|
21
|
737
|
8
|
17
|
45
|
70
|
22
|
792
|
28
|
20
|
22
|
70
|
23
|
752
|
3
|
5
|
38
|
46
|
24
|
784
|
15
|
6
|
31
|
52
|
25
|
697
|
16
|
2
|
9
|
27
|
26
|
776
|
10
|
7
|
25
|
41
|
27
|
761
|
7
|
10
|
72
|
89
|
28
|
767
|
4
|
13
|
26
|
43
|
29
|
711
|
4
|
13
|
46
|
63
|
30
|
757
|
1
|
10
|
28
|
39
|
31
|
731
|
1
|
1
|
25
|
27
|
Total
|
22731
|
198
|
237
|
1134
|
1569
|
b.
Membuat
Histogram
Setelah check sheet dibuat, maka selanjutnya
adalah membuat diagram histogram. Diagram histogram merupakan tampilan grafis
dari data yang dikumpulkan, dimana setiap tampilan batang menunjukkan proporsi
frekuensi pada masing-masing kategori secara berdampingan.

Gambar 1 Diagram Histogram Kegagalan
Produk (Bobbin)
c.
Melakukan
uji kecukupan data
Setelah data
diperoleh maka perlu diketahui apakah data yang diambil tersebut telah
mencukupi atau belum. Untuk menghitung apakah data yang diambil sudah
mencukupi, Adapun rumus yang digunakan untuk uji kecukupan data tersebut adalah
sebagai berikut (Faiz Alfakhri, 2010) pada persamaan 1 berikut
Z
: nilai pada Z dengan tingkat
keyakinan tertentu
p
: rata-rata kerusakan produk
tingkat ketelitian
d.
Membuat
peta kendali p

Gambar 2 Diagram P Chart
Kegagalan Produk Benang DTY
Bulan Maret 2015
Dari
hasil analisis peta kendali (control
chart) dengan menggunakan Minitab 15 di atas, dapat dilihat bahwa masih
terdapat data yang berada di luar batas kendali dan terdapat penyebaran data
secara ekstrim. Pada tanggal 12, 19, 27 melewati batas kendali bawah yang
artinya presentase kegagalan sudah baik karena dalam produksi jika presentase
kegagalan mendekati 0 maka akan semakin bagus. Akan tetapi pada tanggal 19 dan
27 melewati batas kendali atas karena presentase kegagalan mencapai 13.14% dan
11.70%.
e.
Menentukan prioritas perbaikan
(menggunakan diagram pareto)

Gambar 3 Diagram Pareto Kegagalan Produk
Dari
hasil analisis Pareto Chart dengan menggunakan Minitab 15 di atas dapat
diketahui bahwa jenis kegagalan terbesar disebabkan oleh Small Bobbin yaitu
dengan presentase kegagalan sebesar 72.3% kemudian OTY (Cross) 15.1% dan Broken
Filament 12.6%. Jadi perbaikan dapat dilakukan dengan memfokuskan terlebih
dahulu pada kegagalan Small Bobbin. Hal ini dikarenakan Small Bobbin mempunyai
presentase kegagalan paling besar dengan presentase sebesar 72.3%.
f.
Mencari
faktor penyebab yang dominan dengan diagram sebab akibat.
Setelah diketahui
masalah utama yang paling dominan, maka dilakukan analisa faktor penyebab
kerusakan produk dengan menggunakan fishbone diagram, sehingga dapat
menganalisis faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebab kerusakan produk.

Gambar
4 Diagram Fishbone Broken Filament

Gambar 5
Diagram Fishbone OTY (Cross)

Gambar
6 Diagram Fishbone Small Bobbin
KESIMPULAN
Berdasarkan
data produksi yang diperoleh dari Departemen TX-2 Produksi PT. Asia Pacific
Fibers, Tbk diketahui jumlah produksi benang Draw Tectured Yarn (DTY) pada
bulan Maret 2015 adalah sebesar 22,731 Bobbin dengan jumlah kegagalan produksi
sebesar 1,134 Bobbin. Rata-rata kegagalan dalam setiap produksi adalah sebesar
6.90%. Nilai ini apabila dibandingkan dengan batas toleransi untuk kegagalan
produk yang ditetapkan oleh perusahaan yaitu sebesar 6% sangat jauh melewati
batas toleransi. Masih banyak dalam beberapa kali produksi terjadi kegagalan
produk yang melebihi target 6 % dari jumlah produksi.
Jenis-jenis
kegagalan produk yang sering terjadi pada produksi benang Draw Textured Yarn
(DTY) yaitu disebabkan karena Broken Filament (BF) sebanyak 198 Bobbin, OTY
(Cross) sebanyak 237 Bobbin, dan Small Bobbin sebanyak 1134 Bobbin.
Penggunaan alat bantu statistik dengan peta
kendali p dalam pengendalian kualitas produk dapat mengidentifikasikan bahwa
ternyata kualitas produk berada di luar batas kendali yang seharusnya. Hal
tersebut seperti yang ditunjukkan pada grafik kontrol yang memperlihatkan bahwa
titik berfluktuasi sangat tinggi dan tidak beraturan, serta banyak terdapat
titik yang keluar dari batas kendali. Pada tanggal 12, 19, 27 melewati batas
kendali bawah yang artinya presentase kegagalan sudah baik karena dalam
produksi jika presentase kegagalan mendekati 0 maka akan semakin bagus. Akan
tetapi pada tanggal 19 dan 27 melewati batas kendali atas karena presentase
kegagalan mencapai 13.14% dan 11.70% yang mengindikasikan bahwa proses berada
dalam keadaan tidak terkendali atau masih mengalami penyimpangan.
Berdasarkan
diagram pareto, prioritas perbaikan yang perlu dilakukan oleh Departemen TX-2
Produksi PT. Asia Pacific Fibers, Tbk untuk menekan atau mengurangi jumlah
kegagalan produk yang terjadi dalam produksi dapat dilakukan pada kegagalan
produk small bobbin terlebih dahulu, karena presentase kegagalan small bobbin yang terbesar yaitu sebesar
72.3% kemudian OTY (Cross) 15.1% dan broken filament 12.6%.
Dari
analisis diagram sebab akibat dapat diketahui faktor penyebab kegagalan dalam
produksi yaitu berasal dari faktor personal/ pekerja, machine, method,
material/ bahan baku dan lingkungan kerja. Dari kelima faktor penyebab
kegagalan dalam produksi tersebut, faktor material/ bahan baku, faktor machine/
mesin dan faktor personal/ pekerja menjadi penyebab yang paling dominan.
SARAN
Secara
umum penyebab utama terjadinya kegagalan produk berasal dari faktor material,
manusia dan mesin. Hal tersebut berdasarkan pengamatan yang dilakukan dimana
kerusakan pada benang Draw Textured Yarn (DTY) terjadi pada saat proses
produksi benang berlangsung menggunakan mesin yang mana setiap mesin dijalankan
oleh beberapa operator. Oleh karena itu, usulan tindakan untuk mengatasi
terjadinya kegagalan produk yang disebabkan oleh faktor tersebut dapat
dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a.
Bahan
Baku
Pengecekan bahan baku
dengan sampling sudah tepat karena bahan bakunya bersifat homogen/ sama. Untuk
mengurangi bahan baku abnormal yang lolos dari pengecekan maka untuk jumlah
sampel yang digunakan saat pengecekan harus diperbanyak lagi agar meminimalkan
bahan baku abnormal yang lolos pengecekan.
b.
Manusia
1.
Melakukan
pengawasan atas para pekerja dengan lebih ketat.
2.
Memberikan
pelatihan kepada para pekerja.
3.
Membuat
sistem penilaian kerja yang baru dengan tujuan untuk memotivasi kinerja para
pekerja agar lebih baik.
4.
Melakukan
perhitungan dengan lebih teliti saat mengatur settingan mesin dan melakukan uji
coba produksi terlebih dahulu sebelum dilakukannya produksi supaya meminimalkan
kegagalan produksi.
c.
Mesin
1.
Melakukan
pengecekan kesiapan mesin sebelum dan sesudah digunakan agar sesuai standar
operasional.
2.
Melakukan
perawatan mesin secara berkala, tidak hanya ketika mesin mengalami kerusakan
saja.
3.
Segera
mengganti komponen mesin yang rusak sehingga tidak menghambat proses produksi.
DAFTAR
PUSTAKA
Assauri, Sofjan. 2008. Manajemen Operasi Dan
Produksi. Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia.
Bayu Prestiantyo,
Sugiono dan Susilo Toto R. 2003. “Analisis Pengendalian
Kualitas Pada PT. Semarang Makmur
Semarang”.
Besterfield, Dale H. 1994. Quality Control Fourth
Edition. Prentice-Hall, International.
Faiz Al Fakhri. 2010. “Analisis
Pengendalian Kualitas Produksi di PT. Masscom
Graphy Dalam Upaya Mengendalikan Tingkat Kerusakan
Produk
Menggunakan Alat Bantu Statistik.”
http://eprints.undip.ac.id/23023/ (26 Maret 2015).
Heizer, Jay and Barry Render. 2009. Operation
Management (Manajemen Operasi).
Jakarta : Salemba Empat.
Hatani, La. 2008. “Manajemen
Pengendalian Mutu Produksi Roti Melalui
Pendekatan Statistical Quality Control (SQC).”
https://scholar.google.com/scholar?um=1&ie=UTF-8&lr&q=related:lps0zdonR0k-OM:scholar.google.com/ (27 Maret 2015).
Hermawati, Sri dan Sunarto. 2007.
“Analisis Pengendalian Mutu Produk PT.
Meiwa Indonesia Plant II Depok.”
http://publication.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/543/1/Sri_Hermawati_Sunarto.pdf (27
Maret 2015).
Nasution, M. N. 2005. Manajemen Mutu Terpadu. Bogor : Ghalia
Indah
Prawirosentoso, Suyadi. 2007. Filosofi Baru Tentang Manajemen Mutu Terpadu
Abad 21 “Kiat Membangun Bisnis Kompetitif”. Jakarta : Bumi Aksara.
Richard B. Chase, Nicholas J.
Aquilano and F. Robert Jacobs. 2004. Operation
Management for
Competitive Advantages. New York : Mc Graw-Hill
Companies.
Schroeder, Roger G. 2007. Manajemen Operasi.
Jilid 2-Edisi 3. Jakarta :
Penerbit Erlangga.Wendy Christian. 2013. “Implementasi
Pengendalian Kualitas Dengan Metode Statistik Pada XYZ”http://repository.ubaya.ac.id/11091/ (2 April 2015).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar