Jumat, 23 Oktober 2015

ANALISIS PERHITUNGAN METODE KONVENSIONAL DAN METODE ABC DALAM MENENTUKAN TARIF JASA BONGKAR MUAT INTERNASIONAL PADA TERMINAL PETI KEMAS PT PELABUHAN INDONESIA III (PERSERO) SEMARANG


ANALISIS PERHITUNGAN METODE KONVENSIONAL DAN
METODE ABC DALAM MENENTUKAN TARIF JASA BONGKAR MUAT INTERNASIONAL PADA TERMINAL PETI KEMAS PT PELABUHAN
INDONESIA III (PERSERO) SEMARANG

Faizal Satria Desitama, Poniman, Rustono
Jurusan  Administrasi Bisnis, Politeknik Negeri Semarang

ABSTRACT
Calculation of the cost of goods at first applied in manufacturing companies, but in its development calculation of the cost of service has been adapted by the service company, which is called the cost of services. The cost service have a very important role in determining the price of services.If calculation the cost of services is too low indeed will attract consumers, but led to the sale of services can not cover the cost of production of services, and otherwise, if the cost of services is too high, then the resulting selling price is too expensive, it will result in product and services less attractive to consumers.
This study aims to determine differences in rates Unloading International Container if calculated by the conventional method and the Activity based costing system method, The conventional method imposes a costs arising from rates International loading unloading using the basic costs allocation of volume services production. while the ABC method is a method of determining the cost of using the activity and cost driver as a means to calculate the cost of International loading unloading.
The research result for Unloading unloading International Container FCL 20’ and Container 20' using Conventional methods are respectively $ 80.68 and $ 60.69. Whereas calculations using the ABC method has a tariff of $ 74.80 and $ 56.27, while rates by the company is also around $ 80 and $ 60. The results Shows, Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS) does not charge rates too far from the cost, which means that although TPKS has been using its own method in determining the service rates loading unloading of containers, but it already covers the entire needs of the cost of loading unloading. However, by using the ABC method, TPKS can appropriately plan budget in detail. ABC method can also provide information of production costs that is more accurate and informative.

Key Words : Conventional method, Activity based costing system (ABC) method, rates of loading unloading International Container.



PENDAHULUAN
Perkembangan dunia usaha akhir – akhir ini mengalami persaingan global yang sangat ketat, dimana perusahaan tidak hanya menghadapi pesaing lokal tetapi juga pesaing internasional, hal ini telah menciptakan perubahan dalam model dan praktek manajemen. Kondisi ini menjadikan manajer yang bertanggungjawab untuk menentukan strategi perusahaan, sehingga manajer sangat memerlukan informasi yang akurat sebagai landasan dalam mengambil berbagai kebijaksanaan, terutama kebijaksanaan penentuan harga pokok produksi. Perhitungan harga pokok pada awalnya diterapkan dalam perusahaan manufaktur, akan tetapi dalam perkembangannya perhitungan harga pokok telah diadaptasi oleh perusahaan jasa, perusahaan dagang, dan sektor nirlaba. Harga pokok mempunyai peranan yang sangat penting dalam menentukan harga jual produk/jasa.
Penetapan biaya yang lebih tepat akan menghasilkan harga pokok produksi / jasa yang lebih akurat. Oleh karena itu, perusahaan harus benar-benar serius menangani harga pokok produksi / jasanya. Inilah yang mendasari dikembangkannya metode Activity Based Costing System (ABC). Activity Based Costing (ABC) telah menjadi ungkapan popular untuk mendeskripsikan teknik-teknik baru dalam akuntansi manajemen.
Berdasarkan hasil survey dengan pihak manajemen penetapan tarif yang di diterapkan di Terminal Petikemas Semarang berdasarkan kesepakatan anggota Asosiasi INSA (Indonesia National Shipowners Association) dan pihak manajemen TPKS dengan memperhatikan pendekatan Harga jual jasa / pentarifan dari 2 (dua) pesaing utamanya, yaitu Terminal Petikemas Surabaya (TPS) dan Jakarta Internasional Terminal Container (PT JITC).
Terminal Petikemas Semarang merupakan salah satu cabang PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) yang memberikan pelayanan jasa bongkar muat petikemas. Terminal petikemas semarang (TPKS) dalam melakukan pentarifan, terdiri dari 3 segemen Usaha, yaitu, Bongkar / Muat baik Internasional dan Domestik, Lapangan dan gudang / CFS (Container Freight Station).
Berdasarkan hasil survey dengan pihak manajemen penetapan tarif yang di diterapkan di Terminal Petikemas Semarang berdasarkan kesepakatan anggota Asosiasi INSA (Indonesia National Shipowners Association) dan pihak manajemen TPKS dengan memperhatikan pendekatan Harga jual jasa / pentarifan dari 2 (dua) pesaing utamanya, yaitu Terminal Petikemas Surabaya (TPS) dan Jakarta Internasional Terminal Container (PT JITC).
Batasan masalah dalam penelitian ini dipusatkan pada perhitungan tarif jasa Bongkar / Muat (Loading – Discharging) FCL (Full Container Load) Petikemas 20’ (dua puluh feet) dan tarif Petikemas kosong (Empty Container) 20’ (dua puluh feet) tahun 2015. Produk jasa tersebut dipilih karena jasa Bongkar / Muat (Loading – Discharging) FCL Petikemas 20’ dan petikemas kosong 20’ merupakan produk jasa unggulan dan merupakan ukuran standar dari petikemas. Ukuran standart petikemas dimulai dari panjang 20 feet, maka 1 petikemas 20’ dinyatakan dalam 1 TEUS (Twenty Foot Equivalent Units) dan petikemas 40’ dinyatakan dalam 2 TEUS.
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
1.         Untuk mengetahui besarnya tarif / harga jual jasa khusus bongkar/ muat (Loading - Discharging) internasional yang telah diterapkan saat ini (tahun 2015 yang sudah berlaku sejak tahun 2013) berdasarkan pendekatan penawaran harga pesaing, kemudian menghitungnya dengan metode konvensional dan Activity Based Costing (ABC).
2.         Untuk mengetahui adakah perbedaan tarif / harga jual jasa khusus jasa bongkar /muat (Loading Discharging) internasional yang telah diterapkan perusahaan saat ini berdasarkan pendekatan penawaran harga pesaing, dengan perhitungan metode konvensional dan perhitungan metode Activity Based Costing (ABC).

TINJAUAN PUSTAKA
Harga Jual
Krismiaji dan Anni (2011:326) menyatakan harga jual adalah upaya untuk menyeimbangkan keinginan untuk memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari perolehan pendapatan yang tinggi dan penurunan volume penjualan jika harga jual yang dibebankan ke konsumen terlalu mahal, sementara menurut Murti dan Soeprihanto (2007:281), harga adalah “jumlah uang (ditambah beberapa produk kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatakan sejumlah kombinasi dari barang beserta pelayananya”.
Menurut mulyadi (2005), harga jual adalah “Besarnya harga yang akan dibebankan ke konsumen yang diperoleh atau dihitung dari biaya produksi ditambah biaya nonproduksi”, dan menurut Alimisyah dan padji (2003:301), “harga jual meliputi biaya yang dikeluarkan untuk produksi dan distribusi, ditambah dengan laba yang diinginkan”. Menurut Tjiptono (2007:151), “harga merupakan satuan moneter atau ukuran lainnya (termasuk barang dan jasa lainnya) yang ditukarkan agar memperoleh hak kepemilikan atau penggunaan suatu barang atau jasa”.
Krismiaji & Aryani (2011:325) menyatakan bahwa pendekatan umum dalam penentuan harga jual adalah menambahkan angka perkiraan laba (markup) pada harga pokok. Markup adalah selisih antara harga jual dan harga pokok produk. Markup biasanya berupa persentase tertentu dari harga pokok produk. Pendekatan ini disebut dengan cost-plus pricing karena persentase markup yang telah ditentukan dimuka ditambahkan pada angka harga pokok untun menentukan harga jual.

Harga Pokok Produksi
Harga pokok produk menurut Putikadea (2011), menyatakan penjumlahan dari biaya yang dibagikan ke produk untuk tujuan tertentu. Harga pokok produk merupakan salah satu hal penting yang perlu di perhatikan oleh perusahaan baik perusahaan manufaktur, perusahaan jasa maupun perusahaan dagang. Penetapan harga pokok produk yang  tepat akan memberikan manfaat bagi perusahaan itu sendiri, sementara menurut Mulyadi (2009: 22) menyatakan “istilah harga pokok juga digunakan untuk menunjukkan pengorbanan sumber ekonomi dalam pengolahan bahan baku menjadi produk jadi”.
Sistem Akuntansi Konvensional
Mengenai Metode konvensional / Tradisional Kholmi dan Yuningsih (2004:27) menjelaskan bahwa sistem akuntansi biaya tradisional hanya memusatkan pada ukuran output aktifitas yang didasarkan pada volume produksi. Pendekatan tradisional mengasumsikan bahwa semua biaya dapat diklasifikasikan sebagai biaya tetap dan variabel sesuai dengan perubahan unit atau volume produk yang diproduksi. Sedangkan menurut Carter terjemahan Krista (2009:532) menjelaskan bahwa sistem perhitungan biaya tradisional ditandai oleh penggunaan ukuran yang berkaitan dengan volume atau ukuran tingkat unit sebagai dasar untuk mengalokasikan overhead ke output. Oleh karena itu, sistem tradisional juga disebut dengan sistem berbasis unit (unit-based system).
Sistem Penentuan Biaya Berdasarkan Aktivitas (ABC)
Hongren (2009: 101), mendefinisikan ABC (Activity Based Costing) sebagai suatu sistem pendekatan perhitungan biaya yang dilakukan berdasarkan aktivitas-aktivitas yang ada di perusahaan. Sistem ini dilakukan dengan dasar pemikiran bahwa penyebab timbulnya biaya adalah aktivitas yang dilakukan dalam suatu perusahaan, sehingga wajar bila pengalokasian biaya-biaya tidak langsung dilakukan berdasarkan aktivitas tersebut. Sedangkan menurut Blocher, et al  (2011:222),  menyatakan bahwa  fokus utama Activity Based Costing adalah aktivitas. Sedangkan menurut Simamora (2012: 96 ), sistem penentuan biaya pokok berbasis aktivitas (Activity Based Costing system) ialah sistem akuntansi yang terfokus pada aktivitas-aktivitas yang dilakukan untuk menghasilkan produk atau jasa.
Bongkar / Muat Internasional
Menurut sudjatmiko (1997:384) bongkar muat adalah sesuatu pemindahan barang dari suatu tempat ketempat lain, dan bisa juga dikatakn pembongkaran barang dari kapal ke dermaga lalu kegudang dan juga sebaliknya dari gudang ke dermaga kemudian diangkat ke kapal. penyediaan jasa bongkar muat adalah perusahaan yang melakukan kegiatan bongkar muat ( stevedoring, cargodoring, dan receiving and delivery ).
Ruang Lingkup pentarifan bongkar / muat (Loading – Discharging) yang hanya dikhususkan untuk kapal internasional atau antarbangsa dengan menggunakan mata uang Dollar ($) Amerika Serikat di PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) cabang Terminal Petikemas Semarang kegiatannya meliputi :
1.      Loading : adalah aktifitas pergerakan Container dari Main Container yard (CY 01)/ lapangan penumpukan 01 menuju dermaga ke kapal untuk dimuat.
2.      Unloading/discharge : adalah aktifitas pergerakan Container dari kapal menuju ke Main Container yard (CY 01)/lapangan penumpukan 01 untuk di stack.
3.      Lift on : adalah pekerjaan mengangkat Container dari tempat penumpukan ke atas chasis dengan menggunakan transtainer/top loader atau alat lain.
4.      Lift off : adalah pekerjaan mengangkat Container dari atas chasis ke tempat penumpukan dengan menggunakan transtainer / top loader atau alat lain.
5.      Trucking / haulage : adalah pekerjaan mengangkut petikemas dengan menggunakan chasis dalam daerah kerja pelabuhan dari lambung kapal ke Main Container yard (CY 01) /lapangan penumpukan 01 atau sebaliknya.
Kerangka Pemikiran Teoritis
Kerangka Pemikiran.jpg
Sumber : Terminal Petikemas Semarang (2015)



METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di PT PELINDO III (Persero) cabang Terminal Petikemas Semarang (TPKS) yang terletak Jl. Coaster No. 10A Semarang Jawa Tengah, Indonesia.
Teknik Pengumpulan Data
a.    Wawancara
Menurut Dantes (2012:85) “Wawancara ialah tanya jawab antara petugas dengan responden, biasanya petugas membawa pertanyaan untuk diisi dengan keterangan yang diperoleh dengan wawancara”.
b.    Dokumentasi
Merupakan teknik penelitian yang digunakan untuk memperoleh data informasi yang relevan dengan cara pengumpulan data yang lalu yang ada dalam perusahaan (Suprapto, 1997:7).
c.    Studi Pustaka
Menurut Supardi (2005:62) “Studi pustaka adalah kegiatan membaca, mencermati, mengenali dan mengurai bahan bacaan (pustaka)”. Dalam metode ini, peneliti membaca, mengkaji serta mempelajari buku-buku dari perpustakaan Politeknik Negeri Semarang, serta buku-buku referensi dari sumber pustaka lain yang sesuai dengan materi Skripsi.
Jenis Data
a.         Data Primer
Data primer adalah data yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti dari sumber pertama (Suliyanto, 2009: 131).  Data ini diperoleh dari hasil wawancara dengan pihak responden di PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) Cabang Terminal Petikemas Semarang (TPKS) hasil dari wawancara ini berupa perhitungan Tarif jasa bongkar muat internasional, daftar aktivitas yang berkaitan dengan perhitungan Tarif bongkar muat internasional, rata – rata gaji Operator CC dan Operator RTG, rata – rata gaji Planner, rata – rata gaji Foreman kapal pada PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) Cabang Terminal Petikemas Semarang (TPKS).
b.        Data Sekunder
Data Sekunder yaitu data yang diperoleh dari perusahaan dalam bentuk dokumentasi seperti sejarah berdirinya perusahaan, struktur organisasi, kegiatan perusahaan, data arus petikemas Internasional dan domestik Tahun 2014 / 2015, data biaya gaji tally kapal, tally lapangan, foreman, data pemeliharaan CC, Head Truck, RTG, Main CY (CY 01), data Konsumsi Listrik pada CC, data konsumsi energi BBM pada RTG dan Head Truck dan data kelengkapan lainnya.
Teknis Analisis
Teknik Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Mengetahui penetapan tarif yang berlaku di perusahaan saat ini (Tahun 2015) yang sudah berlaku sejak tahun 2013.
2.      Melakukan perhitungan Tarif dengan sistem Konvensional.
3.      Melakukan perhitungan Tarif dengan Metode Activity Based Costing.
4.      Melakukan perbandingan antara perhitungan Tarif yang berlaku di perusahaan saat ini, dengan perhitungan sistem Konvensional dan perhitungan Metode Activity Based Costing.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Perhitungan Metode Konvensional
Total Biaya Bongkar Muat Periode Juli 2014 sampai Juni 2015 dijelaskan dalam tabel 1.
Tabel 1
Total Biaya Bongkar / Muat Periode Juli 2014 s/d Juni 2015 Metode Konvensional
No
Jenis Biaya
Total
1
Biaya Planner
Rp1.064.756.675
2
Biaya Handling CC
Rp 43.032.381.697
3
Biaya Haulage
Rp 26.400.573.920
4
Biaya LOLO
Rp 48.806.657.162
5
Biaya Tally
Rp 537.304.500
6
Biaya Foreman Kapal
Rp 1.248.000.000
7
Biaya CY 01
Rp102.151.780,23
8
Biaya Lain - lain
Rp 47.841.736.086
Jumlah
Rp169.033.561.820,23
Sumber : Data sekunder diolah, Juli 2014 s/d Juni 2015
Biaya Bongkar / Muat Khusus Petikemas 20’ Metode Konvensional.
Biaya bongkar / muat khusus petikemas 20’ periode Juli 2014 s/d Juni 2015 diketahui dengan cara mengkalikan total biaya bongkar / muat periode Juli 2014 s/d Juni 2015 dengan perbandingan rasio produksi petikemas Internasional 20’ periode Juli 2014 s/d Juni 2015 (baik Petikemas FCL dan Empty) dan total produksi petikemas periode Juli 2014 s/d Juni 2015, atau dapat ditulis formulasi sebagai berikut :
=Rp169.033.561.820,23×
= Rp169.033.561.820,23× 0,36317
= Rp 61.389.055.704,62
Penentuan Harga Pokok Jasa Metode Konvensional
Penentuan Harga Pokok Jasa Bongkar / Muat Internasional Petikemas FCL 20’ dan Petikemas Empty 20’ metode konvensional adalah dengan membagi total biaya khusus Bongkar /Muat Internasional periode Juli 2014 s/d Juni 2015 dibagi dengan satu unit cost driver, yaitu jumlah produksi Bongkar Muat Internasional periode Juli 2014 s/d Juni 2015 :
=
= Rp 453.387,02 tiap petikemas
Perhitungan metode Konvensional baik harga pokok jasa bongkar / muat Internasional petikemas FCL 20’ dan Empty 20’ sama dikarenakan tingkat konsumsi biaya yang sama, dan perhitungan metode konvensional hanya menggunakan satu unit cost driver saja.
Penentuan Tarif Metode Konvensional
Tarif Petikemas FCL 20’ = Harga Pokok Jasa + mark up 126%
= Rp453.387,02 + (Rp453.387,02 × 126%)
= Rp453.387,02 + (Rp571.267,64)
= Rp1.024.654,66
Tarif Petikemas FCL 20’ dalam Dollar Amerika Serikat ($),
=
= $ 80,68
Tarif Petikemas Empty 20’ = Harga Pokok Jasa + mark up 70%
= Rp453.387,02 + (Rp453.387,02 × 70%)
= Rp453.387,02 + (Rp317.370,91)
= Rp770.757,93
Tarif Petikemas Empty 20’ dalam Dollar Amerika Serikat ($),
=
= $ 60,69
Penentuan tarif jasa metode Konvensional dapat dijelaskan dalam tabel 2



Tabel 2
Tarif Bongkar Muat Internasional Metode Konvensional
Petikemas FCL 20’
Petikemas Empty 20’
$ 80,68
$ 60,69

Perhitungan Tarif Metode Activity Based Costing (ABC)
Perhitungan Tarif jasa bongkar / muat Internasional dengan metode activity based costing system dilakukan dengan langkah – langkah sebagai berikut:
1.      Pengidentifikasian aktivitas
Aktivitas – aktivitas yang ada pada pelayanan jasa Bongkar  muat Internasional di Terminal Petikemas Semarang (TPKS) Dijelaskan dalam tabel 3.
Tabel 3
Identifikasi Aktivitas
No
AKTIVITAS
1
Aktivitas Admin
2
Aktivitas Handing CC
3
Aktivitas Pemeliharaan CC
4
Aktivitas Haulage
5
Aktivitas Pemeliharaan HT
6
Aktivitas Lift On dan Lift Off
7
Aktivitas Pemeliharaan RTG
8
Aktivitas Pemeliharaan CY 01
9
Aktivitas Penunjang Lainnya
Sumber : Terminal Petikemas Semarang, 2015
2.      Pembebanan Biaya dari aktivitas – aktivitas dan penentuan Cost Driver.
Tabel 4
Pembebanan Biaya dan Penentuan Cost Driver
Aktivitas
Jenis Biaya
Jumlah Biaya
Cost Driver
Aktivitas Admin.
Biaya Gaji Planner
Rp 1.008.000.000
Jumlah Produksi dalam 1 tahun
Biaya Penyusutan Fasilitas Ruang Planner
Rp 19.701.875
Jumlah Produksi dalam 1 tahun
Biaya Konsumsi Listrik Planner
Rp37.054.800
Jumlah Produksi dalam 1 tahun
Aktivitas Handling CC
Biaya Gaji Operator CC
Rp 5.184.000.000
Jumlah Produksi dalam 1 tahun
Biaya Konsumsi Listrik CC
Rp 2.333.464.272
Jam Kerja Mesin CC
Biaya Penyusutan Fasilitas Ruang Operator CC
Rp 2.037.500
Jumlah Produksi dalam 1 tahun
Biaya Gaji Tally
Rp534.492.000
Jumlah Produksi dalam 1 tahun
Biaya Penyusutan Fasilitas ruang Tally
Rp2.812.500
Jumlah Produksi dalam 1 tahun
Biaya Gaji Foremen Kapal
Rp1.248.000.000
Jumlah Produksi dalam 1 tahun

Aktivitas Pemeliharaan CC
Biaya Pemeliharaan CC
Rp 4.356.629.925
Jam Kerja Mesin CC
Biaya Penyusutan Alat CC
Rp 31.156.250.000
Jam Kerja Mesin CC
Aktivitas Haulage
Biaya Gaji Operator HT
Rp3.454.755.420
Jumlah Produksi dalam 1 tahun
Biaya Konsumsi BBM
Rp 8.098.837.500
Jam Kerja Mesin HT
Aktivitas Pemeliharaan HT
Biaya Pemeliharaan HT
Rp9.690.731.000
Jam Kerja Mesin HT
Biaya Penyusutan alat HT
Rp 5.156.250.000
Jam Kerja Mesin HT
Aktivitas LOLO
Biaya Operator RTG
Rp6.336.000.000
Jumlah Produksi dalam 1 tahun
Biaya Konsumsi BBM
Rp14.826.962.500
Jam Kerja Mesin RTG
Biaya Penyusutan Fasilitas Ruang Operator RTG
Rp2.870.000
Jumlah Produksi dalam 1 tahun
Aktivitas Pemeliharaan RTG
Biaya Pemeliharaan RTG
Rp5.503.324.662
Jam Kerja Mesin RTG
Biaya Penyusutan alat RTG
Rp 22.137.500.000
Jam Kerja Mesin RTG
Aktivitas Pemeliharaan CY 1
Biaya Pemeliharaan CY 01
Rp 99.651.780,23
Jumlah Produksi dalam 1 tahun
Biaya Penyusutan Fasilitas Inventaris CY 01
Rp2.500.000
Jumlah Produksi dalam 1 tahun
Aktivitas lain - lain
Biaya Lain - lain
Rp 47.841.736.086
Jumlah Produksi dalam 1 tahun
Sumber : Terminal Petikemas Semarang, 2014 / 2015




3.      Alokasi Perhitungan Metode ABC
Pengalokasian Pemicu Biaya dari setiap Jenis Petikemas Internasional dapat dijelaskan dalam tabel 5.

Tabel 5
Pengalokasian Ukuran Pemicu Biaya Bongkar / Muat Petikemas Internasional Metode ABC
Jenis Peti Kemas
Jenis Pemicu Biaya
Jumlah Produksi (Box)
Jam Kerja CC (Jam)
Jam Kerja HT (Jam)
Jam Kerja RTG (Jam)
FCL
20’
111887
5901,21
44399,60
13830,28
40’
192019
10127,58
76198,02
23735,35
45’
1980
104,43
785,71
244,75
EMPT Y
20’
23514
1240,19
9330,95
2906,55
40’
26259
1384,97
10420,24
3245,86
45’
791
41,72
313,89
97,78
Total
356450
18800,10
44060,57
141448,41
Sumber : Terminal Petikemas Semarang, 2014 / 2015
4.      Penentuan Tarif Kelompok
Penentuan Tarif Kelompok / Cost Pool dengan cara membagi total biaya kelompok aktivitas dibagi dengan pemicu biaya yang sama. Tarif kelompok dapat dijelaskan dalam tabel 6.



Tabel 6
Penentuan Tarif Kelompok dengan metode ABC
Cost Pool I
Biaya Gaji Planner
Rp 1.008.000.000
Biaya Penyusutan Fasilitas Ruang Planner
Rp 19.701.875
Biaya Konsumsi Listrik Planner
Rp 37.054.800
Biaya Gaji Operator CC
Rp 5.184.000.000
Biaya Penyusutan Fasilitas Ruang Operator CC
Rp 2.037.500
Biaya Gaji Tally
Rp534.492.000
Biaya Gaji Foremen Kapal
Rp1.248.000.000
Biaya Penyusutan Fasilitas ruang Tally
Rp2.812.500
Biaya Gaji Operator HT
Rp3.454.755.420
Biaya Gaji Operator RTG
Rp6.336.000.000.
Biaya Penyusutan Fasilitas Ruang Operator RTG
Rp2.870.000.
Biaya Pemeliharaan CY 1
Rp 99.651.780,23
Biaya Penyusutan Fasilitas Inventaris CY 01
Rp 2.500.000
Biaya Lain - lain
Rp 47.841.736.086
Total Biaya
Rp65.773.611.961,23
Jumlah Produksi (Box Petikemas)
372.824 Box
Pool Rate I (Total Biaya : Jumlah Produksi)
Rp 176.420,01
Cost Pool II
Biaya Konsumsi Listrik CC
Rp 2.333.464.272
Biaya Pemeliharaan CC
Rp 4.356.629.925
Biaya Penyusutan Alat CC
Rp 31.156.250.000
Total Biaya
Rp37.846.344.197
Jumlah Jam Kerja Alat CC (Jam)
18.742 Jam
Pool Rate II (Total Biaya : Jumlah Jam Kerja Alat CC)
Rp 2.019.333,27
Cost Pool III
Biaya Konsumsi BBM HT
Rp8.098.837.500.
Biaya Pemeliharaan HT   
Rp9.690.731.000.
Biaya Penyusutan alat HT
Rp 5.156.250.000.
Total Biaya
Rp22.945.818.500
Jumlah Jam Kerja Alat Head Truck (Jam)
153.477 Jam
Pool Rate III (Total Biaya : Jumlah Jam Kerja Alat HT)
Rp 149.506,56
Cost Poll IV
Biaya Konsumsi BBM RTG
Rp 14.826.962.500.
Biaya Pemeliharaan RTG
Rp 5.503.324.662.
Biaya Penyusutan Alat RTG
Rp 22.137.500.000
Total Biaya
Rp 42.467.787.162
Jumlah Jam Kerja Alat RTG (Jam)
67.209 Jam
Pool Rate IV (Total Biaya : Jumlah Jam Kerja Alat RTG)
Rp631.876,49
Sumber : Terminal Petikemas Semarang, 2014 / 2015
5.      Pembebanan Biaya ke Produk.
Membebankan biaya ke produk dengan cara mengkalikan tarif masing – masing Cost Pool dengan Ukuran Pemicu Biaya, pembebanan biaya ke produk dijelaskan pada tabel di bawah :
a.       Petikemas FCL 20’
Pembebanan biaya ke produk jasa Petikemas FCL 20’ dijelaskan dalam tabel 7.
Tabel 7
Pembebanan Biaya ke Produk Metode ABC 1
Petikemas FCL 20’
Pool Rate
Jumlah (A)
Alokasi (B)
Jumlah (A×B)
Pool Rate I
Rp 176.420,01
111.887
Rp19.739.105.658,87
Pool Rate II
Rp 2.019.333,27
5.901,21
Rp 11.916.509.686,26
Pool Rate III
Rp 149.506,56
44.399,60
Rp 6.638.031.461,38
Pool Rate IV
Rp 631.876,49
13.830,28
Rp 8.739.028.782,12
Total Biaya B/M internasional Petikemas FCL 20’ periode juli 2014 s/d juni 2015
Rp 47.032.675.588,62
Jumlah Petikemas yang diproduksi (box)
111.887
Harga Pokok Produk Jasa (HPP) B/M Petikemas FCL 20’ periode juli 2014 s/d juni 2015 Per Box
Rp 420.358,72
Sumber : Terminal Petikemas Semarang, 2014 / 2015
b.      Petikemas Empty 20’
Pembebanan biaya ke produk jasa Petikemas FCL 20’ dijelaskan dalam tabel 8.
Tabel 8
Pembebanan Biaya ke Produk Metode ABC 1
Petikemas Empty 20’
Pool Rate
Jumlah (A)
Alokasi (B)
Jumlah (A×B)
Pool Rate I
Rp 176.420,01
23.514
Rp 4.148.340.115,14
Pool Rate II
Rp 2.019.333,27
1.240,19
Rp 2.504.356.928,12
Pool Rate III
Rp 149.506,56
9.330,95
Rp 1.395.038.236,03
Pool Rate IV
Rp 631.876,49
2.906,55
Rp 1.836.580.612,01
Total Biaya B/M internasional Petikemas Empty 20’ periode juli 2014 s/d juni 2015
Rp 9.884.315.891,30
Jumlah Petikemas yang diproduksi (box)
23.514
Harga Pokok Produk Jasa (HPP) B/M Petikemas Empty 20’ periode juli 2014 s/d juni 2015 Per Box
Rp 420.358,76
Sumber : Terminal Petikemas Semarang, 2014 / 2015
6.      Perhitungan Tarif Petikemas dan Penentuan Mark up Metode ABC
Petikemas FCL 20’ = HPP Jasa petikemas + Mark up 126%
= Rp 420.358,72 + (Rp 420.358,72 × 126%)
= Rp 420.358,72 + Rp 529.651,98
= Rp 950.010,70
Tarif Petikemas dalam Dollar Amerika Serikat (AS),
=
=
= $ 74,80
Petikemas Empty 20’ = HPP Jasa petikemas + Mark up 70%
= Rp 420.358,76 + ((Rp 420.358,76 × 70%)
= Rp 420.358,76 + Rp 294.251,13
= Rp 714.609,89
Tarif Petikemas dalam Dollar Amerika Serikat (AS),
=
=
= $ 56,27
Perhitungan Tarif metode ABC di atas dapat disajikan dengan tabel 9.
Tabel 9
Tarif Petikemas Metode ABC
Petikemas FCL 20’
Petikemas Empty 20’
$ 74,80
$ 56,27
Perbandingan Penetapan Tarif Jasa Bongkar / Muat sistem Penentuan Tarif oleh Perusahaan, Metode Konvensional dan Metode Activity Base Costing.
Perbandingan Penentuan ke tiga Tarif, Tarif Oleh Perusahaan, Perhitungan metode Konvensional dan Metode ABC dijelaskan dalam tarif sebagaimana Tabel 10.
Tabel 10
Perbandingan Penetapan Tarif Ketiga Metode
Jenis Petikemas
Metode Penetapan Tarif B/M Internasional
Perusahaan
Konvensional
ABC
FCL 20’
$ 80
$ 80,68
$ 74,80
Empty 20’
$ 60
$ 60,69
$ 56,27

KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan hasil penelitian, maka dapat diambil beberapa kesimpulan :
1.      Penetapan tarif oleh PT Pelindo III (Persero) cabang TPKS untuk jasa bongkar atau muat Internasional “Petikemas FCL 20 feet” sebesar $ 80 dan “Petikemas Empty 20 feet” $ 60
2.      Hasil perhitungan tarif Metode Konvensional untuk produk jasa bongkar atau muat internasional “Petikemas FCL 20 feet” sebesar $ 80,68 dan “petikemas Empty 20 feet” sebesar  $ 60,69.
3.      Hasil perhitungan tarif Metode ABC untuk produk jasa bongkar atau muat internasional “Petikemas FCL 20 feet” sebesar $ 74,80 dan “petikemas Empty 20 feet” sebesar $ 56,27.
4.      Hasil Penetapan tarif oleh PT Pelindo III (Persero) cabang TPKS dibandingkan dengan metode Konvensional, maka metode konvensional memberikan hasil yang lebih besar untuk kedua jenis jasa Petikemas, dengan selisih untuk produk jasa bongkar atau muat internasional “Petikemas FCL 20 feet” sebesar $ 0,68 dan untuk produk jasa “petikemas Empty 20 feet” dengan selisih $ 0,69.
5.      Hasil Penetapan tarif oleh PT Pelindo III (Persero) cabang TPKS dibandingkan dengan metode Activity Based Costing system, maka metode Activity Based Costing system memberikan hasil yang lebih kecil untuk kedua jenis petikemas, dengan selisih untuk produk jasa bongkar atau muat internasional “Petikemas FCL 20 feet” sebesar $ 5,20 dan untuk produk jasa “petikemas Empty 20 feet” dengan selisih $ 3,73.
6.      Dari hasil perhitungan Tarif metode konvensional dibandingkan dengan metode Activity Based Costing system maka metode Activity Based Costing system memberikan hasil yang lebih kecil untuk kedua produk jasa. Dengan selisih untuk jasa bongkar atau muat internasional “petikemas FCL 20 feet” sebesar $ 5,88 dan “petikemas empty 20 feet” sebesar $ 4,42. Perbedaan yang terjadi antara perhitungan tarif secara konvensional dengan metode Activity Based Costing system, disebabkan karena adanya distorsi dari pembebanan biaya Bongkar atau Muat secara konvensional yang dialokasikan atas dasar satu unit cost driver saja, yaitu jumlah produksi jasa petikemas, sedangkan TPKS memiliki perbedaan aktivitas dalam produksi jasa yang alokasi biayanya tidak hanya didasarkan pada ukuran jumlah produksi jasa petikemas saja. Sehingga dalam metode Activity Based Costing system telah mampu mengalokasikan kelompok biaya aktivitas ke setiap Petikemas secara tepat.
7.      Perhitungan tarif menggunakan metode Activity Based Costing system menghasilkan tarif atau harga jual jasa yang lebih akurat dibandingkan dengan penetapan tarif oleh Terminal Petikemas Semarang (TPKS) dengan memperhatikan pendekatan tarif pesaing, dan perhitungan tarif secara konvensional. Karena biaya pelayanan jasa bongkar atau muat Internasional pada masing – masing petikemas dibebankan pada banyak pemicu biaya / cost driver, sehingga pembebanan biaya ke setiap produk jasa tepat sesuai konsumsi masing – masing kelompok aktivitasnya. Hasil perhitungan tarif menggunakan metode Activity Based Costing system lebih kecil jika dibandingkan dengan penetapan tarif oleh perusahaan dan perhitungan secara konvensional. Tarif atau harga jual jasa yang lebih murah tetapi tanpa mengurangi laba yang diinginkan oleh Perusahaan, akan membuat pengguna jasa setia terhadap produk jasa yang ditawarkan oleh Terminal Petikemas Semarang (TPKS), dan menjadi bahan perhitungan bagi pengguna jasa lain yang belum menggunakan jasa dari Terminal Petikemas Semarang (TPKS) agar menggunakan jasa yang telah ditawarkan oleh Terminal Petikemas Semarang (TPKS).
SARAN
Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) cabang Terminal Petikemas Semarang (TPKS), sebaiknya perusahaan menerapkan metode activity based costing system dalam perhitungan tarif atau harga jual jasanya, walaupun selama ini Terminal Petikemas Semarang menggunakan metodenya sendiri dalam menentukan tarif bongkar / muat petikemas, namun hal tersebut sudah mencakup keseluruhan kebutuhan biaya bongkar / muat. Hanya saja, dengan menggunakan metode Activity Based Costing system, Terminal Petikemas Semarang dapat merencanakan anggaran secara tepat, terperinci, dan terprogram. Metode activity based costing system juga dapat memberikan Informasi biaya produksi jasa yang lebih akurat dan informatif. Tingkat akurasi ini sangat penting bagi perusahaan dalam menetapkan keputusan yang berkaitan dengan manajemen perusahaan khususnya pentarifan atau penetapan harga jual jasanya. Selain itu, Jika menerapkan metode Activity Based Costing system dalam penentuan tarifnya, Terminal Petikemas Semarang akan memperoleh keuntungan dalam jangka panjang, yaitu dengan menetapkan harga jual jasa yang lebih murah maka TPKS dapat memperbesar pangsa pasar, dan akan lebih beratahan dalam menghadapi persaingan yang semakin sempurna.


DAFTAR PUSTAKA
Aliminsyah dan Padji, 2003. Kamus Istilah Keuangan dan Perbankan, Bana Widya, Bandung.
Blocher, Edward  J., Stout, David E., Cokins, Gary. 2011. Manajemen Biaya  (Penekanan Strategis). Salemba Empat. Jakarta. 
Carter, William K. 2009. Akuntansi Biaya. Edisi 14. Salemba Empat. Jakarta.
Harnanto. 1992. Akuntansi Biaya dan Untuk Perhitungan Harga Pokok Produk. Penerbit dan Percetakan BPFE: Yogyakarta.
Horngren, Charles T., Harrison, Wallter T. 2008. Acounting. Pearson Prentice Hall. Jakarta.
----------------------------.2009.Pengantar Akuntansi Manajemen. Edisi 7. Erlangga. Jakarta.
Kholmi, Masiyah, dan Yuningsih. 2004. Akuntansi Biaya. Malang: UMM Press.
Krismiaji. 2002. Dasar – Dasar Akuntansi Manajemen. Edisi 1. UPP STIM YKPN, Yogyakarta.
-----------, Y Anni Aryani. 2011. Akuntansi Manajemen. Edisi 2. UPP STIM YKPN, Yogyakarta.
Mulyadi. 2005.”Akuntansi Biaya“. Edisi ke-5 Cetakan ke-8 Aditya Media.Yogyakarta.
-----------. 2009. Akuntansi Biaya. Penerbit Aditya Media. Yogyakarta.
Putikadea. 2011. Penentuan harga pokok penjualan kamar “deluxe”dengan menggunakan metode Activity Based Costing pada resort G-Land Joyo Camp tahun 2010. Skripsi. Universitas Negeri Surabaya. Surabaya.
Rudianto. 2006. Akuntansi Manajemen. PT. Grasindo. Jakarta.
Simamora, Henry. 2012. Akuntansi Manajemen. Edisi ke-3. Star Gate Publisher. Riau.
Soemarso S.R . 2007. Akuntansi Suatu Pengantar .Jilid 1.Rineka Cipta. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar