ANALISIS
PERHITUNGAN METODE KONVENSIONAL DAN
METODE
ABC DALAM MENENTUKAN TARIF JASA BONGKAR MUAT INTERNASIONAL PADA TERMINAL PETI
KEMAS PT PELABUHAN
INDONESIA
III (PERSERO) SEMARANG
Faizal
Satria Desitama, Poniman, Rustono
Jurusan Administrasi Bisnis, Politeknik Negeri
Semarang
ABSTRACT
Calculation
of the cost of goods at first applied in manufacturing companies, but in its
development calculation of the cost of service has been adapted by the service
company, which is called the cost of services. The cost service have a very
important role in determining the price of services.If calculation the cost of
services is too low indeed will attract consumers, but led to the sale of
services can not cover the cost of production of services, and otherwise, if
the cost of services is too high, then the resulting selling price is too
expensive, it will result in product and services less attractive to consumers.
This study
aims to determine differences in rates Unloading International Container if
calculated by the conventional method and the Activity based costing system
method, The conventional method imposes a costs arising from rates
International loading unloading using the basic costs allocation of volume
services production. while the ABC method is a method of determining the cost
of using the activity and cost driver as a means to calculate the cost of
International loading unloading.
The
research result for Unloading unloading International Container FCL 20’ and
Container 20' using Conventional methods are respectively $ 80.68 and $ 60.69.
Whereas calculations using the ABC method has a tariff of $ 74.80 and $ 56.27,
while rates by the company is also around $ 80 and $ 60. The results Shows,
Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS) does not charge rates too far from the
cost, which means that although TPKS has been using its own method in
determining the service rates loading unloading of containers, but it already
covers the entire needs of the cost of loading unloading. However, by using the
ABC method, TPKS can appropriately plan budget in detail. ABC method can also
provide information of production costs that is more accurate and informative.
Key
Words : Conventional method, Activity based costing system (ABC) method, rates
of loading unloading International Container.
PENDAHULUAN
Perkembangan dunia usaha akhir – akhir ini mengalami
persaingan global yang sangat ketat, dimana perusahaan tidak hanya menghadapi
pesaing lokal tetapi juga pesaing internasional, hal ini telah menciptakan
perubahan dalam model dan praktek manajemen. Kondisi ini menjadikan manajer
yang bertanggungjawab untuk menentukan strategi perusahaan, sehingga manajer
sangat memerlukan informasi yang akurat sebagai landasan dalam mengambil
berbagai kebijaksanaan, terutama kebijaksanaan penentuan harga pokok produksi.
Perhitungan harga pokok pada awalnya diterapkan dalam perusahaan manufaktur,
akan tetapi dalam perkembangannya perhitungan harga pokok telah diadaptasi oleh
perusahaan jasa, perusahaan dagang, dan sektor nirlaba. Harga pokok mempunyai
peranan yang sangat penting dalam menentukan harga jual produk/jasa.
Penetapan biaya yang lebih tepat akan menghasilkan
harga pokok produksi / jasa yang lebih akurat. Oleh karena itu, perusahaan
harus benar-benar serius menangani harga pokok produksi / jasanya. Inilah yang
mendasari dikembangkannya metode Activity Based Costing System (ABC). Activity
Based Costing (ABC) telah menjadi ungkapan popular untuk mendeskripsikan
teknik-teknik baru dalam akuntansi manajemen.
Berdasarkan hasil survey dengan pihak manajemen
penetapan tarif yang di diterapkan di Terminal Petikemas Semarang berdasarkan
kesepakatan anggota Asosiasi INSA (Indonesia National Shipowners Association)
dan pihak manajemen TPKS dengan memperhatikan pendekatan Harga jual jasa /
pentarifan dari 2 (dua) pesaing utamanya, yaitu Terminal Petikemas Surabaya
(TPS) dan Jakarta Internasional Terminal Container (PT JITC).
Terminal Petikemas Semarang merupakan salah satu
cabang PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) yang memberikan pelayanan jasa
bongkar muat petikemas. Terminal petikemas semarang (TPKS) dalam melakukan
pentarifan, terdiri dari 3 segemen Usaha, yaitu, Bongkar / Muat baik
Internasional dan Domestik, Lapangan dan gudang / CFS (Container Freight
Station).
Berdasarkan hasil survey dengan pihak manajemen
penetapan tarif yang di diterapkan di Terminal Petikemas Semarang berdasarkan
kesepakatan anggota Asosiasi INSA (Indonesia National Shipowners Association)
dan pihak manajemen TPKS dengan memperhatikan pendekatan Harga jual jasa /
pentarifan dari 2 (dua) pesaing utamanya, yaitu Terminal Petikemas Surabaya
(TPS) dan Jakarta Internasional Terminal Container (PT JITC).
Batasan masalah dalam penelitian ini dipusatkan pada
perhitungan tarif jasa Bongkar / Muat (Loading – Discharging) FCL (Full
Container Load) Petikemas 20’ (dua puluh feet) dan tarif Petikemas kosong
(Empty Container) 20’ (dua puluh feet) tahun 2015. Produk jasa tersebut dipilih
karena jasa Bongkar / Muat (Loading – Discharging) FCL Petikemas 20’ dan
petikemas kosong 20’ merupakan produk jasa unggulan dan merupakan ukuran
standar dari petikemas. Ukuran standart petikemas dimulai dari panjang 20 feet,
maka 1 petikemas 20’ dinyatakan dalam 1 TEUS (Twenty Foot Equivalent Units) dan
petikemas 40’ dinyatakan dalam 2 TEUS.
Tujuan yang
ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
1.
Untuk mengetahui
besarnya tarif / harga jual jasa khusus bongkar/ muat (Loading - Discharging) internasional yang telah diterapkan saat ini
(tahun 2015 yang sudah berlaku sejak tahun 2013) berdasarkan pendekatan
penawaran harga pesaing, kemudian menghitungnya dengan metode konvensional dan Activity Based Costing (ABC).
2.
Untuk mengetahui adakah
perbedaan tarif / harga jual jasa khusus jasa bongkar /muat (Loading
Discharging) internasional yang telah diterapkan perusahaan saat ini
berdasarkan pendekatan penawaran harga pesaing, dengan perhitungan metode
konvensional dan perhitungan metode Activity Based Costing (ABC).
TINJAUAN PUSTAKA
Harga Jual
Krismiaji dan Anni (2011:326)
menyatakan harga jual adalah upaya untuk menyeimbangkan keinginan untuk
memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari perolehan pendapatan yang tinggi dan
penurunan volume penjualan jika harga jual yang dibebankan ke konsumen terlalu
mahal, sementara menurut Murti dan Soeprihanto (2007:281), harga adalah “jumlah
uang (ditambah beberapa produk kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk
mendapatakan sejumlah kombinasi dari barang beserta pelayananya”.
Menurut
mulyadi (2005), harga jual adalah “Besarnya harga yang akan dibebankan ke
konsumen yang diperoleh atau dihitung dari biaya produksi ditambah biaya
nonproduksi”, dan menurut Alimisyah dan padji (2003:301), “harga jual meliputi
biaya yang dikeluarkan untuk produksi dan distribusi, ditambah dengan laba yang
diinginkan”. Menurut Tjiptono (2007:151), “harga merupakan satuan moneter atau
ukuran lainnya (termasuk barang dan jasa lainnya) yang ditukarkan agar
memperoleh hak kepemilikan atau penggunaan suatu barang atau jasa”.
Krismiaji
& Aryani (2011:325) menyatakan bahwa pendekatan umum dalam penentuan harga
jual adalah menambahkan angka perkiraan laba (markup) pada harga pokok. Markup
adalah selisih antara harga jual dan harga pokok produk. Markup biasanya berupa
persentase tertentu dari harga pokok produk. Pendekatan ini disebut dengan
cost-plus pricing karena persentase markup yang telah ditentukan dimuka
ditambahkan pada angka harga pokok untun menentukan harga jual.
Harga Pokok Produksi
Harga
pokok produk menurut Putikadea (2011), menyatakan penjumlahan dari biaya yang
dibagikan ke produk untuk tujuan tertentu. Harga pokok produk merupakan salah
satu hal penting yang perlu di perhatikan oleh perusahaan baik perusahaan
manufaktur, perusahaan jasa maupun perusahaan dagang. Penetapan harga pokok
produk yang tepat akan memberikan
manfaat bagi perusahaan itu sendiri, sementara menurut Mulyadi (2009: 22)
menyatakan “istilah harga pokok juga digunakan untuk menunjukkan pengorbanan
sumber ekonomi dalam pengolahan bahan baku menjadi produk jadi”.
Sistem
Akuntansi Konvensional
Mengenai Metode konvensional /
Tradisional Kholmi dan Yuningsih (2004:27) menjelaskan bahwa sistem akuntansi
biaya tradisional hanya memusatkan pada ukuran output aktifitas yang didasarkan
pada volume produksi. Pendekatan tradisional mengasumsikan bahwa semua biaya
dapat diklasifikasikan sebagai biaya tetap dan variabel sesuai dengan perubahan
unit atau volume produk yang diproduksi. Sedangkan menurut Carter terjemahan
Krista (2009:532) menjelaskan bahwa sistem perhitungan biaya tradisional
ditandai oleh penggunaan ukuran yang berkaitan dengan volume atau ukuran
tingkat unit sebagai dasar untuk mengalokasikan overhead ke output. Oleh karena
itu, sistem tradisional juga disebut dengan sistem berbasis unit (unit-based
system).
Sistem
Penentuan Biaya Berdasarkan Aktivitas (ABC)
Hongren (2009: 101),
mendefinisikan ABC (Activity Based Costing) sebagai suatu sistem pendekatan
perhitungan biaya yang dilakukan berdasarkan aktivitas-aktivitas yang ada di
perusahaan. Sistem ini dilakukan dengan dasar pemikiran bahwa penyebab
timbulnya biaya adalah aktivitas yang dilakukan dalam suatu perusahaan,
sehingga wajar bila pengalokasian biaya-biaya tidak langsung dilakukan
berdasarkan aktivitas tersebut. Sedangkan menurut Blocher, et al (2011:222),
menyatakan bahwa fokus utama
Activity Based Costing adalah aktivitas. Sedangkan menurut Simamora (2012: 96
), sistem penentuan biaya pokok berbasis aktivitas (Activity Based Costing
system) ialah sistem akuntansi yang terfokus pada aktivitas-aktivitas yang
dilakukan untuk menghasilkan produk atau jasa.
Bongkar
/ Muat Internasional
Menurut sudjatmiko
(1997:384) bongkar muat adalah sesuatu pemindahan barang dari suatu tempat
ketempat lain, dan bisa juga dikatakn pembongkaran barang dari kapal ke dermaga
lalu kegudang dan juga sebaliknya dari gudang ke dermaga kemudian diangkat ke
kapal. penyediaan jasa bongkar muat adalah perusahaan yang melakukan kegiatan
bongkar muat ( stevedoring, cargodoring, dan receiving and delivery ).
Ruang Lingkup pentarifan
bongkar / muat (Loading – Discharging) yang hanya dikhususkan untuk kapal
internasional atau antarbangsa dengan menggunakan mata uang Dollar ($) Amerika
Serikat di PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) cabang Terminal Petikemas
Semarang kegiatannya meliputi :
1. Loading
: adalah aktifitas pergerakan Container dari Main Container yard (CY 01)/ lapangan
penumpukan 01 menuju dermaga ke kapal untuk dimuat.
2. Unloading/discharge
: adalah aktifitas pergerakan Container dari kapal menuju ke Main Container
yard (CY 01)/lapangan penumpukan 01 untuk di stack.
3. Lift
on : adalah pekerjaan mengangkat Container dari tempat penumpukan ke atas
chasis dengan menggunakan transtainer/top loader atau alat lain.
4. Lift
off : adalah pekerjaan mengangkat Container dari atas chasis ke tempat
penumpukan dengan menggunakan transtainer / top loader atau alat lain.
5. Trucking
/ haulage : adalah pekerjaan mengangkut petikemas dengan menggunakan chasis
dalam daerah kerja pelabuhan dari lambung kapal ke Main Container yard (CY 01)
/lapangan penumpukan 01 atau sebaliknya.
Kerangka
Pemikiran Teoritis

Sumber
: Terminal Petikemas Semarang (2015)
METODE PENELITIAN
Penelitian ini
dilaksanakan di PT PELINDO III (Persero) cabang Terminal Petikemas Semarang
(TPKS) yang terletak Jl. Coaster No. 10A Semarang Jawa Tengah, Indonesia.
Teknik
Pengumpulan Data
a. Wawancara
Menurut Dantes (2012:85)
“Wawancara ialah tanya jawab antara petugas dengan responden, biasanya petugas
membawa pertanyaan untuk diisi dengan keterangan yang diperoleh dengan
wawancara”.
b. Dokumentasi
Merupakan teknik
penelitian yang digunakan untuk memperoleh data informasi yang relevan dengan
cara pengumpulan data yang lalu yang ada dalam perusahaan (Suprapto, 1997:7).
c. Studi
Pustaka
Menurut Supardi
(2005:62) “Studi pustaka adalah kegiatan membaca, mencermati, mengenali dan
mengurai bahan bacaan (pustaka)”. Dalam metode ini, peneliti membaca, mengkaji
serta mempelajari buku-buku dari perpustakaan Politeknik Negeri Semarang, serta
buku-buku referensi dari sumber pustaka lain yang sesuai dengan materi Skripsi.
Jenis
Data
a.
Data Primer
Data primer
adalah data yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti dari sumber pertama
(Suliyanto, 2009: 131). Data ini
diperoleh dari hasil wawancara dengan pihak responden di PT Pelabuhan Indonesia
III (Persero) Cabang Terminal Petikemas Semarang (TPKS) hasil dari wawancara
ini berupa perhitungan Tarif jasa bongkar muat internasional, daftar aktivitas
yang berkaitan dengan perhitungan Tarif bongkar muat internasional, rata – rata
gaji Operator CC dan Operator RTG, rata – rata gaji Planner, rata – rata gaji
Foreman kapal pada PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) Cabang Terminal
Petikemas Semarang (TPKS).
b.
Data Sekunder
Data Sekunder
yaitu data yang diperoleh dari perusahaan dalam bentuk dokumentasi seperti
sejarah berdirinya perusahaan, struktur organisasi, kegiatan perusahaan, data
arus petikemas Internasional dan domestik Tahun 2014 / 2015, data biaya gaji
tally kapal, tally lapangan, foreman, data pemeliharaan CC, Head Truck, RTG,
Main CY (CY 01), data Konsumsi Listrik pada CC, data konsumsi energi BBM pada
RTG dan Head Truck dan data kelengkapan lainnya.
Teknis
Analisis
Teknik Analisis yang digunakan dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui
penetapan tarif yang berlaku di perusahaan saat ini (Tahun 2015) yang sudah
berlaku sejak tahun 2013.
2. Melakukan
perhitungan Tarif dengan sistem Konvensional.
3. Melakukan
perhitungan Tarif dengan Metode Activity Based Costing.
4. Melakukan
perbandingan antara perhitungan Tarif yang berlaku di perusahaan saat ini,
dengan perhitungan sistem Konvensional dan perhitungan Metode Activity Based
Costing.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Perhitungan
Metode Konvensional
Total Biaya Bongkar
Muat Periode Juli 2014 sampai Juni 2015 dijelaskan dalam
tabel 1.
Tabel 1
Total Biaya Bongkar / Muat Periode
Juli 2014 s/d Juni 2015 Metode Konvensional
|
No
|
Jenis Biaya
|
Total
|
|
1
|
Biaya Planner
|
Rp1.064.756.675
|
|
2
|
Biaya Handling CC
|
Rp 43.032.381.697
|
|
3
|
Biaya Haulage
|
Rp 26.400.573.920
|
|
4
|
Biaya LOLO
|
Rp 48.806.657.162
|
|
5
|
Biaya Tally
|
Rp 537.304.500
|
|
6
|
Biaya Foreman Kapal
|
Rp 1.248.000.000
|
|
7
|
Biaya CY 01
|
Rp102.151.780,23
|
|
8
|
Biaya Lain - lain
|
Rp 47.841.736.086
|
|
Jumlah
|
Rp169.033.561.820,23
|
|
Sumber : Data sekunder diolah, Juli 2014
s/d Juni 2015
Biaya
Bongkar / Muat Khusus Petikemas 20’ Metode Konvensional.
Biaya bongkar / muat
khusus petikemas 20’ periode Juli 2014 s/d Juni 2015 diketahui dengan cara
mengkalikan total biaya bongkar / muat periode Juli 2014 s/d Juni 2015 dengan
perbandingan rasio produksi petikemas Internasional 20’ periode Juli 2014 s/d
Juni 2015 (baik Petikemas FCL dan Empty) dan total produksi petikemas periode
Juli 2014 s/d Juni 2015, atau dapat ditulis formulasi sebagai berikut :
=Rp169.033.561.820,23×
= Rp169.033.561.820,23×
0,36317
= Rp 61.389.055.704,62
Penentuan Harga
Pokok Jasa Metode Konvensional
Penentuan Harga Pokok Jasa Bongkar
/ Muat Internasional Petikemas FCL 20’ dan Petikemas Empty 20’ metode
konvensional adalah dengan membagi total biaya khusus Bongkar /Muat
Internasional periode Juli 2014 s/d Juni 2015 dibagi dengan satu unit cost
driver, yaitu jumlah produksi Bongkar Muat Internasional periode Juli 2014 s/d
Juni 2015 :
=

= Rp 453.387,02 tiap
petikemas
Perhitungan metode Konvensional
baik harga pokok jasa bongkar / muat Internasional petikemas FCL 20’ dan Empty
20’ sama dikarenakan tingkat konsumsi biaya yang sama, dan perhitungan metode
konvensional hanya menggunakan satu unit cost driver saja.
Penentuan Tarif
Metode Konvensional
Tarif Petikemas FCL 20’ = Harga Pokok Jasa + mark up 126%
= Rp453.387,02 + (Rp453.387,02 × 126%)
= Rp453.387,02 + (Rp571.267,64)
= Rp1.024.654,66
Tarif Petikemas FCL 20’ dalam Dollar Amerika Serikat ($),
= 
= $ 80,68
Tarif Petikemas Empty 20’ = Harga Pokok Jasa + mark up 70%
= Rp453.387,02 + (Rp453.387,02 × 70%)
= Rp453.387,02 + (Rp317.370,91)
= Rp770.757,93
Tarif Petikemas Empty 20’ dalam Dollar Amerika Serikat ($),
= 
= $ 60,69
Penentuan tarif jasa
metode Konvensional dapat dijelaskan dalam tabel 2
Tabel
2
Tarif Bongkar Muat
Internasional Metode Konvensional
|
Petikemas FCL 20’
|
Petikemas Empty 20’
|
|
$ 80,68
|
$ 60,69
|
Perhitungan
Tarif Metode Activity Based Costing (ABC)
Perhitungan Tarif jasa bongkar /
muat Internasional dengan metode activity
based costing system dilakukan dengan langkah – langkah sebagai berikut:
1. Pengidentifikasian
aktivitas
Aktivitas – aktivitas yang ada pada pelayanan jasa Bongkar muat Internasional di Terminal Petikemas
Semarang (TPKS) Dijelaskan dalam tabel 3.
Tabel
3
Identifikasi
Aktivitas
|
No
|
AKTIVITAS
|
|
1
|
Aktivitas Admin
|
|
2
|
Aktivitas
Handing CC
|
|
3
|
Aktivitas
Pemeliharaan CC
|
|
4
|
Aktivitas Haulage
|
|
5
|
Aktivitas
Pemeliharaan HT
|
|
6
|
Aktivitas Lift
On dan Lift Off
|
|
7
|
Aktivitas
Pemeliharaan RTG
|
|
8
|
Aktivitas
Pemeliharaan CY 01
|
|
9
|
Aktivitas Penunjang Lainnya
|
Sumber : Terminal Petikemas Semarang, 2015
2. Pembebanan
Biaya dari aktivitas – aktivitas dan penentuan Cost Driver.
Tabel
4
Pembebanan Biaya
dan Penentuan Cost Driver
|
Aktivitas
|
Jenis Biaya
|
Jumlah Biaya
|
Cost Driver
|
|
Aktivitas Admin.
|
Biaya Gaji Planner
|
Rp 1.008.000.000
|
Jumlah Produksi dalam 1 tahun
|
|
Biaya Penyusutan Fasilitas Ruang Planner
|
Rp 19.701.875
|
Jumlah Produksi dalam 1 tahun
|
|
|
Biaya Konsumsi Listrik Planner
|
Rp37.054.800
|
Jumlah Produksi dalam 1 tahun
|
|
|
Aktivitas Handling CC
|
Biaya Gaji Operator CC
|
Rp 5.184.000.000
|
Jumlah Produksi dalam 1 tahun
|
|
Biaya Konsumsi Listrik CC
|
Rp 2.333.464.272
|
Jam Kerja Mesin CC
|
|
|
Biaya Penyusutan Fasilitas Ruang Operator CC
|
Rp 2.037.500
|
Jumlah Produksi dalam 1 tahun
|
|
|
Biaya Gaji Tally
|
Rp534.492.000
|
Jumlah Produksi dalam 1 tahun
|
|
|
Biaya Penyusutan Fasilitas ruang Tally
|
Rp2.812.500
|
Jumlah Produksi dalam 1 tahun
|
|
|
Biaya Gaji Foremen Kapal
|
Rp1.248.000.000
|
Jumlah Produksi dalam 1 tahun
|
|
|
Aktivitas Pemeliharaan CC
|
Biaya Pemeliharaan CC
|
Rp 4.356.629.925
|
Jam Kerja Mesin CC
|
|
Biaya Penyusutan Alat CC
|
Rp 31.156.250.000
|
Jam Kerja Mesin CC
|
|
|
Aktivitas Haulage
|
Biaya Gaji Operator HT
|
Rp3.454.755.420
|
Jumlah Produksi dalam 1 tahun
|
|
Biaya Konsumsi BBM
|
Rp 8.098.837.500
|
Jam Kerja Mesin HT
|
|
|
Aktivitas Pemeliharaan HT
|
Biaya Pemeliharaan HT
|
Rp9.690.731.000
|
Jam Kerja Mesin HT
|
|
Biaya Penyusutan alat HT
|
Rp 5.156.250.000
|
Jam Kerja Mesin HT
|
|
|
Aktivitas LOLO
|
Biaya Operator RTG
|
Rp6.336.000.000
|
Jumlah Produksi dalam 1 tahun
|
|
Biaya Konsumsi BBM
|
Rp14.826.962.500
|
Jam Kerja Mesin RTG
|
|
|
Biaya Penyusutan Fasilitas Ruang Operator RTG
|
Rp2.870.000
|
Jumlah Produksi dalam 1 tahun
|
|
|
Aktivitas Pemeliharaan RTG
|
Biaya Pemeliharaan RTG
|
Rp5.503.324.662
|
Jam Kerja Mesin RTG
|
|
Biaya Penyusutan alat RTG
|
Rp 22.137.500.000
|
Jam Kerja Mesin RTG
|
|
|
Aktivitas Pemeliharaan CY 1
|
Biaya Pemeliharaan CY 01
|
Rp 99.651.780,23
|
Jumlah Produksi dalam 1 tahun
|
|
Biaya Penyusutan Fasilitas Inventaris CY 01
|
Rp2.500.000
|
Jumlah Produksi dalam 1 tahun
|
|
|
Aktivitas lain - lain
|
Biaya Lain - lain
|
Rp 47.841.736.086
|
Jumlah Produksi dalam 1 tahun
|
Sumber
: Terminal Petikemas Semarang, 2014 / 2015
3. Alokasi Perhitungan Metode ABC
Pengalokasian Pemicu Biaya
dari setiap Jenis Petikemas Internasional dapat dijelaskan dalam tabel 5.
Tabel
5
Pengalokasian Ukuran Pemicu
Biaya Bongkar / Muat Petikemas Internasional Metode ABC
|
Jenis Peti Kemas
|
Jenis Pemicu Biaya
|
||||
|
Jumlah Produksi (Box)
|
Jam Kerja CC (Jam)
|
Jam Kerja HT (Jam)
|
Jam Kerja RTG (Jam)
|
||
|
FCL
|
20’
|
111887
|
5901,21
|
44399,60
|
13830,28
|
|
40’
|
192019
|
10127,58
|
76198,02
|
23735,35
|
|
|
45’
|
1980
|
104,43
|
785,71
|
244,75
|
|
|
EMPT Y
|
20’
|
23514
|
1240,19
|
9330,95
|
2906,55
|
|
40’
|
26259
|
1384,97
|
10420,24
|
3245,86
|
|
|
45’
|
791
|
41,72
|
313,89
|
97,78
|
|
|
Total
|
356450
|
18800,10
|
44060,57
|
141448,41
|
|
Sumber : Terminal
Petikemas Semarang, 2014 / 2015
4. Penentuan Tarif Kelompok
Penentuan Tarif Kelompok / Cost Pool dengan cara membagi total
biaya kelompok aktivitas dibagi dengan pemicu biaya yang sama. Tarif kelompok
dapat dijelaskan dalam tabel 6.
Tabel
6
Penentuan Tarif
Kelompok dengan metode ABC
|
Cost Pool I
|
|
|
Biaya Gaji Planner
|
Rp 1.008.000.000
|
|
Biaya Penyusutan Fasilitas Ruang Planner
|
Rp 19.701.875
|
|
Biaya Konsumsi Listrik Planner
|
Rp 37.054.800
|
|
Biaya Gaji Operator CC
|
Rp 5.184.000.000
|
|
Biaya Penyusutan Fasilitas Ruang Operator CC
|
Rp 2.037.500
|
|
Biaya Gaji Tally
|
Rp534.492.000
|
|
Biaya Gaji Foremen Kapal
|
Rp1.248.000.000
|
|
Biaya Penyusutan Fasilitas ruang Tally
|
Rp2.812.500
|
|
Biaya Gaji Operator HT
|
Rp3.454.755.420
|
|
Biaya Gaji Operator RTG
|
Rp6.336.000.000.
|
|
Biaya Penyusutan Fasilitas Ruang Operator RTG
|
Rp2.870.000.
|
|
Biaya Pemeliharaan CY 1
|
Rp 99.651.780,23
|
|
Biaya Penyusutan Fasilitas Inventaris CY 01
|
Rp 2.500.000
|
|
Biaya Lain - lain
|
Rp 47.841.736.086
|
|
Total Biaya
|
Rp65.773.611.961,23
|
|
Jumlah Produksi (Box Petikemas)
|
372.824 Box
|
|
Pool Rate I (Total Biaya : Jumlah Produksi)
|
Rp 176.420,01
|
|
Cost Pool II
|
|
|
Biaya Konsumsi
Listrik CC
|
Rp
2.333.464.272
|
|
Biaya
Pemeliharaan CC
|
Rp
4.356.629.925
|
|
Biaya
Penyusutan Alat CC
|
Rp
31.156.250.000
|
|
Total Biaya
|
Rp37.846.344.197
|
|
Jumlah Jam Kerja Alat CC (Jam)
|
18.742 Jam
|
|
Pool Rate II (Total Biaya : Jumlah Jam Kerja Alat CC)
|
Rp 2.019.333,27
|
|
Cost Pool III
|
|
|
Biaya Konsumsi
BBM HT
|
Rp8.098.837.500.
|
|
Biaya
Pemeliharaan HT
|
Rp9.690.731.000.
|
|
Biaya
Penyusutan alat HT
|
Rp
5.156.250.000.
|
|
Total Biaya
|
Rp22.945.818.500
|
|
Jumlah Jam Kerja Alat Head Truck
(Jam)
|
153.477 Jam
|
|
Pool Rate III (Total Biaya : Jumlah Jam Kerja Alat HT)
|
Rp 149.506,56
|
|
Cost Poll IV
|
|
|
Biaya Konsumsi
BBM RTG
|
Rp
14.826.962.500.
|
|
Biaya
Pemeliharaan RTG
|
Rp
5.503.324.662.
|
|
Biaya
Penyusutan Alat RTG
|
Rp
22.137.500.000
|
|
Total Biaya
|
Rp 42.467.787.162
|
|
Jumlah Jam Kerja Alat RTG (Jam)
|
67.209 Jam
|
|
Pool Rate IV (Total Biaya : Jumlah Jam Kerja Alat RTG)
|
Rp631.876,49
|
Sumber : Terminal Petikemas Semarang, 2014 / 2015
5. Pembebanan Biaya ke Produk.
Membebankan biaya ke produk dengan cara mengkalikan tarif masing –
masing Cost Pool dengan Ukuran Pemicu Biaya, pembebanan biaya ke produk
dijelaskan pada tabel di bawah :
a. Petikemas
FCL 20’
Pembebanan biaya ke produk
jasa Petikemas FCL 20’ dijelaskan dalam tabel 7.
Tabel
7
Pembebanan
Biaya ke Produk Metode ABC 1
|
Petikemas FCL 20’
|
|||
|
Pool Rate
|
Jumlah (A)
|
Alokasi (B)
|
Jumlah (A×B)
|
|
Pool Rate I
|
Rp 176.420,01
|
111.887
|
Rp19.739.105.658,87
|
|
Pool Rate II
|
Rp 2.019.333,27
|
5.901,21
|
Rp 11.916.509.686,26
|
|
Pool Rate III
|
Rp 149.506,56
|
44.399,60
|
Rp 6.638.031.461,38
|
|
Pool Rate IV
|
Rp 631.876,49
|
13.830,28
|
Rp 8.739.028.782,12
|
|
Total Biaya B/M internasional Petikemas FCL 20’
periode juli 2014 s/d juni 2015
|
Rp 47.032.675.588,62
|
||
|
Jumlah Petikemas yang diproduksi (box)
|
111.887
|
||
|
Harga Pokok Produk Jasa (HPP) B/M Petikemas FCL 20’
periode juli 2014 s/d juni 2015 Per Box
|
Rp 420.358,72
|
||
Sumber : Terminal Petikemas Semarang, 2014 / 2015
b. Petikemas
Empty 20’
Pembebanan biaya ke produk
jasa Petikemas FCL 20’ dijelaskan dalam tabel 8.
Tabel
8
Pembebanan
Biaya ke Produk Metode ABC 1
|
Petikemas Empty 20’
|
|||
|
Pool Rate
|
Jumlah (A)
|
Alokasi (B)
|
Jumlah (A×B)
|
|
Pool Rate I
|
Rp 176.420,01
|
23.514
|
Rp 4.148.340.115,14
|
|
Pool Rate II
|
Rp 2.019.333,27
|
1.240,19
|
Rp 2.504.356.928,12
|
|
Pool Rate III
|
Rp 149.506,56
|
9.330,95
|
Rp 1.395.038.236,03
|
|
Pool Rate IV
|
Rp 631.876,49
|
2.906,55
|
Rp 1.836.580.612,01
|
|
Total Biaya B/M internasional Petikemas Empty 20’
periode juli 2014 s/d juni 2015
|
Rp 9.884.315.891,30
|
||
|
Jumlah Petikemas yang diproduksi (box)
|
23.514
|
||
|
Harga Pokok Produk Jasa (HPP) B/M Petikemas Empty
20’ periode juli 2014 s/d juni 2015 Per Box
|
Rp 420.358,76
|
||
Sumber : Terminal
Petikemas Semarang, 2014 / 2015
6. Perhitungan
Tarif Petikemas dan Penentuan Mark up Metode ABC
Petikemas
FCL 20’ = HPP Jasa petikemas + Mark up 126%
=
Rp 420.358,72 + (Rp 420.358,72 × 126%)
=
Rp 420.358,72 + Rp 529.651,98
=
Rp 950.010,70
Tarif
Petikemas dalam Dollar Amerika Serikat (AS),
=
=

=
$ 74,80
Petikemas
Empty 20’ = HPP Jasa petikemas + Mark up 70%
=
Rp 420.358,76 + ((Rp 420.358,76 ×
70%)
= Rp 420.358,76 + Rp 294.251,13
= Rp 714.609,89
Tarif
Petikemas dalam Dollar Amerika Serikat (AS),
=

=

=
$ 56,27
Perhitungan Tarif metode ABC di atas dapat disajikan dengan tabel 9.
Tabel
9
Tarif
Petikemas Metode ABC
|
Petikemas FCL 20’
|
Petikemas Empty 20’
|
|
$ 74,80
|
$ 56,27
|
Perbandingan Penetapan Tarif
Jasa Bongkar / Muat sistem Penentuan Tarif oleh Perusahaan, Metode Konvensional
dan Metode Activity Base Costing.
Perbandingan Penentuan
ke tiga Tarif, Tarif Oleh Perusahaan, Perhitungan metode Konvensional dan
Metode ABC dijelaskan dalam tarif sebagaimana Tabel 10.
Tabel
10
Perbandingan Penetapan Tarif
Ketiga Metode
|
Jenis Petikemas
|
Metode Penetapan Tarif B/M Internasional
|
||
|
Perusahaan
|
Konvensional
|
ABC
|
|
|
FCL 20’
|
$ 80
|
$ 80,68
|
$ 74,80
|
|
Empty 20’
|
$ 60
|
$ 60,69
|
$ 56,27
|
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan hasil penelitian,
maka dapat diambil beberapa kesimpulan :
1.
Penetapan
tarif oleh PT Pelindo III (Persero) cabang TPKS untuk jasa bongkar atau muat
Internasional “Petikemas FCL 20 feet” sebesar $ 80 dan “Petikemas Empty 20
feet” $ 60
2.
Hasil
perhitungan tarif Metode Konvensional untuk produk jasa bongkar atau muat
internasional “Petikemas FCL 20 feet” sebesar $ 80,68 dan “petikemas Empty 20
feet” sebesar $ 60,69.
3.
Hasil
perhitungan tarif Metode ABC untuk produk jasa bongkar atau muat internasional
“Petikemas FCL 20 feet” sebesar $ 74,80 dan “petikemas Empty 20 feet” sebesar $
56,27.
4.
Hasil
Penetapan tarif oleh PT Pelindo III (Persero) cabang TPKS dibandingkan dengan
metode Konvensional, maka metode konvensional memberikan hasil yang lebih besar
untuk kedua jenis jasa Petikemas, dengan selisih untuk produk jasa bongkar atau
muat internasional “Petikemas FCL 20 feet” sebesar $ 0,68 dan untuk produk jasa
“petikemas Empty 20 feet” dengan selisih $ 0,69.
5.
Hasil
Penetapan tarif oleh PT Pelindo III (Persero) cabang TPKS dibandingkan dengan
metode Activity Based Costing system, maka metode Activity Based Costing system
memberikan hasil yang lebih kecil untuk kedua jenis petikemas, dengan selisih
untuk produk jasa bongkar atau muat internasional “Petikemas FCL 20 feet”
sebesar $ 5,20 dan untuk produk jasa “petikemas Empty 20 feet” dengan selisih $
3,73.
6.
Dari
hasil perhitungan Tarif metode konvensional dibandingkan dengan metode Activity
Based Costing system maka metode Activity Based Costing system memberikan hasil
yang lebih kecil untuk kedua produk jasa. Dengan selisih untuk jasa bongkar
atau muat internasional “petikemas FCL 20 feet” sebesar $ 5,88 dan “petikemas
empty 20 feet” sebesar $ 4,42. Perbedaan yang terjadi antara perhitungan tarif
secara konvensional dengan metode Activity Based Costing system, disebabkan
karena adanya distorsi dari pembebanan biaya Bongkar atau Muat secara
konvensional yang dialokasikan atas dasar satu unit cost driver saja, yaitu
jumlah produksi jasa petikemas, sedangkan TPKS memiliki perbedaan aktivitas
dalam produksi jasa yang alokasi biayanya tidak hanya didasarkan pada ukuran
jumlah produksi jasa petikemas saja. Sehingga dalam metode Activity Based
Costing system telah mampu mengalokasikan kelompok biaya aktivitas ke setiap
Petikemas secara tepat.
7.
Perhitungan
tarif menggunakan metode Activity Based Costing system menghasilkan tarif atau
harga jual jasa yang lebih akurat dibandingkan dengan penetapan tarif oleh
Terminal Petikemas Semarang (TPKS) dengan memperhatikan pendekatan tarif
pesaing, dan perhitungan tarif secara konvensional. Karena biaya pelayanan jasa
bongkar atau muat Internasional pada masing – masing petikemas dibebankan pada
banyak pemicu biaya / cost driver, sehingga pembebanan biaya ke setiap produk
jasa tepat sesuai konsumsi masing – masing kelompok aktivitasnya. Hasil
perhitungan tarif menggunakan metode Activity Based Costing system lebih kecil
jika dibandingkan dengan penetapan tarif oleh perusahaan dan perhitungan secara
konvensional. Tarif atau harga jual jasa yang lebih murah tetapi tanpa mengurangi
laba yang diinginkan oleh Perusahaan, akan membuat pengguna jasa setia terhadap
produk jasa yang ditawarkan oleh Terminal Petikemas Semarang (TPKS), dan
menjadi bahan perhitungan bagi pengguna jasa lain yang belum menggunakan jasa
dari Terminal Petikemas Semarang (TPKS) agar menggunakan jasa yang telah
ditawarkan oleh Terminal Petikemas Semarang (TPKS).
SARAN
Berdasarkan
penelitian yang dilakukan pada PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) cabang
Terminal Petikemas Semarang (TPKS), sebaiknya perusahaan menerapkan metode
activity based costing system dalam perhitungan tarif atau harga jual jasanya,
walaupun selama ini Terminal Petikemas Semarang menggunakan metodenya sendiri
dalam menentukan tarif bongkar / muat petikemas, namun hal tersebut sudah
mencakup keseluruhan kebutuhan biaya bongkar / muat. Hanya saja, dengan
menggunakan metode Activity Based Costing system, Terminal Petikemas Semarang
dapat merencanakan anggaran secara tepat, terperinci, dan terprogram. Metode
activity based costing system juga dapat memberikan Informasi biaya produksi
jasa yang lebih akurat dan informatif. Tingkat akurasi ini sangat penting bagi
perusahaan dalam menetapkan keputusan yang berkaitan dengan manajemen
perusahaan khususnya pentarifan atau penetapan harga jual jasanya. Selain itu,
Jika menerapkan metode Activity Based Costing system dalam penentuan tarifnya,
Terminal Petikemas Semarang akan memperoleh keuntungan dalam jangka panjang,
yaitu dengan menetapkan harga jual jasa yang lebih murah maka TPKS dapat
memperbesar pangsa pasar, dan akan lebih beratahan dalam menghadapi persaingan
yang semakin sempurna.
DAFTAR PUSTAKA
Aliminsyah dan
Padji, 2003. Kamus Istilah Keuangan dan Perbankan, Bana Widya, Bandung.
Blocher,
Edward J., Stout, David E., Cokins,
Gary. 2011. Manajemen Biaya (Penekanan
Strategis). Salemba Empat. Jakarta.
Carter,
William K. 2009. Akuntansi Biaya. Edisi 14. Salemba Empat. Jakarta.
Harnanto.
1992. Akuntansi Biaya dan Untuk Perhitungan Harga Pokok Produk. Penerbit dan
Percetakan BPFE: Yogyakarta.
Horngren,
Charles T., Harrison, Wallter T. 2008. Acounting. Pearson Prentice Hall.
Jakarta.
----------------------------.2009.Pengantar
Akuntansi Manajemen. Edisi 7. Erlangga. Jakarta.
Kholmi, Masiyah,
dan Yuningsih. 2004. Akuntansi Biaya. Malang: UMM Press.
Krismiaji.
2002. Dasar – Dasar Akuntansi Manajemen. Edisi 1. UPP STIM YKPN, Yogyakarta.
-----------, Y
Anni Aryani. 2011. Akuntansi Manajemen. Edisi 2. UPP STIM YKPN, Yogyakarta.
Mulyadi. 2005.”Akuntansi
Biaya“. Edisi ke-5 Cetakan ke-8 Aditya Media.Yogyakarta.
-----------.
2009. Akuntansi Biaya. Penerbit Aditya Media. Yogyakarta.
Putikadea.
2011. Penentuan harga pokok penjualan kamar “deluxe”dengan menggunakan metode
Activity Based Costing pada resort G-Land Joyo Camp tahun 2010. Skripsi.
Universitas Negeri Surabaya. Surabaya.
Rudianto.
2006. Akuntansi Manajemen. PT. Grasindo. Jakarta.
Simamora,
Henry. 2012. Akuntansi Manajemen. Edisi ke-3. Star Gate Publisher. Riau.
Soemarso S.R .
2007. Akuntansi Suatu Pengantar .Jilid 1.Rineka Cipta. Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar