ANALISIS
PENGARUH ANGKATAN KERJA, UPAH KARYAWAN
DOMESTIK, DAN INFRASTRUKTUR TERHADAP PENANAMAN
MODAL ASING DI JAWA TENGAH MELALUI BADAN
PENANAMAN MODAL DAERAH (BPMD)
PROVINSI JATENG (PERIODE 2000-2013)
Faisal Haris Pratama, Sri Marhaeni Salsiyah, Sri Wahyuni
Jurusan Administrasi Bisnis, Politeknik Negeri Semarang
ABSTRACT
This study aims to identify and explain the impact of labor force, domestic labour wages, and
infrastructure to foreign direct investment through BPMD Central Java. Data
used in this study is secondary data and the analysis techniques used in this
study is the technique of multiple linear regression analysis, F-test for
simultaneously testing and t-test for partial testing. Results of data analysis
showed simultaneously labor force, domestic labour wages, and infrastructure
that had significant effect on foreign direct investment in Central Jawa.
F-test results show that the significant value 0.000<0.05 of significance
level with a coefficient of determination (Adjusted R2) of 0.777, which means
that the variable labor force, domestic labour wages, and infrastructure
contribution amounting to 77,7%. The remaining 22,3% was explained by other
variables. After the data were analyzed by SPSS 16 the equation of Y =
496926.173 + 0.377X1 + 0.135X2 - 21.5107X3 was founded. Partially, the labor
force have positive and not significant impact to foreign direct investment in
Central Java, the domestic labour wages have positive and significant impact to
foreign direct investment in Central Java, and infrastructure have negative and
significant impact to foreign direct investment in Central Java.
Keywords: foreign direct investment, labor force, domestic labour wages, and
infrastructure
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pembangunan ekonomi suatu Negara secara umum berorientasi
pada pertumbuhan (growth).Pembangunan
ekonomi yang mengalami pertumbuhan yaitu apabila tingkat kegiatan ekonomi masa
sekarang lebih tinggi dari pada yang dicapai pada masa sebelumnya dan dapat
dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia.Berbagai kebijakan telah ditempuh
pemerintah guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi seperti promosi untuk menarik
investor baik dari dalam negeri maupun luar negeri.Dengan semakin banyaknya
investasi yang masuk, memberikan kesempatan yang lebih luas bagi penduduk serta
mengurangi tingkat pengangguran terbuka.
Investasi bagi suatu provinsi sangat penting karena dapat
memacu pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah sehingga dapat menarik investor dalam
negeri maupun luar negeri.Namun, permasalahan yang dihadapi Jawa Tengah adalah
investasi dari penanaman modal asing (PMA) masih cukup minim dibanding dengan
penanaman modal dalam negeri (PMDN), yang dapat dilihat pada gambar 1.
GAMBAR 1
PERBANDINGAN REALISASI PMA & PMDN
DI JAWA TENGAH
TAHUN 2009-2013 ($ US)
Sumber : BPMD Provinsi Jawa Tengah
Dari gambar 1, nilai realisasi PMDN
di Jawa Tengah lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi PMA selama 5 tahun
berturut-turut. Hal ini berarti bahwa realisasi PMA di Jawa Tengah membutuhkan
perhatian dari pemerintah untuk meningkatkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
pertumbuhan PMA di Jawa Tengah. Dalam penelitian ini, akan membahas beberapa
faktor yang dapat berpengaruh terhadap PMA, diantaranya angkatan kerja, upah
karyawan domestik, dan infrastruktur.
Yang dimaksud angkatan kerja menurut
Ida Bagus Mantra (2000:225) bahwa, “angkatan kerja terdiri dari penduduk yang
bekerja,mempunyai pekerjaan tetap tetapi sementara tidak bekerja dan tidak
mempunyai pekerjaan sama sekali tetapi mencari pekerjaan aktif”. Menurut Makmun
(2004:12) yaitu : “Ketersediaan tenaga kerja menjadi salah satu pertimbangan
bagi investor untuk menanamkan modalnya”.
Faktor upah karyawan domestik juga
memiliki pengaruh terhadap PMA yang masuk di Jawa Tengah. Menurut Widyhartono (2003:284-285)
: “upah karyawan yang rendah menjadi salah satu faktor pertimbangan Negara
investor untuk melakukan investasi ke sebuah Negara, faktor ketertarikan
melakukan penanaman modal asing karena biaya tenaga kerja yang murah tersebut
sesuai dengan teori siklus produksi”. Oleh karena itulah, pemerintah senantiasa
membuat kebijakan yang dapat meningkatkan taraf hidup pekerja dengan tingkat
upah yang layak.
Kegiatan perkonomian tidak lepas dari
dukungan pemerintah salah satunya adalah dengan menyediakan fasilitas dan
infrastruktur bagi para penanam modal. Dengan adanya infrastruktur yang memadai
diharapkan dapat berpengaruh positif terhadap penanaman modal di daerah.
Dengan meningkatnya kondisi jalan
yang tergolong baik diharapkan dapat meningkatkan daya tarik investor untuk
menanamkan modalnya di Jawa Tengah karena dalam kegiatan perekonomian adalah
salah satu faktor penting. Menurut Mankiw (2004:57),“pekerja akan lebih
produktif jika mereka mempunyai alat-alat untuk bekerja.Peralatan dan
infrastruktur yang digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa disebut modal
fisik”.Hal senada juga dikemukakan Todaro (2000:143) bahwa “tingkat
ketersediaan infrastruktur di suatu Negara adalah faktor penting dan
menentukaan bagi tingkat kecepatan perluasan pembangunan ekonomi”.
Perumusan
Masalah
Permasalahan yang diajukan dalam
penelitian ini adalah :
1.
Bagaimana pengaruh angkatan kerja terhadap PMA
(penanaman modal asing) yang masuk di Jawa Tengah?
2.
Bagaimana
pengaruh infrastruktur terhadap PMA (penanaman modal asing) yang masuk di Jawa
Tengah?
3.
Bagaimana
pengaruh upah karyawan domestik terhadap PMA (penanaman modal asing) yang masuk
di Jawa Tengah?
4.
Bagaimana
pengaruh angkatan kerja, infrastruktur, dan upah karyawan domestik terhadap PMA
(penanaman modal asing) yang masuk di Jawa Tengah?
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitianini adalah sebagai berikut:
1.
Mengetahui pengaruh angkatan kerja terhadap penanaman
modal asing di Jawa Tengah.
2.
Mengetahui pengaruh infrastruktur terhadap
penanaman modal asing di Jawa Tengah.
3.
Mengetahui pengaruh upah karyawan domestik
terhadap penanaman modal asing di Jawa Tengah.
4.
Mengetahui pengaruh angkatan kerja,
infrastruktur, dan upah karyawan domestik terhadap penanaman modal asing di
Jawa Tengah.
TELAAH PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN
TEORITIS, DAN HIPOTESIS
Penanaman Modal Asing
Menurut undang-undang nomor 1 tahun 1967 tentang Penanaman
Modal Asing pada pasal 1 menyebutkan bahwa : “Pengertian penanaman modal asing
didalam undang-undang ini hanyalah meliputi penanaman modal asing secara
langsung yang dilakukan menurut atau berdasarkan ketentuan-ketentuan
undang-undang ini dan yang digunakan untuk menjalankan perusahaan di Indonesia
dalam arti bahwa pemilik modal secara langsung menanggung resiko dari penanaman
modal tersebut”.
Prof.M.Sornarajah(M.Sornarajah, dalam Salim HS dan Budi
Sutrisno,2008:149)juga memberikan definisi tentang penanaman modal asing bahwa
penanaman modal asing adalah“transfer of
tangible or intangible assets from one country to another for the purpose of use
in the country to generate wealth under the total or partialcontrol of the
owner of the assets”.Artinya penanaman modal asing merupakan transfer
modal, baik yang nyata maupun yang tidak nyata dari suatu negara ke negara
lain, tujuannya untuk digunakan di negara tersebut agar menghasilkan keuntungan
di bawah pengawasan dari pemilik modal, baik secara total atau sebagian.
Hulman Panjaitan dalam Jonker Sihombing (2008:186)
menyebutkan bahwa, “Investasi diartikan sebagai kegiatan pemanfaatan dana yang
di dalamnya terdapat unsur-unsur asing”. Keberadaan dari unsur asing tersebut
dapat dilihat dari berbagai indikator seperti adanya kewarganegaraan yang
berbeda, asal muasal modal yang berbeda, maupun indikator-indikator lainnya.
Angkatan Kerja
Di Indonesia yang dimaksud angkatan kerja adalah “penduduk
yang berusia 15 tahun ke atas yang
secara aktif melakukan kegiatan ekonomis” (Badan Pusat Statistik 1983).
Sedangkan menurut Ida Bagus Mantra (2000:25) bahwa “Angkatan kerja terdiri dari
penduduk yang bekerja, mempunyai pekerjaan tetap tetapi sementara tidak bekerja
dan tidak mempunyai pekerjaan sama sekali tetapi mencari pekerjaan secara
aktif. Mereka yang berumur 15 tahun atau tidak mencari pekerjaan karena
sekolah,mengurus rumah tangga, pension, atau secara fisik dan mental tidak
memungkinkan untuk bekerja tidak dimasukkan dalam angkatan kerja”.
Menurut Sitompul (2008:7), secara
singkat terdapat dua masalah ketenagakerjaan yang mempengaruhi minat investasi
yaitu :
1.
Kecenderungan
peningkatan upah minimum yang tinggi dan besarnya biaya-biaya non-UMP
2.
Ketidakpastian
hubungan industrial antara perusahaan dan tenaga kerja. Kedua masalah ini
mengakibatkan biaya yang berkaitan dengan biaya produksi yang menjadi tinggi.
Upah Karyawan Domestik
Upah merupakan uang dan sebagainya yang dibayarkansebagai
pembalas jasa atau sebagai pembayar tenaga yang sudahdikeluarkan untuk
mengerjakan sesuatu, gaji, imbalan, hasil akibat(dari suatu perbuatan), resiko
(Kamus Besar BahasaIndonesia, 2002:1250).Upah adalah hak pekerja/buruh yang
diterima dandinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusahaatau
pemberi kerja kepada pekerja atau buruh yang ditetapkan dandibayarkan menurut
suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atauperaturan perundang-undangan, termasuk
tunjangan bagi pekerja atau buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan atau
jasayang telah atau akan dilakukan. (Pasal 1 angka 30 Undang-UndangNomor 13
Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan)
UMP di Indonesia semakin lama semakin meningkat, sedangkan
UMP berhubungan dengan biaya produksi suatu perusahaan. Bila kenaikan biaya
produksi tidak diimbangi dengan tingkat produktivitas pekerja maka keuntungan
perusahaan akan berkurang dan tingkat investasi juga akan berkurang. Beberapa
kasus justru investor berani membayar upah yang tinggi diasumsikan pekerja
memiliki kualitas SDM yang baik dan berketerampilan. Selama upah masih berada
di titik keseimbangan produksi, maka kenaikan UMP dapat meningkatkan
produktivitas para pekerja dan meningkatkan keuntungan investor (Khasanah,2009).
Infrastruktur
Pengertian Infrastruktur, menurut Grigg (2000) adalah
“infrastruktur merupakan sistem fisikyang menyediakan transportasi, pengairan,
drainase, bangunan gedung dan fasilitas publik lainnya, yang dibutuhkan untuk
memenuhi kebutuhan dasar manusia baik kebutuhan sosial maupun kebutuhan
ekonomi”.Pengertian ini merujuk pada infrastruktur sebagai suatu sistem. Dimana
infrastruktur dalam sebuah sistem adalah bagian-bagian berupa sarana dan
prasarana (jaringan) yang tidak terpisahkan satu sama lain. Infrastruktur
sendiri dalam sebuah sistem menopang sistem sosial dan sistem ekonomi sekaligus
menjadi penghubung dengan sistem lingkungan.Ketersediaan infrastruktur
memberikan dampak terhadap sistem sosial dan sistem ekonomi yang ada di
masyarakat.
Dengan infrastruktur yang memadai, efisiensi yang dicapai
oleh dunia usaha akan makin besar dan investasi yang didapat semakin meningkat.
Todaro (2000: 143) menjelaskan bahwa tingkat ketersediaan infrastruktur di
suatu negara adalah faktor penting dan menentukan bagi tingkat kecepatan dan
perluasan pembangunan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang pesat akan berakibat
pada meningkatnya kebutuhan prasarana dan sarana sosial ekonomi. Dan permintaan
terhadap pelayanan infrastruktur akan meningkat pesat seiring dengan
pertumbuhan ekonomi suatu negara.
Kerangka Pemikiran Teoritis
Kerangka pemikiran teoritis dapat digambarkan sebagaimana Gambar 2.
Gambar 2
|
|
|
Angkatan Kerja
|
|
Upah Karyawan
domestik
|
|
Infrastruktur
|
|
Penanaman modal asing
|
|
H1
|
|
H2
|
|
H3
|
|
Y
|
hh
Sumber
: Sri Suneki 2006, Rolas Te Sillahi 2008, Dadang Firmansyah 2006
Hipotesis penelitian
Berdasarkan kerangka pemikiran teoritis di atas, maka
hipotesis penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
H1: Angkatan kerja berpengaruh
positifterhadappenanaman modal asing yang masuk di Jawa Tengah.
H2: Upah karyawan domestik berpengaruh positif
terhadap penanaman modal asing yang masuk di Jawa Tengah.
H3: Infrastruktur berpengaruh positif terhadap
penanaman modal asing yang masuk di Jawa Tengah.
METODE PENELITIAN
Alat Analisis Data
Alat analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Analisis Regresi Linier Berganda dengan melakukan uji t, uji F, koefisien
determinasi, dan uji asumsi klasik yang terdiri dari uji normalitas, uji
heterokedastisitas, uji autokorelasi, dan uji multikolinieritas. Metode
analisis ini menggunakan SPSS 16.0.Metode pengumpulan data diperoleh melalui
berbagai sumber yaitu studi pustaka dan wawancara.
Jenis Data
Menurut Udiyono (2007), data berdasarkan jenis dan sumbernya,
dibagi menjadi data primer dan data sekunder. Penelitian ini menggunakan jenis
data sekunder dimana sumber data adalah data statistik yang langsung diperoleh
dari BPS (Badan Pusat Statistik) yaitu data mengenai jumlah ketenagakerjaan,
infrastruktur, upah karyawan, dan jumlah penanaman modal asing di Jawa Tengah pada tahun 2000-2013.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Uji Asumsi Klasik
Uji Normalitas
Penggunaan statistik parametris
mensyaratkan bahwa data setiap variabel yang akan dianalisis harus
berdistribusi normal. Oleh karena itu sebelum pengujian hipotesis dilakukan,
maka terlebih dahulu akan dilakukan pengujian normalitas data. Pengujian normalitas
dengan cara melihat grafik histogram dan grafik P-P Plot of Regression
Standardized Residual. Hasil dari pengujian normalitas seperti Gambar 3.
Gambar
3
Grafik Histogram
Sumber
: Data sekunder yang diolah dengan SPSS 16.0
Dari gambar
3 dapat disimpulkan bahwa grafik histogram memberikan pola distribusi yang
sama, maka model regresi memenuhi asumsi normal. Grafik P-P Plot of Regression Standardized Residual dengan menggunakan
SPSS 16.0 dapat dilihat pada gambar 4.
Gambar 4
Grafik P-P Plot OfRegression
Standardized Residual
Sumber : Data sekunder
yang diolah dengan SPSS 16.0
Dari gambar 4 dapat disimpulkan bahwa
titik-titik menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis
diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
Uji Autokorelasi
Salah satu cara untuk mendeteksi
autokorelasi adalah dengan uji Durbin-watson. Hasil output pengujian
autokorelasi dengan bantuan SPSS 16.0
dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel
1
Pengujian
Autokorelasi
|
Model Summaryb
|
|||||||
|
Model
|
R
|
R Square
|
Adjusted R Square
|
Std. Error of the
Estimate
|
Durbin-Watson
|
||
|
1
|
.910a
|
.828
|
.777
|
15229.64878
|
1.328
|
||
Sumber : Data sekunder diolah dengan SPSS 16.0
Berdasarkan tabel 1, dengan
menggunakan tabel DW pada nilai signifikansi 5%, jumlah N=14 dan jumlah
variabel independen 3(k=3) maka diperoleh nilai dl sebesar 0,7667 dan du
sebesar 2.221 jika dibandingkan dengan nilai hasil tabel yang di masukan dalam kriteria
pengambilan keputusan didapatkan nilai 4-du sebesar 3.233. Hal ini menunjukan
nilai DW berada diantara nilai 4-du dan 4-dl, sehingga hasil kesimpulan model
regresi tidak dapat disimpulkan terjadi autokorelasi atau tidak.
Uji Heterokedastisitas
Dalam penelitian ini, uji
heterokedastisitas menggunakan scatterplot.
Hasil output pengujian
heterokedastisitas dapat dilihat pada gambar 5.
Gambar
5
Pengujian
Heterokedastisitas
Sumber : Data sekunder diolah menggunakan SPSS 16.0
Dari gambar 5 diatas terlihat bahwa titik-titik menyebar
secara acak tidak membentuk pola tertentu, serta tersebar baik diatas maupun
dibawah angka 0 pada sumbu Y. Sehingga dapat disimpulkan tidak terjadi
heterokedastisitas, sehingga model regresi layak untuk dipakai.
Uji Multikolinieritas
Multikorelasi adalah korelasi yang
sangat tinggi atau sangat rendah yang terjadi pada hubungan di antara variabel
bebas. Multikorelasi dalam penelitian ini dilihat dari nilai VIF (variance-inflating factor).Hasil output
pengujian multikolonieritas dengan bantuan SPSS 16.0 dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel
2
Pengujian
Multikolinieritas
|
Coefficientsa
|
||||||
|
Model
|
t
|
Sig.
|
Collinearity
Statistics
|
|||
|
Tolerance
|
VIF
|
|||||
|
1
|
(Constant)
|
4.786
|
.001
|
|
|
|
|
ANGKERPMA
|
1.311
|
.219
|
.557
|
1.797
|
||
|
UMK
|
5.140
|
.000
|
.256
|
3.899
|
||
|
INFRASTRUKTUR
|
-4.723
|
.001
|
.344
|
2.909
|
||
Sumber : Data sekunder diolah menggunakan SPSS 16.0
Tabel 2 menunjukkan bahwa nilai tolerance semua variabel
independent yaitu angkatan kerja, upah karyawan domestik, dan infrastruktur
mempunyai angka lebih besar dari 0.1 dan angka VIF kurang dari 10.Hal ini
menunjukkan bahwa semua variabel independent dalam penelitian ini tidak
memiliki gejala multikolinieritas dengan variabel lainnya sehingga model
regresi layak digunakan.
Uji Parsial (Uji t)
Menurut
Kuncoro (2001:97), uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh
pengaruh satu variabel penjelas secara individual dalam menerangkan variasi
variabel terikat. Hasil uji t dari data sekunder penelitian ini dapat dilihat
dengan tabel 3.
Tabel
3
Uji Parsial (Ujit)
|
Coefficientsa
|
|||||
|
Model
|
t
|
Sig.
|
|||
|
1
|
(Constant)
|
4.786
|
.001
|
||
|
ANGKERPMA
|
1.311
|
.219
|
|||
|
UMK
|
5.140
|
.000
|
|||
|
INFRASTRUKTUR
|
-4.723
|
.001
|
|||
Sumber
: Data sekunder yang diolah dengan SPSS 16.0
Berdasarkan tabel 3 dapat dilihat
bahwa upah karyawan domestik secara parsial mempunyai pengaruh positif dan
signifikan terhadap penanaman modal asing di Jawa Tengah. Sedangkan angkatan
kerja secara parsial berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap
penanaman modal asing di Jawa Tengah. Namun, infrastruktur secara parsial
berpengaruh negatif dansignifikan terhadap penanaman modal asing di Jawa
Tengah.
Uji Simultan (Uji F)
Menurut Kuncoro (2001:98), uji statistik F pada dasarnya
menunjukkan apakah semua variabel bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai
pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat. Tabel 4 disajikan hasil
uji simultan (uji F)
Tabel
4
Uji Statistik F
|
ANOVAb
|
||||||
|
Model
|
Sum of Squares
|
df
|
Mean Square
|
F
|
Sig.
|
|
|
1
|
Regression
|
1.120E10
|
3
|
3.735E9
|
16.102
|
.000a
|
|
Residual
|
2.319E9
|
10
|
2.319E8
|
|
|
|
|
Total
|
1.352E10
|
13
|
|
|
|
|
Sumber
: Data sekunder yang diolah dengan SPSS 16.0
Berdasarkan
perhitungan dengan uji F pada tabel 4 diperoleh hasil dengan tingkat
signifikansi 0,000< 0,05 berarti secara simultan terdapat pengaruh yang
signifikan antara variabel angkatan kerja, upah karyawan domestik, dan
infrastruktur terhadap penanaman modal asing yang masuk di Jawa Tengah selama
tahun 2000-2013.
Uji Koefisien Determinasi R2
Dalam Kuncoro (2001:100), Koefisien determinasi (R2)pada intinya mengukur seberapa jauh
kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel terikat. Hasil Uji (R2)
dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5
Hasil Koefisien Determinasi (R2)
|
Model Summaryb
|
|||||||||
|
Model
|
R
|
R Square
|
Adjusted R Square
|
Std. Error of the
Estimate
|
Durbin-Watson
|
||||
|
1
|
.910a
|
.828
|
.777
|
15229.64878
|
1.328
|
||||
|
a. Predictors:
(Constant), INFRASTRUKTUR, ANGKERPMA, UMK
|
|||||||||
|
b. Dependent Variable:
PMA
|
|
|
|||||||
Berdasarkan tabel 5 dapat dilihat bahwa besarnya Adjusted R2 adalah 0.777. Hal
ini berarti 77,7% variasi variabel dependent penanaman modal asing dapat
dijelaskan oleh variasi ketiga variabel independent yaitu angkatan kerja, upah
karyawan domestik, dan infrastruktur. Sedangkan sisanya (100%-77,7% = 22,3%)
dijelaskan oleh sebab-sebab yang lain diluar model.
Analisis Regresi Berganda
Analisis ini digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh
antara variabel independent angkatan
kerja, upah karyawan domestic, dan infrastruktur terhadap variabel dependent
penanaman modal asing provinsi Jawa Tengah. Hasil regresi berganda dapat dilihat
pada tabel 6.
Tabel 6
Hasil Regresi Berganda
|
Model
|
B
|
T
|
Sig
|
|
(Constant)
|
496926.173
|
4.786
|
.001
|
|
Angkatan Kerja
|
.377
|
1.311
|
.219
|
|
Upah Karyawan
|
.135
|
5.140
|
.000
|
|
Infrastruktur
|
-21.510
|
-4.723
|
.001
|
Rumus Persamaan Regresi
Persamaan regresi dalam penelitian ini dapat dilihat dari Rumus 1 sebagai
berikut:
Rumus 1
Persamaan Regresi
Y
= 496926.173 + 0.377X1 + 0.135X2 -21.5107X3
Keterangan:
Y = penanaman modal asing
X1= angkatan kerja
X2= upah karyawan domestik
X3= infrastruktur
e = standart eror
1.
Pengaruh Angkatan Kerja Terhadap PMA
Angkatan kerja secara individu memiliki pengaruh positif dan
tidak signifikan terhadap penanaman modal asing yang masuk di Jawa Tengah yang
ditunjukkan dengan melihat nilai signifikansi 0,858>0,05. Menurut teori dan
penelitian terdahulu, jumlah angkatan kerja yang tinggi diikuti dengan naiknya
jumlah investasi asing langsung yang masuk ke dalam perekonomian negara
tersebut.Pada hasil olah data penelitian ini, angkatan kerja memiliki pengaruh positif
yang berarti bahwa jumlah angkatan kerja tinggi, maka investasi asing
meningkat.Dengan demikian hipotesis yang menyatakan “angkatan kerja berpengaruh
positif terhadap penanaman modal asing yang masuk di Jawa Tengah” diterima. Namun, jika melihat
nilai signifikansi dari angkatan kerja yaitu lebih besar daripada 0,05 artinya
bahwa angkatan kerja tidak signifikan berpengaruh terhadap penanaman modal
asing di Jawa Tengah, hal ini bisa saja terjadi karena jumlah angkatan kerja
yang ada tidak semuanya memenuhi kriteria yang dicari oleh para
investor/perusahaan asing atau belum sesuai dengan keinginan para
investor/perusahaan asing.
2. Pengaruh
Upah Karyawan Domestik Terhadap PMA
Pada hasil olah data penelitian ini, upah karyawan
domestik secara individu mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap
penanaman modal asing di Jawa Tengah yang ditunjukkan dengan melihat tingkat
signifikansi sebesar 0,000<0,05. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan
“upah karyawan domestik berpengaruh positif terhadap penanaman modal asing yang
masuk di provinsi Jawa Tengah” diterima.
Hasil dari penelitian ini berbeda
dengan teori atau penelitian terdahulu yang umum dijumpai bahwa upah memiliki
pengaruh yang negatif terhadap investasi.Namun, sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Rolas
Te Silalahi (2008), bahwa para investor asing bersedia membayar upah di atas
equilibrium karena di Indonesia memiliki turnover labour yang rendah.Artinya,
para pekerja cenderung tetap atau tidak sering berpindah-pindah dari satu
perusahaan ke perusahaan lainnya.
3. Pengaruh Infrastruktur Terhadap PMA
Secara teori, infrastruktur memiliki korelasi yang positif
dengan minat berinvestasi. Namun, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
infrastruktur secara individu memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap
penanaman modal asing yang masuk di Jawa Tengah yang ditunjukkan dengan melihat
nilai signifikansi 0,001<0,05. Berpengaruhnya infrastruktur terhadap
penanaman modal asing ini disebabkan karena para investor asing dalam kegiatan
pendistribusian barang produksi tidak begitu melihat faktor kondisi jalan atau
bahkan lebih memilih menggunakan transportasi udara atau laut yang lebih aman
dan cepat.Selain itu, dengan adanya pembangunan dan perbaikan jalan maka
diikuti dengan biaya pajak yang bertambah pula sehingga para investor
menghindari pengeluaran-pengeluaran yang tidak terduga. Dalam hal lain, para
investor melihat lingkungan di sekitar perusahaan yang kegiatan pendistribusian
barangnya dekat dengan konsumen (terjangkau). Dengan demikian hipotesis yang
menyatakan “infrastruktur berpengaruh positif terhadap penanaman modal asing
yang masuk di Jawa Tengah” ditolak.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda, maka
dapat disimpulkan bahwa secara simultan atau bersama-sama variabel angkatan
kerja, upah karyawan domestik, dan infrastruktur berpengaruh signifikan
terhadap penanaman modal asing di Jawa Tengah. Secara parsial, variabel
angkatan kerja berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap penanaman
modal asing, upah karyawan domestik berpengaruh positif dan signifikan terhadap
penanaman modal asing.Sedangkan, secara parsial variabel infrastruktur
berpengaruh negatif dan signifikan terhadap penanaman modal asing yang masuk di
Jawa tengah periode tahun 2000-2013.
DAFTAR PUSTAKA
--------------------------.2010.Jawa Tengah Dalam Angka 2010.
Semarang:Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah.
--------------------------.2013.Jawa Tengah Dalam Angka 2013.
Semarang:Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah.
--------------------------.2014.Jawa Tengah Dalam Angka 2014.
Semarang:Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah.
Grigg, Neil, & Fontane G. Darrel. 2000. Infrastructure System Management & Optimization. Internasional Seminar
“Paradigm & Strategy of Infrastructure Management”.
Semarang: Universitas Diponegoro
Kodoatie, R.J dan Sjarief Roestam. 2003.
Pengantar Manajemen Infrastruktur. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Kuncoro, Mudrajad. 2001. Metode Kuantitatif Teori dan Aplikasi Untuk
Bisnis dan Ekonomi. Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan AMP YKPN
Mankiw, N. Gregory. 2001. Pengantar
Ekonomi. Jakarta: Erlangga
Mantra, Ida Bagus. 2000. Demografi Umum. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Salim, Budi Sutrisno. 2008. Hukum Investasi di Indonesia. Jakarta:
Rajawali Pers.
Sarjono, Haryadi dan Wanda Julianita.
2011. SPSS vs Lisrel Sebuah Pengantar,
Aplikasi Untuk Riset. Jakarta: Salemba empat
Sihombing, Jonker. 2008. Investasi Asing melalui Surat Utang Negara
di Pasar Modal. Bandung: PT.Alumni
Todaro, M.P. 2000. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Jakarta: Erlangga
Udiyono.
2007. Konsep
dan Penerapan Metodologi Penelitian. Jakarta: Salemba Medika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar